Welcome to the journey!

Jumat, 28 Juni 2019

Bagaimana rasanya tidak punya rumah?


Halo Pemikir Muda! Lama sudah tidak jumpa. Sudah lebih dari satu tahun saya tidak lagi menulis di blog ini. Setelah tulisan terakhir sempat ada niat untuk melanjutkan aktif di blog ini dan rutin untuk menulis di blog ini. Tapi, nasib berkata lain. Kesibukan di kampus rupanya memang tidak bisa diduakan. Akhirnya, setelah kesibukan akhir-akhir yang sudah mereda dan siap untuk menjelajah lebih jauh lagi, saya akan menulis lagi tentang sesuatu yang buat teman-teman membaca cukup asing. Langsung saja silahkan membaca!

Seringkah dalam rangkaian sebuah perkenalan teman-teman disuruh untuk menyebutkan asal daerah? Atau sederhananya menyebutkan tinggal dimana? Itu sudah menjadi barang wajib untuk mengenalkan identitas kita. Namun bagaimana rasanya pertanyaan itu untuk beberapa orang menjadi momok tersendiri? Ya, saya mengalami hal itu. Saya selalu berpikir apa yang harus saya jawab untuk pertanyaan itu. Rasanya mungkin untuk menjawab pertanyaan itu saya harus menjelaskan sejarah singkat hidup saya terlebih dahulu.


Saya lahir di kota Manokwari, Papua Barat. Kalau begitu saya orang Papua? Belum sampai disitu sejarah saya. Orang tua saya asli Madiun. Sudah cukup membingungkan? Setelah menginjak SMA, saya hijrah ke kota Yogyakarta. 3 tahun disini sudah cukup membuat kota ini menjadi salah satu identitas saya. Manokwari, Madiun dan Yogyakarta menjadi hal wajib yang harus saya jelaskan untuk menjelaskan asal-usul saya. Ditambah lagi saat ini saya berkuliah di kota Surakarta. Sudah cukup membuat kalian bertanya bukan?

Sempat rasanya saya mengalami sebuah distorsi. Bertanya lagi “rumahku dimana?”. Apakah harus menjawab jawaban klise bahwa dimanapun keluarga berada disitu lah rumahmu? Rasanya untuk saya tidak sesederhana itu. Sempat pernah iri dengan teman-teman yang bisa secara gamblang menyebutkan dimana asal dan rumahnya tanpa ragu. Sempat pula saya harus berbohong supaya tidak mengalir cerita panjang untuk menceritakan hal-hal yang memang untuk saya risih untuk diceritakan selalu.

Perjalanan. Ya, saya anggap hidup ini adalah sebuah perjalanan. Mungkin bagi saya atau teman-teman yang membaca belum ada “rumah” tempat kita berpulang selalu. Mungkin bagi kalian yang membaca belum ada sebuah pelabuhan untuk kita bersandar kala kita capek. Perjalanan hidup menjelajahi berbagai kota dan ras membuat saya tersadar bahwa kita hanya bisa bergantung pada nasib akan membawa kita kemana. Perjalanan tidak akan membuat kita bergerak di tempat yang sama. Ada hal-hal ataupun tempat yang baru bakal membawa pelajaran lagi untuk kita. Di bumi ini, rasanya agak sayang kalau kita hanya berada di zona nyaman kita saja.

Akhirnya, saya memang belum punya rumah untuk berakhir. Dan perjalanan ini sepertinya belum setengahnya. Minggu depan saya akan ke Banda Neira. Seperti yang saya bilang, kita tidak tau nasib akan melabuhkan kita kemana, bukan? Selamat malam!


Jumat, 12 Januari 2018

My Book in 2017

Kita ketemu lagi! Setelah lama vakum (lagi) akibat sibuknya dunia perkuliahan, saya sempatkan lagi untuk menulis blog lagi. Hitung-hitung untuk mengisi waktu libur yang cukup luang (hahaha). Dalam blog kali ini, buku menjadi hal yang ingin saya bahas.

Saya mau membahas sedikit tentang bagaimana buku dan saya memiliki ikatan. Saya termasuk tipe orang yang suka melihat buku, membeli buku, tapi malas membaca. Sering dari kecil saya tertarik dengan cover buku yang menarik tetapi akhirnya tidak saya baca. Baru pada awal masa SMA, saya mulai aktif membaca. Sudah 20 buku lebih yang saya tamatkan.

Tahun 2017 merupakan titik balik hubungan saya dengan buku. Melihat carut marutnya indonesia membuat saya sadar bahwa orang indonesia itu malas membaca. Maka dari itu, saya tidak mau ikut bodoh karena malas membaca. Saya memberanikan diri saya sendiri untuk membaca banyak buku di tahun 2017. Beberapa bulan terakhir bahkan, saya membaca 2-3 buku berbarengan agar lebih banyak buku yang bisa saya baca.

