Welcome to the journey!

Minggu, 11 Mei 2014

Selalu Bersemangat, Kakak-Kakak Padakacarma!

Kolom Kaca merupakan salah satu rubric di Koran Kedaulatan Rakyat dimana para reporternya adalah remaja. Para reporter remaja ini berkisar umur  15-17 tahun. Dalam Kaca juga, ada system angkatan. Setiap 6 bulan sekali akan ada pemilihan anggota Kaca yang baru. Dan pada tahun 2014 ini, Kaca telah sampai angkatan ke-24.
Dalam penyeleksian anggota Kaca #24 ini, alumni Kaca atau yang disingkat dengan nama Padakacarma (Persaudaraan Alumni Kaca dan Reporter Remaja) berperan sebagai panitia penyeleksian anggota Kaca #24. Mereka berperan dari awal penyeleksian seperti wawancara, orientasi awal dan sekarang, Sekolah Kaca. Tetapi, siapa saja kakak-kakak Padakacarma yang sering ikut aktif dalam penyeleksian Kaca #24 kali ini? Yuk, kita review satu-satu
Ada yang namanya Kak Desti. Kak Desti ini termasuk salah satu kakak panitia yang paling aktif. Dia paling sering membuat suasana menjadi sennag karena bercandanya. Namun, di sisi lain, Kak Desti juga bias menjadi seorang yang memberikan masukan . Kak Desti sering memeberikan masukan terhadap para calon anggota Kaca #24 untuk lebih mengevaluasi dan memperbaiki tulisannya. Kak Desti juga termasuk kakak Padakacarma yang paling dekat dengan calon Kaca #24.
Selanjutnya ada Kak Anas. Kalau yang satu ini termasuk yang jarang bicara. Tetapi, dia adalah ketua panitia seleksi Kaca#24. Kak Anas juga terlihat paling sibuk diantara yang lain, mungkin karena dia adalah ketua panitia seleksi Kaca #24. Dia termasuk juga memberi banyak masukan terhadap calon Kaca #24. Kak Anas juga sering terlihat sebagai yang mendokumentasikan acara.
Ada juga Kak Niken. Kakak Padakacarma yang satu ini juga termasuk yang membuat suasana menjadi riang. Tetapi selain riang, Kak Niken juga seorang yang tegas. Kak Niken selalu mengingatkan kepada para calon Kaca #24 tentang tugas-tugas yang harus dikumpulkan tepat waktu. Walaupun begitu, banyak masukan yang diberikan kepada calon Kaca #24 untuk lebih baik kedepannya.
Berikutnya ada Kak Arnindhita. Walau terlihat agak tua, tetapi Kak Arnindhita ini termasuk alumni Kaca #1. Kak Arnindhita ini memberikan materi kepada calon Kaca #24 tentang bagaimana menjadi repoter yang baik saat bertugas. Kak Arnindhita juga termasuk sangat peduli terhadap para calon Kaca #24. Dengan sifatnya yang lembut, Kak Arnindhita berusaha untuk membuat para calon Kaca #24 memahami tentang materi-materi yang diberikan.
Ada juga Kak Amalia. Kakak yang satu ini termasuk yang selalu membuat suasana menjadi riang. Dia juga sering bercanda dengan para alumni Padakacarma juga dengan para calon #24. Ada juga hal-hal lucu yang dibuat oleh Kak Amalia ini. Namun, Kak Amalia juga selalu member masukan terhadapa paar calon Kaca #24.
                Dan yang terakhir ada Kak Nurhayati. Lulusan MAN 3 Yogyakarta ini termasuk salah satu alumni Padakacarma. Kak Nurhayati memang tidak selalu hadir dalam pertemuan, tetapi dia berusaha untuk selalu mendukung calon Kaca #24. Kak Nurhayati termasuk orang yang periang dan ramah. Kak Nurhayati juga terlihat berusaha akrab dengan para calon Kaca #24 agar lebih dekat.
                Sebenarnya, masih banyak lagi kakak-kakak Padakacarma yang sering terlibat dalam seleksi calon Kaca #24 kali ini. Mereka termasuk yang mengurus, mengawasi dan member masukan juga kepada calon Kaca#24 untuk selalu lebih baik kedepannya.

