Kembali berjumpa, Pemikir Muda!
Memasuki fase menjadi “anak kuliahan” memberikan banyak sisi positif maupun
negatif. Sisi positifnya makin banyak libur, tetapi negatifnya stres akibat
materi pun berkejaran. Baru saja liburan semester akan berakhir dan masa
produktif saya pun akan dimulai. Sebelum memulai perkuliahan semester 2 ini,
ada baiknya kita memulai dengan sebuah postingan baru di blog sekaligus juga
menyegarkan lagi blog saya yang sudah sepi pembaca. Postingan kali ini akan
berisi tentang cerita saya dalam mendapatkankan kampus. Postngan ini akan agak
panjang jadi sediakan waktu senggang untuk membaca postingan ini. Selamat
membaca!
Ketika banyak siswa kelas 3 SMA mulai
bimbang menentukan akan melanjutkan ke jurusan apa, saya sendiri sudah
menentukan jurusan yang akan saya geluti sedari SMP. Saya memilih jurusan
Kedokteran sebagai jurusan masa depan saya. Impian ini sebenarnya muncul ketika
di kota saya dibesarkan, Manokwari, tenaga medis belum begitu maju. Bahkan,
untuk penyakit parah, orang harus dirujuk ke Jawa karena penanganan yang belum
memadai di Manokwari. Melihat hal itu membuat saya berkeinginan untuk menjadi
dokter di kota kelahiran saya. Terdengar klise tetapi memang itu yang terjadi. Perjalanan
pun berlanjut ketika masuk SMA. Memasuki SMA dengan predikat “terendah” di Kota
Yogyakarta membuat saya minder. Bertanya-tanya kepada guru maupun alumni, belum
ada yang masuk jurusan Kedokteran di PTN lima tahun terakhir. Walaupun begitu,
saya tetap mengikat impian saya untuk
masuk jurusan Kedokteran. Masuk kelas 2 SMA, saya sudah menentukan mau masuk
mana selanjutnya: Jurusan Pendidikan Dokter UGM. Terdengar idealis memang
tetapi saya tetap bertekad untuk mencapai impian saya tersebut.
Akhirnya kelas 3 SMA pun dimulai. Hawa
perburuan perguruan tinggi pun sudah terasa. Saling tanya tentang info-info
perguruan tinggi, ngobrol tentang jurusan yang akan dimasuki pun sudah jadi
makanan biasa di kelas. Saya tetap memantapkan hati saya untuk masuk jurusan
Pendidikan Dokter UGM. Minder sering saya rasakan ketika saya mengutarakan
kepada teman-teman maupun guru-guru ketika saya memilih jurusan Kedokteran
sebagai jurusan pilihan saya. Di semester 1 saya belum terlalu memiliki
persiapan yang matang dalam menghadapi SBMPTN. Ya, SBMPTN adalah salah satu
jalur yang saya paling persiapkan karena SNMPTN sudah tidak mungkin lagi untuk
saya perjuangkan.
Semester 2 adalah start bagi saya
untuk memulai. Masuk bimbel untuk belajar SBMPTN, membeli kaset untuk menunjang
belajar dan mengerjakan soal-soal adalah makanan saya sehari-hari. Banyak hal
yang akhirnya saya korbankan sementara, salah satunya kebiasaan saya menonton
anime saya tunda dulu. Ketika penat menyerang, saya teringat lagi bagaimana
rasanya nanti jika saya diterima, betapa senangnya perasaan itu. Hal-hal
seperti yang membuat saya terus semangat untuk persiapan SBMPTN.
Selain mengejar untuk SBMPTN, saya
juga mencoba mendaftar di PTS. PTS yang saya sasar yaitu UII. Sebenarnya dalam
hati terkecil saya PTS bukanlah tujuan saya, namun untuk kemungkinan terburuk
bukanlah hal yang buruk jika kita mengambil PTS sebagai cadangan. Setelah
mencoba 2 kali tes, akhirnya saya lolos di prodi Pendidikan Dokter UII. Senang tentu
saja, namun hal yang membuat saya murung yaitu soal biaya. Jumlah sumbangan
yang harus saya bayarkan saja 225 juta. Belum lagi soal biaya semester
kedepannya. Hal-hal ini yang membuat saya kepikiran. Namun, bapak saya
meyakinkan bahwa dia mampu menguliahkan saya disitu walaupun saya yakin untuk
kuliah disitu butuh pengorbanan biaya yang sangat besar. Bertambahlah lagi
motivasi saya untuk masuk jurusan Kedokteran di PTN, terutama UGM.
