Welcome to the journey!

Rabu, 20 Agustus 2014

I'm pro heterogen

Berbeda-beda tapi tetap satu, itulah Bhinneka Tunggal Ika! Semboyang yang sudah pasti selalu kalian lihat di bagian kaki lambang negara kita, burung Garuda. Bhinneka Tunggal Ika sendiri menggambarkan keadaan kehidupan masyarakat yang super heterogen. Tapi, dari gue sendiri lebih suka bilang ‘berbeda-beda tapi tetap (ber)satu’ daripada ‘berbeda-beda tapi tetap satu’, karena menurut gue sendiri jika menggunakan ‘satu’ berarti kita melebur menjadi satu, sedangkan kalau menggunakan ‘(ber)satu’ berarti maknanya kita menyatu tapi tak melebur.

Kembali ke Bhinneka Tunggal Ika. Kenapa gue nyebut Binneka Tunggal Ika menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang super heterogen? Gimana enggak, udah beribu-ribu suku dari Pulau Weh sampai Kota Merauke. Kalo misal kita lihat, ada gak negera lain yang punya suku sebanyak kita? Enggak! Belum lagi soal bahasa, udah gak kehitung berapa bahasa yang ada di Indonesia. And for your information, Papua adalah pulau dengan bahasa terbanyak di dunia. Bayangkan aja, setiap suku di Papua punya bahasanya masing-masing. Bicarain juga soal kepercayaan yang ada di Indonesia, pake Sensus juga mungkin susah dihitung. Dan masih banyak hal-hal yang membuat kita super duper heterogen.

Tapi, ada satu pertanyaan yang muncul dari keadaan heterogen negeri ini. Apakah rakyat Indonesia sudah menerima keadaan heterogen tersebut?

Kalo menurut saya pribadi, rasanya rakyat Indonesia masih belum bisa beradaptasi dengan keadaan ini.
“Kenapa lu berani bilang rakyat kita belum bisa menerima keadaan yang heterogen!?” Yaahhh, gue berani bilang gitu karena memang banyak buktinya. Banyak banget aksi-aksi yang secara tersirat meyampaikan bahwa mereka ‘anti-heterogen’.

Mau dijabarin buktinya? Ayo, gue kasih satu-satu ke kalian.

Kalian tentunya masih ingat dengan kasus GKI Yasmin, bukan? Yap, kasus ini seputar pembekuan IMB pembangunan GKI Yasmin. Akibatnya, umat Kristen GKI Yasmin melakukan ibadah di trotoar-trotoar jalan di Kota Bogor. Alasan pembekuan IMB pembangunan GKI Yasmin sih katanya karena ada pemalsuan tanda tangan. Tapi, kenapa mau bangun tempat ibadah saja harus dipersulit?

Satu lagi nih. Kalo kalian masih ingat, seorang Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifi, diprotes oleh warganya sendiri karena dirinya bukan penganut agama Islam. Alasannya sih macam, mulai dari gak bisa hadirin pengajian, tidak mengucapka assalamualaikum dan lain-lain.

Dari sisi etnis juga ada. Mungkin, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa sudah terjadi dari dulu. Bayangkan aja, sudah banyak aksi-aksi diskriminatif yang diterima, seperti prngucilan, tidak dianggap, sampai yang paling parah pembakaran rumah. Tapi, itu pas masih jamannya Orde Lama. Untungnya, saat pemerintahan Gus Dur, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Mau lagi buktinya? Kalian pasti tau OPM kan? Yap, Organisasi Papua Merdeka. Mereka menyerukan agar Papua memisahkan diri dari NKRI. Penyebabnya? Lagi-lagi karena masalah etnis. Orang Papua merasa bahwa mereka berkulit hitam, sedangkan orang ‘Indonesia’ berkulit putih, sehingga mereka sudah merasa berbeda dari ‘Indonesia’.

Dan masih banyak lagi hal-hal anti heterogen yang terjadi di sekitar kita. Jadi, setelah lihat kasus-kasus tersebut, apakah kita masih dibilang bisa menerima keadaan super heterogen? Jawabannya mungkin dari masing-masing dari kalian. Apakah kalian bisa menerima perbedaan itu atau gak. Itu semua tergantung dari diiri kalian.

“Banyak bacot lu! Emang tau apa soal heterogen? Emang lu pernah tinggal di daerah heterogen? Lu paling cuman omong doang!”

Gue tinggal di daerah yang sangat heterogen. Gimana gak, gue lahir di Papua, dimana ‘pendatang’ merupakan minoritas termasuk gue juga. Dan juga, Kristen merupakan agama mayoritas di Papua dan gue adalah Muslim. So, gue gak bakal ngomong kayak gini kalo misal gue gak alamin sebelumnya.

So, buat kata-kata penutup, harapan gue buat Indonesia kedepannya adalah bahwa tidak ada diskriminasi suku, ras dan etnis. Juga gue berharap bahwa semua pemeluk agama bisa menjalankan ibadahnya tanpa harus merasa was-was dan takut. Yang paling penting, gue berharap rakyat Indonesia bisa menerima ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang sudah mendarah daging di negeri ini.

Well, as a close statement, I’M PRO HETEROGEN!