Kali ini, saya mau review beberapa buku yang saya baca di tahun 2017. Langsung sikat!

1. 1984 – George Orwell




1984, suatu judul yang cukup unik untuk sebuah buku. Novel karya George Orwell ini menceritakan tentang sebuah negara di tahun 1984. Di tahun itu, semua gerak-gerik masyarakat dipantau oleh pemerintah. Kekuasaan seorang “Big Brother” di novel ini begitu totaliter. Disamping totaliter, semua rakyat bisa jatuh cinta terhadap negara tersebut.

Buku ini awalnya saya beli karena melihat banyaknya beberapa review di medsos. Setelah itu, saya mulai googling di internet untuk melihat reviewnya. Setelah membeli dan membacanya, It’s amazing! Benar-benar buku yang punya plot twist yang keren! Dari buku ini, kita bisa banyak tahu bagaimana suatu pemerintahan menjalankan propaganda, membuat kebohongan, memantau gerak-gerik rakyatnya, agar semua rakyat bisa tunduk kepada pemerintah, sangat relevan denga kehidupan sekarang! Di novel ini, tokoh utama adalah salah satu warga yang merasa ada sebuah konspirasi dibalik pemerintahannya. Ketika saya membacanya, saya mengira cerita ini bakal menjadi sebuah kisah perlawanan terhadap sebuah rezim. Tetapi, saya dibuat terheran-heran dengan akhir cerita yang menurut saya bisa jadi mengecewakan ekspetasi sebelumnya. Novel ini membuat saya menyukai sad ending! Sangat dianjurkan membaca bagi pencinta konspirasi (hahaha).


2. Corat-Coret di Toilet – Eka Kurniawan




Buku ini sebenarnya hasil hunting di Togamas. Corat-Coret di Toilet sendiri adalah kumpulan cerpen dengan 12 cerita di dalamnya. Buku ini menjadi menarik dengan pemilihan katanya yang menurut saya agak nyeleneh. Banyak kritik sosial di dalamnya. Kita bisa menerawang tentang kejadian-kejadian di sekitar kita dengan membaca buku ini. Salah satu cerpen favorit saya dalam buku ini yaitu sesuai dengan judul buku, Corat-Coret di Toilet. Dalam cerpen ini, digambarkan keadaan sebuah toilet yang jorok penuh dengan coretan. Tetapi melalui coretan-coretan itu, terdapat kritik yang disampaikan. Dan yang membuat saya terngiang-ngiang dengan cerpen tersebut adalah kita bahkan lebih percaya corat-coret di toilet ketimbang kata-kata pejabat. Itu manis untuk diucapkan J


3. Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie



Buku satu ini katanya adalah buku yang wajib dimilki oleh seorang aktivis (hahaha). Catatan Seorang Demonstran berisi catatan harian atau diary dari seorang mahasiswa aktivis asal UI, Soe Hok Gie. Catatan hariannya memuat berbagai keluh kesah Soe Hok Gie dari bangku SMP hingga dunia perkuliahan. Yang menarik dari buku ini adalah kita seperti diajak mengikuti hari-hari Gie selama hidupnya. Jujur saja, saya butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikan buku ini. Demonstrasi, pendakian gunung, organisasi kampus dan dunia percintaan menjadi hal menarik yang bisa kita ambil dari buku ini. Banyak kritik sosial yang langsung disampaikan oleh Gie di buku hariannya. Rekomendasi untuk kalian calon aktivis kampus.


4. Animal Farm – George Orwell



Lagi-lagi George Orwell membuat saya kagum dengan karyanya. Salah satu karyanya yang mendunia yaitu Animal Farm. Novel ini menceritakan tentang pemberontakan hewan-hewan di sebuah peternakan. Mereka akhirnya menjalankan peternakan dengan tangan mereka sendiri. Akan tetapi, seiring waktu mulai terjadi politik dalam kekuasaan di peternakan. Hal yang menarik dari novel ini adalah bagaimana George Orwell mampu mengemas cerita yang sebenarnya penuh politik menjadi sederhana dengan hewan sebagai tokoh utamanya. Dan sekali lagi, terjadi sad ending di novel ini. Bagi saya, novel ini ringan dibaca untuk orang yang malas membaca karena cuku tipis. Salah satu novel favorit saya.


5. Cerpen Pilihan Kompas 2014


Buku kumpulan cerpen menjadi salah satu buku yang  suka saya baca. Ceritanya yang variatif membuat saya tertarik untuk membacanya. Salah satu kumpulan cerpen favorit saya adalah buku Cerpen Pilihan Kompas 2014 dengan mengambil judul dari salah satu cerpennya, Di Tubuh Tarra dalm Rahim Pohon. Banyak cerita menarik di dalamnya. Salah satu favorit saya adalah Matinya Seorang Demonstran. Bisa coba dibaca bagi kalian yang mau mencoba menjadikan membaca sebagai hobi.


