Jumat, 28 Juni 2019

Bagaimana rasanya tidak punya rumah?


Halo Pemikir Muda! Lama sudah tidak jumpa. Sudah lebih dari satu tahun saya tidak lagi menulis di blog ini. Setelah tulisan terakhir sempat ada niat untuk melanjutkan aktif di blog ini dan rutin untuk menulis di blog ini. Tapi, nasib berkata lain. Kesibukan di kampus rupanya memang tidak bisa diduakan. Akhirnya, setelah kesibukan akhir-akhir yang sudah mereda dan siap untuk menjelajah lebih jauh lagi, saya akan menulis lagi tentang sesuatu yang buat teman-teman membaca cukup asing. Langsung saja silahkan membaca!

Seringkah dalam rangkaian sebuah perkenalan teman-teman disuruh untuk menyebutkan asal daerah? Atau sederhananya menyebutkan tinggal dimana? Itu sudah menjadi barang wajib untuk mengenalkan identitas kita. Namun bagaimana rasanya pertanyaan itu untuk beberapa orang menjadi momok tersendiri? Ya, saya mengalami hal itu. Saya selalu berpikir apa yang harus saya jawab untuk pertanyaan itu. Rasanya mungkin untuk menjawab pertanyaan itu saya harus menjelaskan sejarah singkat hidup saya terlebih dahulu.


Saya lahir di kota Manokwari, Papua Barat. Kalau begitu saya orang Papua? Belum sampai disitu sejarah saya. Orang tua saya asli Madiun. Sudah cukup membingungkan? Setelah menginjak SMA, saya hijrah ke kota Yogyakarta. 3 tahun disini sudah cukup membuat kota ini menjadi salah satu identitas saya. Manokwari, Madiun dan Yogyakarta menjadi hal wajib yang harus saya jelaskan untuk menjelaskan asal-usul saya. Ditambah lagi saat ini saya berkuliah di kota Surakarta. Sudah cukup membuat kalian bertanya bukan?

Sempat rasanya saya mengalami sebuah distorsi. Bertanya lagi “rumahku dimana?”. Apakah harus menjawab jawaban klise bahwa dimanapun keluarga berada disitu lah rumahmu? Rasanya untuk saya tidak sesederhana itu. Sempat pernah iri dengan teman-teman yang bisa secara gamblang menyebutkan dimana asal dan rumahnya tanpa ragu. Sempat pula saya harus berbohong supaya tidak mengalir cerita panjang untuk menceritakan hal-hal yang memang untuk saya risih untuk diceritakan selalu.

Perjalanan. Ya, saya anggap hidup ini adalah sebuah perjalanan. Mungkin bagi saya atau teman-teman yang membaca belum ada “rumah” tempat kita berpulang selalu. Mungkin bagi kalian yang membaca belum ada sebuah pelabuhan untuk kita bersandar kala kita capek. Perjalanan hidup menjelajahi berbagai kota dan ras membuat saya tersadar bahwa kita hanya bisa bergantung pada nasib akan membawa kita kemana. Perjalanan tidak akan membuat kita bergerak di tempat yang sama. Ada hal-hal ataupun tempat yang baru bakal membawa pelajaran lagi untuk kita. Di bumi ini, rasanya agak sayang kalau kita hanya berada di zona nyaman kita saja.

Akhirnya, saya memang belum punya rumah untuk berakhir. Dan perjalanan ini sepertinya belum setengahnya. Minggu depan saya akan ke Banda Neira. Seperti yang saya bilang, kita tidak tau nasib akan melabuhkan kita kemana, bukan? Selamat malam!


0 komentar:

Posting Komentar