Senin, 09 Januari 2017

Alasan tidak ikut aksi

Selamat pagi, Pemikir Muda! Rasanya sudah lama sekali tidak menerbitkan tulisan baru lagi di blog ini. Sekedar info saja, saya sekarang sudah menjadi mahasiswa. Dunia baru sudah saya hadapi sekarang. Dan postingan kali ini pun saya buat karena pikiran saya yang menggebu-gebu butuh untuk disalurkan. Jadi, silahkan dinikmati tulisan pendek saya kali ini.

Barangkali ada yang bertanya-tanya dengan maksud judul tulisan diatas.

“aksi apa?”

Baik, jadi saya kuliah di FK Universitas Sebelas Maret (insyaallah di tulisan berikutnya saya akan menceritakan perjalanan saya masuk dunia perkuliahan). Dan seperti kita tahu juga bahwa ada “kado awal tahun” yang diberikan oleh pemerintah yaitu kenaikan BBM, kenaikan tarif listrik dan kenaikan pajak STNK dan BPKB. Bagai hukum alam, mahasiswa di seluruh indonesia pun mulai bergerak menuntut pemerintah atas “kado awal tahun” yang diberikan pemerintah kepada masyarakat indonesia. Hal ini pun berlaku di Solo. Dengan jumlah perguruan tinggi yang cukup banyak sehingga dilakukanlah aksi menuntut pemerintah untuk menurunkan harga. Maka, disebarkanlah seruan aksi yang akan dilaksanakan 9 Januari 2017 di depan Kantor Balaikota Solo. Seruan aksi itu disebarkan melalui via medsos. Kebetulan saya menerima seruan aksi via Line. Di banyak grup, banyak yang mengajak untuk mengikuti aksi. Dan akhirnya, pada 9 Januari 2017, ketika aksi menuntut kebijakan pemerintah itu dilaksanakan, saya tidak ikut.

Kenapa? Alasan simpel saya tidak mengikuti aksi adalah karena saya belum mengerti duduk permasalahan. Dan kalau saya boleh mengutarakan dengan jujur, saya belum tahu siapa yang saya bela jika saya mengikuti aksi itu. Berteriak-teriak membela rakyat? Itu bagi mereka yang sudah paham apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka bela. Sebaliknya, saya belum paham betul apa yang sedang kita tuntut sekarang. Pembaca boleh saja menyebut saya apatis. Sah-sah saja menyebut saya begitu. Namun hal yang ingin saya diskusikan adalah ajakan-ajakan aksi yang menurut saya hanya seperti menghadiri acara seremonial.

Saya memohon maaf sebelumnya jika saya menulis seperti itu, namun saya hanya mengingatkan sebagai sesama kawan mahasiswa. Ketika kalian mengajak mengikuti aksi itu seperti kalian mengajak menghadiri acara makan-makan. Kawan-kawan, aksi ini untuk membela rakyat yang sedang kesusahan. Bukan hanya aksi untuk menunjukkan bahwa kalian mahasiswa. Pencitraan. Berusaha membuktikan bahwa kalian adalah mahasiswa tetapi hanya bergerak tanpa mengerti apa yang kalian perjuangkan. Teruntuk kalian yang memang sudah mengerti apa yang terjadi dan turun hari ini dengan niat murni untuk membela rakyat, saya puji idealisme kalian. Dan teruntuk kalian yang hanya mengikuti aksi karena hanya karena ikut-ikutan, mungkin di lain kesempatan bisa diperbaiki lagi niatnya.

Mungkin menurut bagi kalian saya lancang membicarakan hal-hal mengenai aksi seperti ini padahala saya saja masih semester 1. Namun, kawan-kawan, jika memang kamu sendiri dalam membela rakyat, itu tak apa. Bisa kita lihat dari Soe Hok Gie, panutan mahasiswa dalam melancarkan aksinya. Sendirian bagi Soe Hok Gie dalam menuntut pemerintah tak apa baginya jika dia tetap bisa mempertahankan idealismenya sebagai mahasiswa.


Saya sekali lagi memohon maaf jika dari tulisan ini mungkin membuat kawan-kawan tersinggung dan menimbulkan rasa tidak senang terhadap saya. Sekali lagi saya hanya menyampaikan buah pikiran saya kepada kawan-kawan sekalian. Terimakasih atas waktunya membaca tulisan ini.

0 komentar:

Posting Komentar