6. Penghancuran Buku dari masa ke masa – Fernando Baez


Cukup menarik saat pertama kali melihat judulnya. Dalam buku ini dijabarkan secara gamblang tentang bagaimana dari masa ke masa buku itu dihancurkan. Dari kekaisaran Mesir sampai zaman teknologi. Membaca buku ini saya akui cukup membosankan karena hanya menjabarkan sejarah penghancuran buku. Tetapi yang membuat saya menarik adalah banyak fakta-fakta yang belum saya tahu. For your information, di buku ini juga terdapat penghancuran buku yang terjadi di Indonesia. Semoga masyarakat Indonesia tidak anti dengan buku dan senang membaca.


7. Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta – Luis Sepulveda


Novel yang menurut saya menarik! Menceritakan seorang pria tua yang hanya senang membaca novel cinta. Simpel bukan ceritanya? Tetapi jalan ceritanya tidak sesederhana itu. Di dalam ceritanya, kita digiring masuk ke pedalaman Amazon. Novel ini barangkali buat saya makin mengerti hubungan kita dengan alam. “Pak Tua” untuk saya dalam novel ini menarik untuk diceritakan karena keahliannya bertahan hidup di hutan dan bagaimana dia bisa bersatu dengan alam.

Penerbit novel ini, Marjin Kiri, membuat banyak novel yang lumayan menarik untuk dibaca. Sekali lagi saya rekomendasikan untuk pembaca pemula.









Itulah beberapa buku-buku yang saya baca di tahun 2017. Sebenarnya, masih ada banyak buku yang saya beli di tahun 2017. Tetapi, banyak juga buku yang belum saya habiskan. Doakan saja makin banyak buku yang saya bisa baca di tahun 2018.


Pesan singkat untuk para pembaca, sering-sering lah membaca. Kamu bakal mengerti betapa pentingnya membaca ketika kamu melihat bagaimana keadaan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh orang-orang yang tidak pernah membaca. Selamat menunaikan ibadah membaca, kawan!

Rabu, 15 Februari 2017

Cerita Masuk Kampus


Kembali berjumpa, Pemikir Muda! Memasuki fase menjadi “anak kuliahan” memberikan banyak sisi positif maupun negatif. Sisi positifnya makin banyak libur, tetapi negatifnya stres akibat materi pun berkejaran. Baru saja liburan semester akan berakhir dan masa produktif saya pun akan dimulai. Sebelum memulai perkuliahan semester 2 ini, ada baiknya kita memulai dengan sebuah postingan baru di blog sekaligus juga menyegarkan lagi blog saya yang sudah sepi pembaca. Postingan kali ini akan berisi tentang cerita saya dalam mendapatkankan kampus. Postngan ini akan agak panjang jadi sediakan waktu senggang untuk membaca postingan ini. Selamat membaca!

Ketika banyak siswa kelas 3 SMA mulai bimbang menentukan akan melanjutkan ke jurusan apa, saya sendiri sudah menentukan jurusan yang akan saya geluti sedari SMP. Saya memilih jurusan Kedokteran sebagai jurusan masa depan saya. Impian ini sebenarnya muncul ketika di kota saya dibesarkan, Manokwari, tenaga medis belum begitu maju. Bahkan, untuk penyakit parah, orang harus dirujuk ke Jawa karena penanganan yang belum memadai di Manokwari. Melihat hal itu membuat saya berkeinginan untuk menjadi dokter di kota kelahiran saya. Terdengar klise tetapi memang itu yang terjadi. Perjalanan pun berlanjut ketika masuk SMA. Memasuki SMA dengan predikat “terendah” di Kota Yogyakarta membuat saya minder. Bertanya-tanya kepada guru maupun alumni, belum ada yang masuk jurusan Kedokteran di PTN lima tahun terakhir. Walaupun begitu, saya tetap mengikat impian saya  untuk masuk jurusan Kedokteran. Masuk kelas 2 SMA, saya sudah menentukan mau masuk mana selanjutnya: Jurusan Pendidikan Dokter UGM. Terdengar idealis memang tetapi saya tetap bertekad untuk mencapai impian saya tersebut.

Akhirnya kelas 3 SMA pun dimulai. Hawa perburuan perguruan tinggi pun sudah terasa. Saling tanya tentang info-info perguruan tinggi, ngobrol tentang jurusan yang akan dimasuki pun sudah jadi makanan biasa di kelas. Saya tetap memantapkan hati saya untuk masuk jurusan Pendidikan Dokter UGM. Minder sering saya rasakan ketika saya mengutarakan kepada teman-teman maupun guru-guru ketika saya memilih jurusan Kedokteran sebagai jurusan pilihan saya. Di semester 1 saya belum terlalu memiliki persiapan yang matang dalam menghadapi SBMPTN. Ya, SBMPTN adalah salah satu jalur yang saya paling persiapkan karena SNMPTN sudah tidak mungkin lagi untuk saya perjuangkan.

