Selamat pagi, Pemikir Muda!
Rasanya sudah lama sekali tidak menerbitkan tulisan baru lagi di blog ini. Sekedar
info saja, saya sekarang sudah menjadi mahasiswa. Dunia baru sudah saya hadapi
sekarang. Dan postingan kali ini pun saya buat karena pikiran saya yang
menggebu-gebu butuh untuk disalurkan. Jadi, silahkan dinikmati tulisan pendek
saya kali ini.
Barangkali ada yang
bertanya-tanya dengan maksud judul tulisan diatas.
“aksi apa?”
Baik, jadi saya kuliah di FK
Universitas Sebelas Maret (insyaallah di tulisan berikutnya saya akan
menceritakan perjalanan saya masuk dunia perkuliahan). Dan seperti kita tahu
juga bahwa ada “kado awal tahun” yang diberikan oleh pemerintah yaitu kenaikan
BBM, kenaikan tarif listrik dan kenaikan pajak STNK dan BPKB. Bagai hukum alam,
mahasiswa di seluruh indonesia pun mulai bergerak menuntut pemerintah atas “kado
awal tahun” yang diberikan pemerintah kepada masyarakat indonesia. Hal ini pun
berlaku di Solo. Dengan jumlah perguruan tinggi yang cukup banyak sehingga
dilakukanlah aksi menuntut pemerintah untuk menurunkan harga. Maka,
disebarkanlah seruan aksi yang akan dilaksanakan 9 Januari 2017 di depan Kantor
Balaikota Solo. Seruan aksi itu disebarkan melalui via medsos. Kebetulan saya
menerima seruan aksi via Line. Di banyak grup, banyak yang mengajak untuk
mengikuti aksi. Dan akhirnya, pada 9 Januari 2017, ketika aksi menuntut
kebijakan pemerintah itu dilaksanakan, saya tidak ikut.
Kenapa? Alasan simpel saya tidak
mengikuti aksi adalah karena saya belum mengerti duduk permasalahan. Dan kalau
saya boleh mengutarakan dengan jujur, saya belum tahu siapa yang saya bela jika
saya mengikuti aksi itu. Berteriak-teriak membela rakyat? Itu bagi mereka yang
sudah paham apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka bela. Sebaliknya, saya
belum paham betul apa yang sedang kita tuntut sekarang. Pembaca boleh saja
menyebut saya apatis. Sah-sah saja menyebut saya begitu. Namun hal yang ingin
saya diskusikan adalah ajakan-ajakan aksi yang menurut saya hanya seperti
menghadiri acara seremonial.
Saya memohon maaf sebelumnya jika
saya menulis seperti itu, namun saya hanya mengingatkan sebagai sesama kawan
mahasiswa. Ketika kalian mengajak mengikuti aksi itu seperti kalian mengajak
menghadiri acara makan-makan. Kawan-kawan, aksi ini untuk membela rakyat yang
sedang kesusahan. Bukan hanya aksi untuk menunjukkan bahwa kalian mahasiswa. Pencitraan.
Berusaha membuktikan bahwa kalian adalah mahasiswa tetapi hanya bergerak tanpa
mengerti apa yang kalian perjuangkan. Teruntuk kalian yang memang sudah
mengerti apa yang terjadi dan turun hari ini dengan niat murni untuk membela
rakyat, saya puji idealisme kalian. Dan teruntuk kalian yang hanya mengikuti
aksi karena hanya karena ikut-ikutan, mungkin di lain kesempatan bisa
diperbaiki lagi niatnya.
Mungkin menurut bagi kalian saya
lancang membicarakan hal-hal mengenai aksi seperti ini padahala saya saja masih
semester 1. Namun, kawan-kawan, jika memang kamu sendiri dalam membela rakyat,
itu tak apa. Bisa kita lihat dari Soe Hok Gie, panutan mahasiswa dalam
melancarkan aksinya. Sendirian bagi Soe Hok Gie dalam menuntut pemerintah tak
apa baginya jika dia tetap bisa mempertahankan idealismenya sebagai mahasiswa.
Saya sekali lagi memohon maaf
jika dari tulisan ini mungkin membuat kawan-kawan tersinggung dan menimbulkan rasa tidak senang terhadap saya. Sekali
lagi saya hanya menyampaikan buah pikiran saya kepada kawan-kawan sekalian. Terimakasih
atas waktunya membaca tulisan ini.