                Mungkin, mereka sering kelelahan dan juga letih dalam proses seleksi calon Kaca #24 ini. Namun, mereka senang jika kelelahan mereka untuk sebuah hal yang bermanfaat. Mereka juga punya harapan bahwa calon Kaca #24 dapat bekerja dengan baik sebagai reporter remaja.

Jumat, 09 Mei 2014

Sekolah Kaca, Ajang Bermain, Belajar dan Berbagi



Sekolah Kaca merupakan kegiatan pelatihan jurnalistik bagi para calon reporter remaja rubrik Kaca di koran Kedaulatan Rakyat. Sekolah Kaca diadakan untuk setiap calon angkatan reporter remaja rubrik Kaca. Untuk calon reporter remaja rubrik Kaca angkatan 24 kali ini, Sekolah Kaca diadakan dari hari Kamis (9/5/14) sampai hari Minggu (11/5/14). Sekolah Kaca diadakan di kantor Kedaulatan Rakyat, lebih tepanya di pendopo kantor Keadulatan Rakyat. Dalam Sekolah Kaca ini juga, para angkatan sebelumnya ikut membimbing para calon reporter remaja ini dalam mengikuti Sekolah Kaca. Dalam Sekolah Kaca kali ini, banyak kegiatan-kegiatan bermanfaat yang dilakukan para calon reporter remaja rubrik Kaca dan para anggota angkatan sebelumnya yang dimulai dari pukul 16.00 sampai pukul 18.00.
            Sekolah Kaca dimulai dengan acara perkenalan. Masing-masing calon reporter remaja Kaca memperkenalkan namanya dan asal sekolah. Selanjutnya, para calon reporter remaja Kaca diminta untuk membuat sebuah tanda pengenal agar para senior bisa mengetahui masing-masing nama dari calon reporter remaja Kaca. Selain itu, calon reporter remaja Kaca juga di diingatkan soal tugas yang akan diberikan kepada mereka.
            Kegiatan Sekolah Kaca pun segera dimulai. Ada beberapa permainan yang diberikan oleh para senior kepada calon reporter remaja Kaca. Salah satunya adalah sambung kata. Di situ, mereka diminta untuk menyebutkan satu kata dari akhiran kata yang sebelumnya sudah diucapkan teman disebelahnya. Ada hukuman yang diberikan yaitu untuk bercerita dengan tema yang telah ditentukan. Kegiatan tersebut cukup menyenangkan bagi para calon reporter remaja Kaca karena disamping permainan, kegiatan tersebut juga dapat mempererat ikatan antar mereka.
            Acara pun berlanjut ke sesi yang lebih formal. Para calon reporter remaja Kaca diminta untuk menuliskan ide-ide untuk menjadi dasar sebuah tulisan. Mereka juga diminta membacakannya kepada teman-temannya. Di situ, mereka saling berbagi pikiran mereka tentang ide-ide yang telah dibacakan tadi. Ide yang tadinya hanya terbatas dapat berkembang menjadi luas karena mereka saling bertukar pikiran.
            Pelajaran pertama yang diberikan di Sekolah Kaca adalah tentang ide. Ide merupakan gagasan awal sebuah tulisan. Diajarkan juga bahwa ide tidak hanya sebatas satu pemikiran. Ide dapat juga kita kembangkan. Namun, tidak semua hasil pengembangan itu dapat kita ambil sebagai bahan penulisan. Dapat kita ambil pengembangan yang sekiranya dapat kita kembangkan menjadi tulisan. Contohnya, jika kita berbicara soal hijab. Pasti banyak hal yang bisa dikembangkan dari ide itu seperti tentang mode, agama, syariah, niat dan sebagainya. Mungkin kita bisa mengambil beberapa pengembangan seperti misalnya mode, agama dan niat. Dari situ, bisa kita kembangkan tulisan kita menjadi lebih menarik untuk dibaca.
            Banyak sekali hal-hal yang dapat dijadikan pelajaran dalam Sekolah Kaca ini. Para calon reporter remaja Kaca saling berbagi pemikirannya di Sekolah Kaca. Secara tidak langsung, mereka telah menambah pengetahuan dan pengalaman karena saling bertukar pikiran ini. Hal-hal seperti ini kelak yang diperlukan dalam penyusunan sebuah berita. Dalam penyusunan suatu berita, banyak ide dan pemikiran diantara sebuah tim. Jika ide-ide dan pemikiran-pemikiran itu tidak dapat dibagi secara baik, maka hasilnya pun percuma dalam penyusunan berita. Di. sini, mereka dilatih bagaimana sebuah ide dan pemikiran dapat dikembangkan dan juga dapat ditukar sesama kelompok.
            Selain juga tentang pelatihan, para calon reporter remaja Kaca juga diajak untuk membentuk suatu ikatan dengan teman-teman yang lain. Mereka secara tidak langsung juga diajarkan tentang kekeluargaan dan persahabtan yang erat. Hal seperti ini sangat mendukung dalam penyusunan berita kelak.
            Sekolah Kaca memang bukan sekedar pelatihan jurnalistik bagi remaja, tetapi juga sebagai ajang untuk para calon reporter remaja Kaca untuk bermain, belajar, dan berbagi dengan sekitar.