Semester 2 adalah start bagi saya untuk memulai. Masuk bimbel untuk belajar SBMPTN, membeli kaset untuk menunjang belajar dan mengerjakan soal-soal adalah makanan saya sehari-hari. Banyak hal yang akhirnya saya korbankan sementara, salah satunya kebiasaan saya menonton anime saya tunda dulu. Ketika penat menyerang, saya teringat lagi bagaimana rasanya nanti jika saya diterima, betapa senangnya perasaan itu. Hal-hal seperti yang membuat saya terus semangat untuk persiapan SBMPTN.

Selain mengejar untuk SBMPTN, saya juga mencoba mendaftar di PTS. PTS yang saya sasar yaitu UII. Sebenarnya dalam hati terkecil saya PTS bukanlah tujuan saya, namun untuk kemungkinan terburuk bukanlah hal yang buruk jika kita mengambil PTS sebagai cadangan. Setelah mencoba 2 kali tes, akhirnya saya lolos di prodi Pendidikan Dokter UII. Senang tentu saja, namun hal yang membuat saya murung yaitu soal biaya. Jumlah sumbangan yang harus saya bayarkan saja 225 juta. Belum lagi soal biaya semester kedepannya. Hal-hal ini yang membuat saya kepikiran. Namun, bapak saya meyakinkan bahwa dia mampu menguliahkan saya disitu walaupun saya yakin untuk kuliah disitu butuh pengorbanan biaya yang sangat besar. Bertambahlah lagi motivasi saya untuk masuk jurusan Kedokteran di PTN, terutama UGM.





Saat pengunguman SNMPTN tiba, sudah dipastikan bahwa saya tidak lolos. Bagaimana tidak, saya mengambil pilihan Pendidikan Dokter UGM dan Kedokteran UNS sehingga wajar jika tidak lolos. Namun, ada rasa iri juga karena beberapa teman ada yang lolos. Saya jadikan itu sebagai cambukan lagi agar tetap semangat mengejar SBMPTN. Beberapa TO SBMPTN sudah dikerjakan, namun hasilnya masih saja dibawah target. Melihat passing grade prodi-prodi Kedokteran membuat saya agak minder. Dan terlebih lagi hasil TO SBMPTN belum pernah mendekati  passing grade prodi-prodi Kedokteran. Akhirnya, saat pendaftaran SBMPTN, saya menyingkirkan segala prasangka buruk jika gagal. Biarlah menjadi idealis tetapi kita juga bekerja keras. Pilihan SBMPTN saya yaitu: Pendidikan Dokter UGM, Kedokteran UNS dan Pendidikan Dokter UB. Banyak yang bilang pilihan SBMPTN saya agak nekat, tetapi biarlah jika memang itu sudah impian.

Hari yang ditunggu pun tiba. Hari perjuangan selama kurang lebih 5 bulan ditentukan. Perasaan saat itu campur aduk, tetapi saya berusaha tenang ketika soal SBMPTN sudah di atas meja. Perintah untuk membuka soal pun diberikan. Tahu apa yang pertama kali saya pikirkan tentang soalnya? Saya berpikir bahwa soal ini susah dan saya yakin tidak bakal lolos. Saya pikir saya sudah diterima di UII sehingga biarlah jika hasilnya nanti gagal. Akhirnya saya mengerjakan semampu saya. Percaya diri pun muncul saat mengerjakan soal baik itu soal SAINTEK maupun TKDU. Alhamdullilah saya cukup lancar mengerjakan soal itu, walaupun rasa takut juga membayangi. Seminggu kemudian, saya juga mengikuti UTUL UGM dengan pilihan: Pendidikan Dokter, Pendidikan Dokter Gigi dan Gizi Kesehatan. Namun, soal UTUL UGM ternyata lebih susah daripada yang saya bayangkan. Akhirnya dengan pasrah saya mengerjakan soal.

Penantian menunggu pengunguman SBMPTN pun tiba. Kebetulan saat itu bulan puasa. Jadi setiap malam saya susah tidur memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Saya sering tidak tidur hingga sahur. Walaupun memang sudah diterima di Pendidikan Dokter UII, tetap saja perasaan gusar tetap muncul. Saya selalu berdoa untuk bisa diterima, tidak peduli universitas manapun yang penting PTN agar saya bisa meringankan sedikit beban biaya kuliah saya.