Saat pengunguman SNMPTN tiba, sudah dipastikan bahwa saya tidak lolos. Bagaimana tidak, saya mengambil pilihan Pendidikan Dokter UGM dan Kedokteran UNS sehingga wajar jika tidak lolos. Namun, ada rasa iri juga karena beberapa teman ada yang lolos. Saya jadikan itu sebagai cambukan lagi agar tetap semangat mengejar SBMPTN. Beberapa TO SBMPTN sudah dikerjakan, namun hasilnya masih saja dibawah target. Melihat passing grade prodi-prodi Kedokteran membuat saya agak minder. Dan terlebih lagi hasil TO SBMPTN belum pernah mendekati passing grade prodi-prodi Kedokteran. Akhirnya, saat pendaftaran SBMPTN, saya menyingkirkan segala prasangka buruk jika gagal. Biarlah menjadi idealis tetapi kita juga bekerja keras. Pilihan SBMPTN saya yaitu: Pendidikan Dokter UGM, Kedokteran UNS dan Pendidikan Dokter UB. Banyak yang bilang pilihan SBMPTN saya agak nekat, tetapi biarlah jika memang itu sudah impian.
Hari yang ditunggu pun tiba. Hari perjuangan
selama kurang lebih 5 bulan ditentukan. Perasaan saat itu campur aduk, tetapi
saya berusaha tenang ketika soal SBMPTN sudah di atas meja. Perintah untuk
membuka soal pun diberikan. Tahu apa yang pertama kali saya pikirkan tentang
soalnya? Saya berpikir bahwa soal ini susah dan saya yakin tidak bakal lolos. Saya
pikir saya sudah diterima di UII sehingga biarlah jika hasilnya nanti gagal. Akhirnya
saya mengerjakan semampu saya. Percaya diri pun muncul saat mengerjakan soal
baik itu soal SAINTEK maupun TKDU. Alhamdullilah saya cukup lancar mengerjakan
soal itu, walaupun rasa takut juga membayangi. Seminggu kemudian, saya juga
mengikuti UTUL UGM dengan pilihan: Pendidikan Dokter, Pendidikan Dokter Gigi
dan Gizi Kesehatan. Namun, soal UTUL UGM ternyata lebih susah daripada yang saya
bayangkan. Akhirnya dengan pasrah saya mengerjakan soal.
Penantian menunggu pengunguman SBMPTN
pun tiba. Kebetulan saat itu bulan puasa. Jadi setiap malam saya susah tidur
memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Saya sering tidak tidur hingga
sahur. Walaupun memang sudah diterima di Pendidikan Dokter UII, tetap saja
perasaan gusar tetap muncul. Saya selalu berdoa untuk bisa diterima, tidak
peduli universitas manapun yang penting PTN agar saya bisa meringankan sedikit
beban biaya kuliah saya.
Tanggal 28 Juni 2016 tiba. Pengunguman
SBMPTN diumumkan jam 14.00. Di banyak grup Line sudah saling memberikan
semangat jika nanti diterima ataupun tidak diterima. Jam sudah menunjukkan
pukul 14.00, tetapi saya asih menunggu karena tahu bahwa pasti websitenya akan
down akibat banyak yang mengakses. Saya malah berpikir untuk membukanya sehabis
buka puasa. Penasaran pun berkecamuk seketika banyak teman-teman yang sudah
tahu hasilnya. Akhirnya dengan jantung berdebar kencang, saya memberanikan diri
membuka pengunguman SBMPTN. Sebelum masuk ke pengunguman, saya menutup mata
saya. Setelah membuka mata perlahan, saya melihat tulisan SELAMAT. Langsung saja
saya bangkit dari tempat tidur dan langsung memeluk bapak saya yang sedang baca
koran. Saya diterima di prodi Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Tidak ada
yang bisa saya ungkapkan saat itu. Hanya bersyukur yang bisa saya panjatkan. Walaupun
diterima di pilihan kedua, saya sangat bersyukur bisa diterima prodi Kedokteran
UNS yang notabene adalah PTN. Saya akhirnya bisa meringankan beban biaya
kuliah. 3 hari kemudian pengunguman UTUL UGM tiba, tetapi sayang saya tidak
lolos. Namun, saya tetap bersyukur bahwa saya bisa diterima di Kedokteran UNS.
Dari perjuangan saya masuk perguruan
tinggi saya mendapat banyak pelajaran bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika
kita mau percaya dan mau berusaha. Kamu boleh berandai-andai tetapi dengan
modal yang besar juga. Artinya kamu boleh berandai-andai masuk ke jurusan yang
kamu inginkan tetapi dengan modal bahwa kamu sudah mempersiapkan matang-matang
untuk masuk ke jurusan yang kamu inginkan. Akhir kata mohon maaf jika ada
salah-salah kata dari saya. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menginspirasi untuk
kalian yang sedang berjuang masuk kampus. Semangat pejuang PTN 2017!