(Feature)

Sekolah Kaca, Pelatihan Jurnalistik bagi Reporter Remaja



Di pendopo kantor Kedaulatan Rakyat, Jum’at (9/5/14), diadakan pelatihan jurnalistik atau disebut Sekolah Kaca bagi para calon reporter remaja untuk rubrik Kaca di Kedaulatan Rakyat. Dalam Sekolah Kaca, para calon reporter remaja ini diajari untuk bagaimana terlibat dalam pembuatan sebah berita, termasuk yang berkaitan tentang tema, ide, wawancara dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik. Sekolah Kaca ini rencananya akan berlangsung selama 4 hari dimulai dari hari Kamis (8/5/14) sampai hari Minggu (11/5/14).
            Sekolah Kaca tidak hanya berlaku untuk calon reporter remaja yang sekarang, tetapi Sekolah Kaca juga merupakan tradisi yang dilakukan sebagai ajang belajar dan berbagi untuk para reporter remaja Kaca angkatan sebelumnya. Desti, salah satu reporter di rubric Kaca mengaku senang terhadap kegiatan seperti ini. Walaupun sering mengalami kelelahan dalam kegiatan ini, tetapi Desti mengatakan bahwa senang jika kegiatan ini dapat bermanfaat untuk semua. Desti juga meminta bagi para calon reporter remaja rubrik Kaca ke depannya untuk dapat bekerja secara professional dalam mencari dan membuat berita untuk rubrik Kaca nantinya.

(Straigh News)


Sekolah, Tempat Mencari Ilmu atau Tempat Mencari Gengsi?