Tanggal 28 Juni 2016 tiba. Pengunguman SBMPTN diumumkan jam 14.00. Di banyak grup Line sudah saling memberikan semangat jika nanti diterima ataupun tidak diterima. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00, tetapi saya asih menunggu karena tahu bahwa pasti websitenya akan down akibat banyak yang mengakses. Saya malah berpikir untuk membukanya sehabis buka puasa. Penasaran pun berkecamuk seketika banyak teman-teman yang sudah tahu hasilnya. Akhirnya dengan jantung berdebar kencang, saya memberanikan diri membuka pengunguman SBMPTN. Sebelum masuk ke pengunguman, saya menutup mata saya. Setelah membuka mata perlahan, saya melihat tulisan SELAMAT. Langsung saja saya bangkit dari tempat tidur dan langsung memeluk bapak saya yang sedang baca koran. Saya diterima di prodi Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Tidak ada yang bisa saya ungkapkan saat itu. Hanya bersyukur yang bisa saya panjatkan. Walaupun diterima di pilihan kedua, saya sangat bersyukur bisa diterima prodi Kedokteran UNS yang notabene adalah PTN. Saya akhirnya bisa meringankan beban biaya kuliah. 3 hari kemudian pengunguman UTUL UGM tiba, tetapi sayang saya tidak lolos. Namun, saya tetap bersyukur bahwa saya bisa diterima di Kedokteran UNS.


Dari perjuangan saya masuk perguruan tinggi saya mendapat banyak pelajaran bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau percaya dan mau berusaha. Kamu boleh berandai-andai tetapi dengan modal yang besar juga. Artinya kamu boleh berandai-andai masuk ke jurusan yang kamu inginkan tetapi dengan modal bahwa kamu sudah mempersiapkan matang-matang untuk masuk ke jurusan yang kamu inginkan. Akhir kata mohon maaf jika ada salah-salah kata dari saya. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menginspirasi untuk kalian yang sedang berjuang masuk kampus. Semangat pejuang PTN 2017!

Senin, 09 Januari 2017

Alasan tidak ikut aksi

Selamat pagi, Pemikir Muda! Rasanya sudah lama sekali tidak menerbitkan tulisan baru lagi di blog ini. Sekedar info saja, saya sekarang sudah menjadi mahasiswa. Dunia baru sudah saya hadapi sekarang. Dan postingan kali ini pun saya buat karena pikiran saya yang menggebu-gebu butuh untuk disalurkan. Jadi, silahkan dinikmati tulisan pendek saya kali ini.

Barangkali ada yang bertanya-tanya dengan maksud judul tulisan diatas.

“aksi apa?”

Baik, jadi saya kuliah di FK Universitas Sebelas Maret (insyaallah di tulisan berikutnya saya akan menceritakan perjalanan saya masuk dunia perkuliahan). Dan seperti kita tahu juga bahwa ada “kado awal tahun” yang diberikan oleh pemerintah yaitu kenaikan BBM, kenaikan tarif listrik dan kenaikan pajak STNK dan BPKB. Bagai hukum alam, mahasiswa di seluruh indonesia pun mulai bergerak menuntut pemerintah atas “kado awal tahun” yang diberikan pemerintah kepada masyarakat indonesia. Hal ini pun berlaku di Solo. Dengan jumlah perguruan tinggi yang cukup banyak sehingga dilakukanlah aksi menuntut pemerintah untuk menurunkan harga. Maka, disebarkanlah seruan aksi yang akan dilaksanakan 9 Januari 2017 di depan Kantor Balaikota Solo. Seruan aksi itu disebarkan melalui via medsos. Kebetulan saya menerima seruan aksi via Line. Di banyak grup, banyak yang mengajak untuk mengikuti aksi. Dan akhirnya, pada 9 Januari 2017, ketika aksi menuntut kebijakan pemerintah itu dilaksanakan, saya tidak ikut.

Kenapa? Alasan simpel saya tidak mengikuti aksi adalah karena saya belum mengerti duduk permasalahan. Dan kalau saya boleh mengutarakan dengan jujur, saya belum tahu siapa yang saya bela jika saya mengikuti aksi itu. Berteriak-teriak membela rakyat? Itu bagi mereka yang sudah paham apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka bela. Sebaliknya, saya belum paham betul apa yang sedang kita tuntut sekarang. Pembaca boleh saja menyebut saya apatis. Sah-sah saja menyebut saya begitu. Namun hal yang ingin saya diskusikan adalah ajakan-ajakan aksi yang menurut saya hanya seperti menghadiri acara seremonial.

