Welcome to the journey!

Rabu, 15 Februari 2017

Cerita Masuk Kampus


Kembali berjumpa, Pemikir Muda! Memasuki fase menjadi “anak kuliahan” memberikan banyak sisi positif maupun negatif. Sisi positifnya makin banyak libur, tetapi negatifnya stres akibat materi pun berkejaran. Baru saja liburan semester akan berakhir dan masa produktif saya pun akan dimulai. Sebelum memulai perkuliahan semester 2 ini, ada baiknya kita memulai dengan sebuah postingan baru di blog sekaligus juga menyegarkan lagi blog saya yang sudah sepi pembaca. Postingan kali ini akan berisi tentang cerita saya dalam mendapatkankan kampus. Postngan ini akan agak panjang jadi sediakan waktu senggang untuk membaca postingan ini. Selamat membaca!

Ketika banyak siswa kelas 3 SMA mulai bimbang menentukan akan melanjutkan ke jurusan apa, saya sendiri sudah menentukan jurusan yang akan saya geluti sedari SMP. Saya memilih jurusan Kedokteran sebagai jurusan masa depan saya. Impian ini sebenarnya muncul ketika di kota saya dibesarkan, Manokwari, tenaga medis belum begitu maju. Bahkan, untuk penyakit parah, orang harus dirujuk ke Jawa karena penanganan yang belum memadai di Manokwari. Melihat hal itu membuat saya berkeinginan untuk menjadi dokter di kota kelahiran saya. Terdengar klise tetapi memang itu yang terjadi. Perjalanan pun berlanjut ketika masuk SMA. Memasuki SMA dengan predikat “terendah” di Kota Yogyakarta membuat saya minder. Bertanya-tanya kepada guru maupun alumni, belum ada yang masuk jurusan Kedokteran di PTN lima tahun terakhir. Walaupun begitu, saya tetap mengikat impian saya  untuk masuk jurusan Kedokteran. Masuk kelas 2 SMA, saya sudah menentukan mau masuk mana selanjutnya: Jurusan Pendidikan Dokter UGM. Terdengar idealis memang tetapi saya tetap bertekad untuk mencapai impian saya tersebut.

Akhirnya kelas 3 SMA pun dimulai. Hawa perburuan perguruan tinggi pun sudah terasa. Saling tanya tentang info-info perguruan tinggi, ngobrol tentang jurusan yang akan dimasuki pun sudah jadi makanan biasa di kelas. Saya tetap memantapkan hati saya untuk masuk jurusan Pendidikan Dokter UGM. Minder sering saya rasakan ketika saya mengutarakan kepada teman-teman maupun guru-guru ketika saya memilih jurusan Kedokteran sebagai jurusan pilihan saya. Di semester 1 saya belum terlalu memiliki persiapan yang matang dalam menghadapi SBMPTN. Ya, SBMPTN adalah salah satu jalur yang saya paling persiapkan karena SNMPTN sudah tidak mungkin lagi untuk saya perjuangkan.

Semester 2 adalah start bagi saya untuk memulai. Masuk bimbel untuk belajar SBMPTN, membeli kaset untuk menunjang belajar dan mengerjakan soal-soal adalah makanan saya sehari-hari. Banyak hal yang akhirnya saya korbankan sementara, salah satunya kebiasaan saya menonton anime saya tunda dulu. Ketika penat menyerang, saya teringat lagi bagaimana rasanya nanti jika saya diterima, betapa senangnya perasaan itu. Hal-hal seperti yang membuat saya terus semangat untuk persiapan SBMPTN.

Selain mengejar untuk SBMPTN, saya juga mencoba mendaftar di PTS. PTS yang saya sasar yaitu UII. Sebenarnya dalam hati terkecil saya PTS bukanlah tujuan saya, namun untuk kemungkinan terburuk bukanlah hal yang buruk jika kita mengambil PTS sebagai cadangan. Setelah mencoba 2 kali tes, akhirnya saya lolos di prodi Pendidikan Dokter UII. Senang tentu saja, namun hal yang membuat saya murung yaitu soal biaya. Jumlah sumbangan yang harus saya bayarkan saja 225 juta. Belum lagi soal biaya semester kedepannya. Hal-hal ini yang membuat saya kepikiran. Namun, bapak saya meyakinkan bahwa dia mampu menguliahkan saya disitu walaupun saya yakin untuk kuliah disitu butuh pengorbanan biaya yang sangat besar. Bertambahlah lagi motivasi saya untuk masuk jurusan Kedokteran di PTN, terutama UGM.