Sekolah merupakan tempat orang-orang untuk mendapatkan pendidikan secara formal. Di sekolah, kita mendapatkan pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan apa saja yang bisa dipelajari di sekitar kita, mulai dari lingkungan, manusia, teknologi, moral dan sebagainya. Selain juga sebagai tempat menimba ilmu, sekolah juga merupakan salah satu saksi atau juga tempat kejadian dimana seorang anak menjadi lebih berkembang atau telah matang.
Namun, di zaman era globalisasi yang semunya serba menggunakan teknologi ini, sekolah-sekolah di Indonesia telah berubah juga menjadi sebuah komunitas sosial. Kenapa? Sekolah sekarang ini tidak lagi berfungsi utama sebagai tempat mencari ilmu, tetapi juga tempat ajang formalitas belaka para siswa, orang tua sisiwa, maupun guru. Orang di zaman sekarang tidak lagi memandang semua sekolah itu sama. Kadang, anak-anak yang akan masuk sekolah akan menimbang masuk sekolah dari ranking sekolah tersebut. Jika memang anaknya pintar, mungkin saja beruntung bias masuk ke negeri. Jika memang kemampuan akademiknya standar, orang tua mencarikan sekolah-sekolah swasta yang bertaraf internasional untuk anaknya mengenyam pendidikan. Nah, disini kita lihat bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mengenyam pendidikan, tetapi juga sebagai tolak ukur sejauh mana baik dari sisi kemampuan akademik maupun juga kemampuan harta.
Selain juga sebagai alat tolak ukur, sekolah juga hanya menjadi alat gengsi. Mengapa? Sebagian dari kita pastinya malu ataupun gengsi jika masuk ke sekolah yang istilahnya tidak favorit dan juga tidak mempunyai prestasi yang banyak. Banyak dari kita akan berusaha sebisa mungkin untuk masuk sekolah yang favorit dan unggul. Dengan masuk sekolah yang favotit dan unggul, kita mungkin saja bisa merasa disegani dan mempunyai cukup percaya diri di masyarakat karena kita masuk sekolah favorit.
Nah, disini terjadi kekeliruan yang besar yang sedang terjadi di masyarakat. Sekolah sekarang ini mungkin saja sudah berubah fungsi yang tadinya tempat mencari ilmu menjadi tempat mencari gengsi.  Orang tua sering berpikir bahwa sekolah yang bagus bagi anaknya adalah sekolah yang terbilang favorit dan banyak prestasinya. Persepsi soal sekolah yang bagus ini yang sering disalah artikan oleh banyak orang tua. Merepa berpikir juga jika anaknya sekolah di sekolah yang tidak favorit maka anaknya tidak bisa menjadi lebih pintar.
Sebenarnya, semua sekolah adalah sama. Mereka semua mengajarkan mata pelajaran yang sama. Hampir semua sekolah juga mempunyai kualitas guru yang sama baiknya. Kurikulum yang digunakan kan juga tidak ada beda.
Mulai dari sini kita harus memandang sekolah daris segi tempat mencari ilmu. Sebenarnya, sekolah yang baik merupakan sekolah juga berawal dari para siswanya. Siwa yang dapat dengan rajin mencari ilmunya di sekolah pasti juga akan meningkatkan nama sekolah. Namun sekekali lagi, favorit ataupun tidak itu tidak penting. Ynag terpenting adalah bagaima orang tua dapat membimbing anaknya dalam mencari ilmu di sekolah, mau itu di sekolah favorit maupun di sekolah yang bisa dibilang tidak favorit. Semua itu sekali lagi kembali masing-masing anak yang mencari ilmu. Jika memang anak tersebut serius mencari ilmu, di sekolah yang tidak favorit sekalipun, tetap saja dia akan berhasil karena pada dasarnya bukan sekolah yang mempengaruhi seorang anak dalam keberhasilannya, namun seorang anak akan berhasil itu dilihat dari usaha dan niat anak dalam mencari ilmu untuk masa depannya.

Senin, 05 Mei 2014

Sekedar renungan siang

Selamat siang, Pemikir Muda!

Semoga hari Selasa ini menjadi Selasa yang indah

Dalam post pendek kali ini, saya cuma mau mengutip sebuah pernyataan dari seorang tokoh nasional, Anies Baswedan.

Berikut pernyataannya:

"Korupsi merajalela bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi banyaknya orang baik yang mendiamkan."

Cukup direnungi saja pernyataan tersebut.

Apakah selama ini kita memang sudah bertindak atau hanya diam saja jika ada yang tidak beres di hadapan mata kita?

Pertanyaan tersebut cukup dijawab dalam hati saja.

Sekian untuk post pendek kali ini.

Selamat siang, Pemikir Muda!