Saya memohon maaf sebelumnya jika saya menulis seperti itu, namun saya hanya mengingatkan sebagai sesama kawan mahasiswa. Ketika kalian mengajak mengikuti aksi itu seperti kalian mengajak menghadiri acara makan-makan. Kawan-kawan, aksi ini untuk membela rakyat yang sedang kesusahan. Bukan hanya aksi untuk menunjukkan bahwa kalian mahasiswa. Pencitraan. Berusaha membuktikan bahwa kalian adalah mahasiswa tetapi hanya bergerak tanpa mengerti apa yang kalian perjuangkan. Teruntuk kalian yang memang sudah mengerti apa yang terjadi dan turun hari ini dengan niat murni untuk membela rakyat, saya puji idealisme kalian. Dan teruntuk kalian yang hanya mengikuti aksi karena hanya karena ikut-ikutan, mungkin di lain kesempatan bisa diperbaiki lagi niatnya.

Mungkin menurut bagi kalian saya lancang membicarakan hal-hal mengenai aksi seperti ini padahala saya saja masih semester 1. Namun, kawan-kawan, jika memang kamu sendiri dalam membela rakyat, itu tak apa. Bisa kita lihat dari Soe Hok Gie, panutan mahasiswa dalam melancarkan aksinya. Sendirian bagi Soe Hok Gie dalam menuntut pemerintah tak apa baginya jika dia tetap bisa mempertahankan idealismenya sebagai mahasiswa.


Saya sekali lagi memohon maaf jika dari tulisan ini mungkin membuat kawan-kawan tersinggung dan menimbulkan rasa tidak senang terhadap saya. Sekali lagi saya hanya menyampaikan buah pikiran saya kepada kawan-kawan sekalian. Terimakasih atas waktunya membaca tulisan ini.

Selasa, 12 April 2016

Cerita pendek seorang pegawai

Welcome back! Saya kembali lagi dengan menghadirkan posting terbaru. Tetapi, posting saya kali ini berbeda dari biasanya. Jika biasanya saya menulis tentang artikel, tetapi hari ini saya menulis sebuah cerita pendek atau cerpen. Kadang, sekali waktu kita butuh keluar sebentar agar tidak monoton. Oke, selamat membaca!

Alkisah, di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang pegawai. Sebut saja namanya Badrun. Dia bekerja di suatu perusahan biasa dengan gaji yang biasa pula. Dia mempunyai seorang istri dan seorang anak. Dari luar, Badrun  terlihat seperti pegawai seperti umumnya. Namun, orang-orang di sekitarnya menilai dia sebagai orang yang kritis. Badrun sering mengomentari berbagai hal yang dirasanya tidak sesuai dengan pemikirannya.

Suatu hari, Badrun bertemu dengan seorang juru parkir. Ia pun berujar kepada sang juru parkir, “ Wahai juru parkir, seharusnya kamu lebih cekatan dalam bekerja. Motor dan mobil yang menjadi amanahmu harus kamu jaga sebaik-baiknya. Jangan cuma bermalas-malasan. Bekerjalah yang giat agar kamu menjadi sukses.”.

Suatu hari pula, Badrun sedang berkumpul bersama kawan-kawan kantornya. Mereka membicarakan gaji yang tidak naik-naik. Sekali lagi, Badrun pun mengungkapkan pikirannya pada kawan-kawannya. “Wahai kawan-kawanku, bukankah kita telah bekerja keras untuk kantor ini? Seharusnya kita mendapatkan gaji yang lebih. Seharusnya perusahaan harus lebih menghargai kita sebagai pegawai. Pemimpin perusahaan ini harusnya malu karena telah mensia-siakan kita.”.

Berakhirnya rutinitasnya di kantor membuat Badrun lelah. Di meja makan, hanya tersedia sedikit lauk. Selain itu, keadaan rumah pun berantakan. Mengeluhlah Badrun pada istrinya. “Wahai istriku, aku lelah telah seharian di kantor. Cobalah lebih mengerti aku. Sediakanlah aku makanan yang pantas. Perut ini kosong untuk mencari uang. Dan juga istriku, aku ingin melihat rumah ini bersih, tidak seperti ini. Bersihkanlah agar indah dilihat.”.

Akhirnya, Badrun bisa bersantai di depan televisi bersama anaknya. Ia menonton berita tentang kebijakan baru pemerintah negerinya. Badrun pun berkata pada anaknya. “Wahai anakku, lihatlah pemerintah negeri ini. Seharusnya mereka lebih bisa membuat kebijakan yang lebih baik. Kebijakan yang berpihak pada rakyatnya. Seharusnya mereka lebih peduli terhadap rakyatnya ketimbang dengan urusan yang lain. Alangkah aku kecewa kepada pemerintah negeri ini.”. Lantas, anaknya pun bertanya, “Wahai ayahku, bukankah seharusnya kita menghargai kerja pemerintah negeri ini? Sesungguhnya mereka telah bekerja keras untuk rakyat.”. Badrun dengan sigapnya menjawab, “Wahai anakku, tugas kitalah sebagai rakyat untuk mengkritisi hasil kerja pemerintah negeri ini. Jangan mau kau terperdaya dengan kebijakan pemerintah. Kita itu rakyat kecil yang selalu dibodohi.”.