Saat pengunguman SNMPTN tiba, sudah dipastikan bahwa saya tidak lolos. Bagaimana tidak, saya mengambil pilihan Pendidikan Dokter UGM dan Kedokteran UNS sehingga wajar jika tidak lolos. Namun, ada rasa iri juga karena beberapa teman ada yang lolos. Saya jadikan itu sebagai cambukan lagi agar tetap semangat mengejar SBMPTN. Beberapa TO SBMPTN sudah dikerjakan, namun hasilnya masih saja dibawah target. Melihat passing grade prodi-prodi Kedokteran membuat saya agak minder. Dan terlebih lagi hasil TO SBMPTN belum pernah mendekati  passing grade prodi-prodi Kedokteran. Akhirnya, saat pendaftaran SBMPTN, saya menyingkirkan segala prasangka buruk jika gagal. Biarlah menjadi idealis tetapi kita juga bekerja keras. Pilihan SBMPTN saya yaitu: Pendidikan Dokter UGM, Kedokteran UNS dan Pendidikan Dokter UB. Banyak yang bilang pilihan SBMPTN saya agak nekat, tetapi biarlah jika memang itu sudah impian.

Hari yang ditunggu pun tiba. Hari perjuangan selama kurang lebih 5 bulan ditentukan. Perasaan saat itu campur aduk, tetapi saya berusaha tenang ketika soal SBMPTN sudah di atas meja. Perintah untuk membuka soal pun diberikan. Tahu apa yang pertama kali saya pikirkan tentang soalnya? Saya berpikir bahwa soal ini susah dan saya yakin tidak bakal lolos. Saya pikir saya sudah diterima di UII sehingga biarlah jika hasilnya nanti gagal. Akhirnya saya mengerjakan semampu saya. Percaya diri pun muncul saat mengerjakan soal baik itu soal SAINTEK maupun TKDU. Alhamdullilah saya cukup lancar mengerjakan soal itu, walaupun rasa takut juga membayangi. Seminggu kemudian, saya juga mengikuti UTUL UGM dengan pilihan: Pendidikan Dokter, Pendidikan Dokter Gigi dan Gizi Kesehatan. Namun, soal UTUL UGM ternyata lebih susah daripada yang saya bayangkan. Akhirnya dengan pasrah saya mengerjakan soal.

Penantian menunggu pengunguman SBMPTN pun tiba. Kebetulan saat itu bulan puasa. Jadi setiap malam saya susah tidur memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Saya sering tidak tidur hingga sahur. Walaupun memang sudah diterima di Pendidikan Dokter UII, tetap saja perasaan gusar tetap muncul. Saya selalu berdoa untuk bisa diterima, tidak peduli universitas manapun yang penting PTN agar saya bisa meringankan sedikit beban biaya kuliah saya.

Tanggal 28 Juni 2016 tiba. Pengunguman SBMPTN diumumkan jam 14.00. Di banyak grup Line sudah saling memberikan semangat jika nanti diterima ataupun tidak diterima. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00, tetapi saya asih menunggu karena tahu bahwa pasti websitenya akan down akibat banyak yang mengakses. Saya malah berpikir untuk membukanya sehabis buka puasa. Penasaran pun berkecamuk seketika banyak teman-teman yang sudah tahu hasilnya. Akhirnya dengan jantung berdebar kencang, saya memberanikan diri membuka pengunguman SBMPTN. Sebelum masuk ke pengunguman, saya menutup mata saya. Setelah membuka mata perlahan, saya melihat tulisan SELAMAT. Langsung saja saya bangkit dari tempat tidur dan langsung memeluk bapak saya yang sedang baca koran. Saya diterima di prodi Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Tidak ada yang bisa saya ungkapkan saat itu. Hanya bersyukur yang bisa saya panjatkan. Walaupun diterima di pilihan kedua, saya sangat bersyukur bisa diterima prodi Kedokteran UNS yang notabene adalah PTN. Saya akhirnya bisa meringankan beban biaya kuliah. 3 hari kemudian pengunguman UTUL UGM tiba, tetapi sayang saya tidak lolos. Namun, saya tetap bersyukur bahwa saya bisa diterima di Kedokteran UNS.


Dari perjuangan saya masuk perguruan tinggi saya mendapat banyak pelajaran bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau percaya dan mau berusaha. Kamu boleh berandai-andai tetapi dengan modal yang besar juga. Artinya kamu boleh berandai-andai masuk ke jurusan yang kamu inginkan tetapi dengan modal bahwa kamu sudah mempersiapkan matang-matang untuk masuk ke jurusan yang kamu inginkan. Akhir kata mohon maaf jika ada salah-salah kata dari saya. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menginspirasi untuk kalian yang sedang berjuang masuk kampus. Semangat pejuang PTN 2017!

