Welcome to the journey!

Kamis, 20 Maret 2014

Ada anjing menggongong? Disayang aja :)

Heyhoo! I'm comeback! Sorry, gua agak menggila. Mungkin tulisan kali ini agak beda karna pake bahasa 'alay'. Cuma mau perjelas, kalo masalah serius pake bahasa yan serius, tapi kalo masalah sehari-hari ya santai aja. Oek, kembali ke topik kita. Kali ini, gua ngambi judul : "Ada anjing menggonggog? Disayang aja :)". Heh? Bukannya yang bener "Ada anjing menggonggong, khalifah berlalu? Ini penulisnya yang bego apa mata yang baca yang rusak. Kagak dua-duanya sob. Yah, mungkin kalian udah banget sering denger peribahas itu. Di TV atau di koran. Yah, pasti lu udah gak asing dengan peribahasa itu. Terus kenapa yang nulis ni blog berani ubah? Minta digebuk? Kagak, gaua disini cuma mencari pembenaran diri aje. Oke, kembali ke laptop. Nah, kita pasti udah tau dong arti dari pribahasa itu. Atau perlu dijelasin lagi? Okelah gua jelasin. Oke, peribahasa itu mengibaratkan tentang usaha keras kita. Anjing menggonggong mengibaratkan orang-orang yang istilahnya 'memprotes' kita. Dan khalifah ada usaha kita. Jadi, ketika ada orang yang cuma protes kerjaan lu, yang lu lakuin cuma jalanin aja tanpa perduli dengan 'protes' itu. So, apa yang dipermasalahin? Gua agak gak setuju dengan pribahasa itu. Mana yang mau gebuk gua? Oke, lanjutkan. Bagian mana yng gua kurang setuju? Nah, gua kurang setuju bagian 'khalifah berlalu'. Nah loh, mungkin orang tanya kenapa harus bagian itu? Mungkin kalo orang lain pasti mikirnya yang anjing menggonggong. Nah, disini yang gua mau lurusin. Klao menurut gua, kita perlu 'anjing menggonggong'. Kenapa? 'Anjing menggonggong' kan haters atau orang benci kita? Kenapa kita harus butuh itu? Oke, kalo menurut gua, kalo kita mau maju, kita butuh haters. Orang pasti butuh haters. Kalo gua rasa sih haters kayak kebutuhan. Gua yakin gua punya hater dan gak akan gua omongin. Nah, kita kita kembali ke awal saat gua gak setuju sama 'khalifah berlalu'. Kalo kita menjadi 'khalifah berlalu', berarti kita terima mentah-mentah kicauan hater kita dan kita buang ke laut. Wakks, terus kapan majunya kalo gitu. Makanya, kita kembali ke judul pos kita. Gimana kalo kita sayang aja 'anjing menggonggong'nya. Gimana caranya? Anjing lagi gonggong lu sayang ya lu digigit lah? Emang bener pasti kita bakal digigit. Tapi, gak mungkin kan dia bakal gigit kita terus. Pasti ada masanya dia bakal minta kita ngelus dia (eh jangan salah faham, maksudnya anjingnya). Kita butuh 'kicauan' hater kita. Tapi, setelah kita dapet kicauan itu, kita olah kicauan itu. Apa bener itu ada pada diri kita? Atau cuma bohongan doang? Kalo bener emang ada pada diri kita, cepet-cepet deh intropeksi diri. Kalo emang bo'ongan, telen aja. Gak usah balik marahin. Inget, kalo anjing menggonggong kita gonggong balik, malah gonggongannya kan tambah besar sob. Tapi, satu hal aja yang lu harus inget. Hater adalah orang yang pengen kayak kita. Kicauan dia adalah bentuk keirian dia sama lu. So, anggap aja hater adalah orang yang bakal jadi penonton kesuksesan kita. Karna itu, jangan cuma kita berlalu tanpa dengerin gonggongan itu, tapi dengerin gonggonganya dan kalo bisa sayang anjingnya. Oke kawan, mungkin cukup sekian. Sorry kalo pos kali ini kepanjangan. Salam sugoi dari gue. Sampai jumpa di pos berikutnya!