Begitulah kehidupan Badrun, selalu mempunyai pikiran kritis terhadap apapun di depan matanya. Hingga akhir hayatnya, Badrun pun hanya meninggalkan nama sebagai Badrun si Pegawai Biasa dengan Gaji Biasa. Ya, dia hanya orang biasa. Setidaknya, tidak lagi yang perlu dikomentari. Tamat.



Sekian dulu postingan saya kali ini. Dari cerpen itu, terserah kalian untuk menafsirkannya. Pemikiran kalian dibebaskan untuk mengartikannya. Sampai jumpa lagi dipostingan berikutnya!    

Selasa, 08 Maret 2016

Sekelumit Al-Kafirun dalam Realita

Welcome back! Di hari-hari setelah masa vakum saya, sepertinya ada semangat baru untuk kembali menyiarkan kembali tulisan-tulisan saya melalui blog ini. Dan, tampilan blog saya pun berevolusi menjadi lebih enak dipandang daripada sebelumnya. Singkat cerita saya agak minder kermarin setelah melihat pembaca yang masih sedikit, lalu dengan dorongan ingin dibaca lebih banyak, saya mencari tahu di internet (re: bertanya mbah Google) dan akhirnya tampilan blog saya tampak lebih baru. Jadi, tidak usah berlama-lama, silahkan menikmati!

Jujur saja, saya agak malas membicarakan topik yang satu ini. Selain juga saya memang bukan orang yang terlalu tahu tentang agama, saya juga malas ribut hanya karena ini. Namun, saya melihat harus mengungkapkan isi pikiran saya tentang topik yang satu ini. Bagi yang menganut agama Islam sendiri, Al-Kafirun merupakan salah satu surah dalam kitab suci Al-Qur’an. Isi surah Al-Kafirun adalah kompromi kaum kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka membuat perjanjian, jika Muhammad menyembah Tuhan mereka, maka mereka pun akan menyembah Allah SWT. Maka, diturunkanlah surah Al-Kafirun.

Mungkin agak kurang “srek” bagi saya jika membicarakan satu agama saja dalam konteks yang universal. Jadi, intinya bahwa yang ingin saya bahas disini adalah ayat ke-6 dari surah Al-Kafirun yang bunyinya seperti ini:
“Lakum diinukum waliya diini”

Atau terjemahan dalam bahasa Indonesia menjadi seperti ini:

“Bagimu agamu dan bagiku agamaku”

Well, ayat ke-6 tersebutlah jawaban Allah SWT terhadap kaum kaum kafir Quraisy. Agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku. Tak perlu saling melengkapi. Dan hal inilah yang saya lihat di kehidupan sehari-hari. Banyak orang kadang di sekitar saya sering menggunakan agama lain dalam candaannya, jadi ini jawaban atas tindakan kebanyakan orang. Tidak perlu kita saling menggubris satu sama lain. Tidak perlu juga kita saling bergesekan satu sama lain.

Bagi pribadi saya, membenarkan satu agama adalah hal yang privasi. Kebenaran tak perlu dipaksakan. Jika kita benar, ya laksanakan kebenaran kita. Jika mereka benar, ya biarkan mereka menikmati kebenaran mereka. Menjadikan kita homolog hanya akan berujung pada ketidakseimbangan. Hasilnya, terjadilah hal-hal yang tak dinginkan bagi sang pembela homolog.

Selama ini, banyak persepsi orang menyatakan bahwa kedamaian hadir dalam bentuk kebenaran yang absolut. Tetapi, bagi saya pribadi, kedamaian hadir dalam bentuk diam. Ya, hanya dengan kita tidak saling membenturkan demi mencari kebenaran pun akan menghasilkan tentram yang mendamaikan. Bukan tempat kita sebagai hakim bahwa sesuatu salah atau benar. Hanya Sang Pencipta yang punya hak prerogatif itu. Jadi, jalankan saja kebenaranmu dan nikmati kebenaranmu


Sekian dulu dari tulisan saya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya jika saya mempaut-pautkan salah satu agama dalam tulisan saya. Murni tulisan saya hanya untuk tempat menyalurkan ide saya. Terima kasih atas waktunya dan sampai jumpa! 

Rabu, 02 Maret 2016

How Supernova changed my life

Welcome back! Setelah dua tahun vakum dari dunia persilatan bloging, saya kembali lagi. Sempat saat awal kelas 11 kemarin saya ingin serius menulis lagi di blog, tapi hanya menjadi mimpi manis. Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, tulisan ini pun hadir untuk menjawab gundah akibat berbagai ide yang menyerang. Saya bukan tipe orang yang langsung update di sosmed jika mendapat ide, jadi mungkin banyak sampah ide yang menumpuk. Kegiatan saya lanjutkan kembali juga karena mendapat waktu luang (sebenarnya lagi malas) dari belajar karena tahun ini adalah tahun terakhir saya di SMA. Tidak membuang-buang waktu lagi, silakan menikmati tulisan saya!