Senin, 09 Januari 2017

Alasan tidak ikut aksi

Selamat pagi, Pemikir Muda! Rasanya sudah lama sekali tidak menerbitkan tulisan baru lagi di blog ini. Sekedar info saja, saya sekarang sudah menjadi mahasiswa. Dunia baru sudah saya hadapi sekarang. Dan postingan kali ini pun saya buat karena pikiran saya yang menggebu-gebu butuh untuk disalurkan. Jadi, silahkan dinikmati tulisan pendek saya kali ini.

Barangkali ada yang bertanya-tanya dengan maksud judul tulisan diatas.

“aksi apa?”

Baik, jadi saya kuliah di FK Universitas Sebelas Maret (insyaallah di tulisan berikutnya saya akan menceritakan perjalanan saya masuk dunia perkuliahan). Dan seperti kita tahu juga bahwa ada “kado awal tahun” yang diberikan oleh pemerintah yaitu kenaikan BBM, kenaikan tarif listrik dan kenaikan pajak STNK dan BPKB. Bagai hukum alam, mahasiswa di seluruh indonesia pun mulai bergerak menuntut pemerintah atas “kado awal tahun” yang diberikan pemerintah kepada masyarakat indonesia. Hal ini pun berlaku di Solo. Dengan jumlah perguruan tinggi yang cukup banyak sehingga dilakukanlah aksi menuntut pemerintah untuk menurunkan harga. Maka, disebarkanlah seruan aksi yang akan dilaksanakan 9 Januari 2017 di depan Kantor Balaikota Solo. Seruan aksi itu disebarkan melalui via medsos. Kebetulan saya menerima seruan aksi via Line. Di banyak grup, banyak yang mengajak untuk mengikuti aksi. Dan akhirnya, pada 9 Januari 2017, ketika aksi menuntut kebijakan pemerintah itu dilaksanakan, saya tidak ikut.

Kenapa? Alasan simpel saya tidak mengikuti aksi adalah karena saya belum mengerti duduk permasalahan. Dan kalau saya boleh mengutarakan dengan jujur, saya belum tahu siapa yang saya bela jika saya mengikuti aksi itu. Berteriak-teriak membela rakyat? Itu bagi mereka yang sudah paham apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka bela. Sebaliknya, saya belum paham betul apa yang sedang kita tuntut sekarang. Pembaca boleh saja menyebut saya apatis. Sah-sah saja menyebut saya begitu. Namun hal yang ingin saya diskusikan adalah ajakan-ajakan aksi yang menurut saya hanya seperti menghadiri acara seremonial.

Saya memohon maaf sebelumnya jika saya menulis seperti itu, namun saya hanya mengingatkan sebagai sesama kawan mahasiswa. Ketika kalian mengajak mengikuti aksi itu seperti kalian mengajak menghadiri acara makan-makan. Kawan-kawan, aksi ini untuk membela rakyat yang sedang kesusahan. Bukan hanya aksi untuk menunjukkan bahwa kalian mahasiswa. Pencitraan. Berusaha membuktikan bahwa kalian adalah mahasiswa tetapi hanya bergerak tanpa mengerti apa yang kalian perjuangkan. Teruntuk kalian yang memang sudah mengerti apa yang terjadi dan turun hari ini dengan niat murni untuk membela rakyat, saya puji idealisme kalian. Dan teruntuk kalian yang hanya mengikuti aksi karena hanya karena ikut-ikutan, mungkin di lain kesempatan bisa diperbaiki lagi niatnya.

Mungkin menurut bagi kalian saya lancang membicarakan hal-hal mengenai aksi seperti ini padahala saya saja masih semester 1. Namun, kawan-kawan, jika memang kamu sendiri dalam membela rakyat, itu tak apa. Bisa kita lihat dari Soe Hok Gie, panutan mahasiswa dalam melancarkan aksinya. Sendirian bagi Soe Hok Gie dalam menuntut pemerintah tak apa baginya jika dia tetap bisa mempertahankan idealismenya sebagai mahasiswa.


Saya sekali lagi memohon maaf jika dari tulisan ini mungkin membuat kawan-kawan tersinggung dan menimbulkan rasa tidak senang terhadap saya. Sekali lagi saya hanya menyampaikan buah pikiran saya kepada kawan-kawan sekalian. Terimakasih atas waktunya membaca tulisan ini.