Minggu, 16 Maret 2014

Pemilu: Boros APBN + Bikin Rusuh

Selamat malam, pemikir muda! Malam ini, saya ingin membicarakan tentang masalah pemilu yang akan segera dilangsukan di Indonesia. Pemilu di Indonesia dilakukan dalam kurun waktu 4 tahun sekali. Sejak tahun 2004, Pemilu diadakan pada setiap 9 April dan juga pemilihan presiden juga dilakukan pertama kali pada tahun 2004. Tapi, saya hanya akan membicarakan tentang pemilihan legislatif.Mungkin, yang hanya kita tahu tentang pemilihan legislatif adalah pemilihan wakil rakyat. Wakil rakyat? Mungkin saya lebih menyukai istilah 'wakil partai'. Bagaimana tidak? Dari kenyataan sebelum dan setelah pemilu, sangatlah berbeda. Sebelum pemilu, mereka berlomba-lomba memberi 'bukti' dan meyakinkan masyarakat untuk memilih mereka.Tetapi, setelah terpilih, yang perjuangkan hanya 'suara partai'. Sangat lucu memang, tapi itulah kenyataan dari pemilu di Indonesia. Selain itu juga, masalah yang terjadi adalah tentang keanggotaan DPR. Dari fakta yang beredar bahwa hampir 90% anggota DPR periode 2009-2014, mengikuti lagi pemilu legislatif 2014. Fakta yang mencengangkan sesungguhnya. Kita bisa lihat kinerja anggota DPR sekarang. Jika hampir seluruh anggota DPR sekarang terpilih lagi, hanya wajah-wajah lama yang akan mewakili 'suara' kita lagi. Tak bisa dibayangkan bagaimana kinerja DPR lagi ke depannya. Sungguh lucu negeri ini. Hal-hal percuma seperti ini juga membuat pengeluaran yang sia-sia bagi APBN. Biaya yang dikeluarkan sangat banyak hanya untuk memilih orang yang sama. Bukankah lebih baik tidak usah mengadakan pemilu legislatif  agar tidak membuang-buang APBN? Ingin tertawa rasanya jika memikirkannya lagi. Mungkin, itulah kenyataan negeri kita dimana 'suara rakyat' tergantikan oleh 'suara partai'. Sekian dari saya hari ini. Tunggu pos saya 2 hari lagi. Konbawa!

Abou the WRITER

Dalam pos kali ini, saya akan perkenalkan tentang diri saya. Mungkin agak telat, tapi apa salahnya. Nama saya Giras Refindasasti. Saya lahir di Manokwari, Papua Barat pada 15 Agustus 1998. Yah mungkin saya lahir di Papua tapi saya bukan orang Papua. Saya asli orang Madiun. Bapak & ibu plek orang Madiun. Tapi, tetep aja, kalo di madiun gak diakui orang madiun. Di papua juga gak diakui orang papua. Jadi, ane ni orang serba salah. Saya ini hasil perbuatan Pak Karyoto dan Bu Yatmini. Tapi hasil perbuatannya ini jadi tanggung jawab mereka tentunya. Saya juga urutan keempat sekaligus terakhir dalam trah Pak Karyoto. Kakak paling sulung, Ifan, sekarang jadi fotografer buat Getty Image dan Greenpeace. Sumpah keren cuk! Tapi, ya itu, kakak yang satu ini paling suka omelin gua. lalu di urutan dua ada Afif. Sama, tukang ngomel sama semua sodaranya. Kayak kembaran ibu gua aja. Sekarang sih kerjanya jadi apoteker gitu. Dan diatas gua, Ayik. Yang satu ini paling deket sama ane. Karana mungkin yang umurnya paling deket sama ane. Dia sih sukanya K-pop gak jelas dan lagu Indonesia lawas. Kalo dia sih belom kerja tapi lagi ambil apoteker. Udah cukup tentang keluarga, sekarang kembali ke laptop. Hobi ane sendiri yaitu membaca, denger musik, juga nonton anime. Yah gua udah anggap anime sebagai tontonan wajib tiap hari karna tontonan Indonesia yang udah gak mutu. Dan juga gua Japan addict, tapi tetap Indonesia di paru-paru(eh dihati maksudnya). Cinta gua terhadap Indonesia disalurkan melalui minat saya terhadap politik. Politik bagi saya seperti sebuah permainan tapi pake pertaruhan nyawa. Karna itu, dunia politik itu seru karna banyak drama di dalamnya tapi gak se jijik sinetron. Tapi, impian gua bukan jadi anggota legislatif maupun orang pemerintahan, namun jadi dokter. Impian ini udah lama gua tetapkan setelah labil pindah-pindah impian. Ada satu hal yang mendorong ane jadi dokter. Di tanah kelahiran gua, Manokwari, jadi orang sakit tu susah apalagi kalo parah. Yah karna tenaga medis dan alat yang belom memadai. Jadi, kalo sakit hanya ada dua pilihan, dibawa ke Jawa atau pilih merenggut nyawa di Manokwari. Agak miris memang tapi emang gitu keadaannya. Saya ingin jadi salah satu perubah bangsa ini, walaupun itu dampaknya hanya kecil. Tetapi, itu udah cukup buat ngebantu bangsa ini bebas dari para penjajah tak terlihat. Mungkin itu uraian singkat tentang diri saya. Maaf gua agak labil karena nyampur antara bahasa baku dan bahasa alay. Selamat siang semua!