Sebagai permulaan, saya menduga 70% orang akan menduga bahwa Supernova yang dimaksud disini adalah peristiwa alam. Bagi sebagian besar anak IPA pasti tahu (anak IPS juga ada lah yang tahu). You’re not wrong, dude. Tapi, saya bukan membicarakan fenomena Supernova, walaupun mempunyai efek yang sama-sama “meledakkan”. Bagi yang sering baca novel pasti tahu tentang Supernova. Yap, novel karya Dewi “Dee” Lestari, Supernova! The best novel I ever read! Untuk kalian yang tidak tahu novel ini, biarkan saya menjelaskannya pada kalian semua. Jadi, Supernova adalah karya pertama Dewi Lestari atau nama kerennya Dee. Supernova bagian pertama berjudul Kesatria, Putri & Bintang Jatuh. Dilanjutkan Akar, Petir, Partikel, Gelombang dan yang segera terbit sekaligus bagian terakhir adalah Intelegensi Embun Pagi. Saya tidak akan berlama-lama menjelaskan panjang lebar tentang Supernova.

Awal pertemuan saya dengan Supernova adalah pada tahun 2014. Jujur saja, saya adalah orang yang sering membeli buku tetapi jarang menyelesaikannya. Beberapa buku ringan karangan Pandji ataupun Wahyu Aditya bisa saya selesaikan, tapi untuk novel lain cerita. Hanya segelintir novel yang mampu saya selesaikan, sisanya hanya menumpuk di rak tanpa tahu dijamah. Saat itu di twitter, sedang gencar-gencarnya tentang PO buku terbaru Dee yaitu Supernova bagian kelima, Gelombang. Saya pikir sepertinya bukunya menarik, jadi saya pertama-tama membeli Supernova bagian pertama yaitu Kesatria, Putri & Bintang Jatuh. Bagian bab pertama saat membaca Supernova sudah membuat saya pusing untuk membacanya. Bagaimana tidak, terlalu banyak kalimat-kalimat “njelimet” yang perlu dicerna. Sesudah bab pertama rampung, saya dibuat pusing lagi saat membaca bab kedua. Memang, membaca Supernova membutuhkan konsentrasi super agar kita bisa sekedar mengerti. Setelah rampung membaca, saya jadi tergila-gila dengan Supernova. Segera saya meluncur ke Togamas dan langsung membeli Supernova bagian kedua dan ketiga, Akar dan Petir. I’ve addicted with it!

Saat membaca ketiga seri pertama Supernova, sekilas saya kagum. Namun begitu membaca Partikel, saya terpukau. Jujur saja, bagi saya diantara seri-seri Supernova, Partikel yang paling berpengaruh untuk saya. Ibu Suri seperti memaksa saya untuk kembali melihat bahwa kita sebagai manusia adalah bagian dari alam. Butuh waktu juga untuk merenungi kembali tulisan-tulisan Ibu Suri.

Supernova tidak saya maknai hanya sebagai novel belaka, juga Supernova saya maknai sebagai salah satu yang berhasil mengubah pikiran saya. Bukan sekedar cerita yang saya bisa ambil dari Supernova, tetapi juga bagaimana kita untuk kembali mempertanyakan eksistensi kita sebagai manusia. Mungkin bahasa saya agak berlebihan, namun begitulah apa yang terjadi. Menyadari lagi berbagai pertanyaan dasar yang akhirnya juga terjawab oleh kita sendiri. Seperti kata Ibu Suri, dia menulis Supernova untuk bertanya juga sekaligus menjawab berbagai pertanyaan yang ada.

Saat menulis tulisan ini, saya sudah menamatkan seri Supernova yang terakhir, Inteligensi Embun Pagi. Saya dan banyak pembaca Supernova juga sulit untuk berpisah dengan Supernova. Namun, berbagai tulisan-tulisan Ibu Suri berhasil membuat saya menamatkan Supernova dalam ketenangan. Alangkah indahnya perpisahan yang diakhiri dengan kedamaian, layaknya perpisahan Sarah dan Zarah ataupun Alfa dan kawan-kawannya.

Mungkin saya agak dramatis dalam menggambarkan bagaimana Supernova berhasil “meledakkan” saya. Namun, itulah berbagai ide yang terus sliweran di kepala. Kadang ada saatnya kita tidak bisa lagi menyimpan berbagai ide yang menumpuk.


Sekian tulisan saya yang agak panjang ini. Insyaallah, saya akan lebih produktif lagi dalam menulis blog. Terima kasih!