Halo Pemikir Muda! Lama sudah
tidak jumpa. Sudah lebih dari satu tahun saya tidak lagi menulis di blog ini.
Setelah tulisan terakhir sempat ada niat untuk melanjutkan aktif di blog ini
dan rutin untuk menulis di blog ini. Tapi, nasib berkata lain. Kesibukan di
kampus rupanya memang tidak bisa diduakan. Akhirnya, setelah kesibukan
akhir-akhir yang sudah mereda dan siap untuk menjelajah lebih jauh lagi, saya
akan menulis lagi tentang sesuatu yang buat teman-teman membaca cukup asing.
Langsung saja silahkan membaca!
Seringkah dalam rangkaian sebuah
perkenalan teman-teman disuruh untuk menyebutkan asal daerah? Atau sederhananya
menyebutkan tinggal dimana? Itu sudah menjadi barang wajib untuk mengenalkan
identitas kita. Namun bagaimana rasanya pertanyaan itu untuk beberapa orang
menjadi momok tersendiri? Ya, saya mengalami hal itu. Saya selalu berpikir apa
yang harus saya jawab untuk pertanyaan itu. Rasanya mungkin untuk menjawab
pertanyaan itu saya harus menjelaskan sejarah singkat hidup saya terlebih
dahulu.
Saya lahir di kota Manokwari,
Papua Barat. Kalau begitu saya orang Papua? Belum sampai disitu sejarah saya.
Orang tua saya asli Madiun. Sudah cukup membingungkan? Setelah menginjak SMA,
saya hijrah ke kota Yogyakarta. 3 tahun disini sudah cukup membuat kota ini
menjadi salah satu identitas saya. Manokwari, Madiun dan Yogyakarta menjadi hal
wajib yang harus saya jelaskan untuk menjelaskan asal-usul saya. Ditambah lagi
saat ini saya berkuliah di kota Surakarta. Sudah cukup membuat kalian bertanya
bukan?
Sempat rasanya saya mengalami
sebuah distorsi. Bertanya lagi “rumahku dimana?”. Apakah harus menjawab jawaban
klise bahwa dimanapun keluarga berada disitu lah rumahmu? Rasanya untuk saya
tidak sesederhana itu. Sempat pernah iri dengan teman-teman yang bisa secara
gamblang menyebutkan dimana asal dan rumahnya tanpa ragu. Sempat pula saya
harus berbohong supaya tidak mengalir cerita panjang untuk menceritakan hal-hal
yang memang untuk saya risih untuk diceritakan selalu.
Perjalanan. Ya, saya anggap hidup
ini adalah sebuah perjalanan. Mungkin bagi saya atau teman-teman yang membaca
belum ada “rumah” tempat kita berpulang selalu. Mungkin bagi kalian yang
membaca belum ada sebuah pelabuhan untuk kita bersandar kala kita capek. Perjalanan
hidup menjelajahi berbagai kota dan ras membuat saya tersadar bahwa kita hanya
bisa bergantung pada nasib akan membawa kita kemana. Perjalanan tidak akan
membuat kita bergerak di tempat yang sama. Ada hal-hal ataupun tempat yang baru
bakal membawa pelajaran lagi untuk kita. Di bumi ini, rasanya agak sayang kalau
kita hanya berada di zona nyaman kita saja.
Akhirnya, saya memang belum punya
rumah untuk berakhir. Dan perjalanan ini sepertinya belum setengahnya. Minggu
depan saya akan ke Banda Neira. Seperti yang saya bilang, kita tidak tau nasib
akan melabuhkan kita kemana, bukan? Selamat malam!

0 komentar:
Posting Komentar