Welcome back! Di hari-hari
setelah masa vakum saya, sepertinya ada semangat baru untuk kembali menyiarkan
kembali tulisan-tulisan saya melalui blog ini. Dan, tampilan blog saya pun
berevolusi menjadi lebih enak dipandang daripada sebelumnya. Singkat cerita
saya agak minder kermarin setelah melihat pembaca yang masih sedikit, lalu
dengan dorongan ingin dibaca lebih banyak, saya mencari tahu di internet (re:
bertanya mbah Google) dan akhirnya tampilan blog saya tampak lebih baru. Jadi,
tidak usah berlama-lama, silahkan menikmati!
Jujur saja, saya agak malas
membicarakan topik yang satu ini. Selain juga saya memang bukan orang yang
terlalu tahu tentang agama, saya juga malas ribut hanya karena ini. Namun, saya
melihat harus mengungkapkan isi pikiran saya tentang topik yang satu ini. Bagi
yang menganut agama Islam sendiri, Al-Kafirun merupakan salah satu surah dalam
kitab suci Al-Qur’an. Isi surah Al-Kafirun adalah kompromi kaum kafir Quraisy
kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka membuat perjanjian, jika Muhammad menyembah
Tuhan mereka, maka mereka pun akan menyembah Allah SWT. Maka, diturunkanlah
surah Al-Kafirun.
Mungkin agak kurang “srek” bagi
saya jika membicarakan satu agama saja dalam konteks yang universal. Jadi,
intinya bahwa yang ingin saya bahas disini adalah ayat ke-6 dari surah
Al-Kafirun yang bunyinya seperti ini:
“Lakum
diinukum waliya diini”
Atau terjemahan dalam bahasa
Indonesia menjadi seperti ini:
“Bagimu
agamu dan bagiku agamaku”
Well, ayat ke-6 tersebutlah
jawaban Allah SWT terhadap kaum kaum kafir Quraisy. Agamamu ya agamamu, agamaku
ya agamaku. Tak perlu saling melengkapi. Dan hal inilah yang saya lihat di
kehidupan sehari-hari. Banyak orang kadang di sekitar saya sering menggunakan
agama lain dalam candaannya, jadi ini jawaban atas tindakan kebanyakan orang.
Tidak perlu kita saling menggubris satu sama lain. Tidak perlu juga kita saling
bergesekan satu sama lain.
Bagi pribadi saya, membenarkan
satu agama adalah hal yang privasi. Kebenaran tak perlu dipaksakan. Jika kita
benar, ya laksanakan kebenaran kita. Jika mereka benar, ya biarkan mereka
menikmati kebenaran mereka. Menjadikan kita homolog hanya akan berujung pada
ketidakseimbangan. Hasilnya, terjadilah hal-hal yang tak dinginkan bagi sang
pembela homolog.
Selama ini, banyak persepsi orang
menyatakan bahwa kedamaian hadir dalam bentuk kebenaran yang absolut. Tetapi,
bagi saya pribadi, kedamaian hadir dalam bentuk diam. Ya, hanya dengan kita
tidak saling membenturkan demi mencari kebenaran pun akan menghasilkan tentram
yang mendamaikan. Bukan tempat kita sebagai hakim bahwa sesuatu salah atau
benar. Hanya Sang Pencipta yang punya hak prerogatif itu. Jadi, jalankan saja
kebenaranmu dan nikmati kebenaranmu
Sekian dulu dari tulisan saya.
Saya mohon maaf sebesar-besarnya jika saya mempaut-pautkan salah satu agama
dalam tulisan saya. Murni tulisan saya hanya untuk tempat menyalurkan ide saya.
Terima kasih atas waktunya dan sampai jumpa!