Rabu, 02 Maret 2016

How Supernova changed my life

Welcome back! Setelah dua tahun vakum dari dunia persilatan bloging, saya kembali lagi. Sempat saat awal kelas 11 kemarin saya ingin serius menulis lagi di blog, tapi hanya menjadi mimpi manis. Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, tulisan ini pun hadir untuk menjawab gundah akibat berbagai ide yang menyerang. Saya bukan tipe orang yang langsung update di sosmed jika mendapat ide, jadi mungkin banyak sampah ide yang menumpuk. Kegiatan saya lanjutkan kembali juga karena mendapat waktu luang (sebenarnya lagi malas) dari belajar karena tahun ini adalah tahun terakhir saya di SMA. Tidak membuang-buang waktu lagi, silakan menikmati tulisan saya!

Sebagai permulaan, saya menduga 70% orang akan menduga bahwa Supernova yang dimaksud disini adalah peristiwa alam. Bagi sebagian besar anak IPA pasti tahu (anak IPS juga ada lah yang tahu). You’re not wrong, dude. Tapi, saya bukan membicarakan fenomena Supernova, walaupun mempunyai efek yang sama-sama “meledakkan”. Bagi yang sering baca novel pasti tahu tentang Supernova. Yap, novel karya Dewi “Dee” Lestari, Supernova! The best novel I ever read! Untuk kalian yang tidak tahu novel ini, biarkan saya menjelaskannya pada kalian semua. Jadi, Supernova adalah karya pertama Dewi Lestari atau nama kerennya Dee. Supernova bagian pertama berjudul Kesatria, Putri & Bintang Jatuh. Dilanjutkan Akar, Petir, Partikel, Gelombang dan yang segera terbit sekaligus bagian terakhir adalah Intelegensi Embun Pagi. Saya tidak akan berlama-lama menjelaskan panjang lebar tentang Supernova.

Awal pertemuan saya dengan Supernova adalah pada tahun 2014. Jujur saja, saya adalah orang yang sering membeli buku tetapi jarang menyelesaikannya. Beberapa buku ringan karangan Pandji ataupun Wahyu Aditya bisa saya selesaikan, tapi untuk novel lain cerita. Hanya segelintir novel yang mampu saya selesaikan, sisanya hanya menumpuk di rak tanpa tahu dijamah. Saat itu di twitter, sedang gencar-gencarnya tentang PO buku terbaru Dee yaitu Supernova bagian kelima, Gelombang. Saya pikir sepertinya bukunya menarik, jadi saya pertama-tama membeli Supernova bagian pertama yaitu Kesatria, Putri & Bintang Jatuh. Bagian bab pertama saat membaca Supernova sudah membuat saya pusing untuk membacanya. Bagaimana tidak, terlalu banyak kalimat-kalimat “njelimet” yang perlu dicerna. Sesudah bab pertama rampung, saya dibuat pusing lagi saat membaca bab kedua. Memang, membaca Supernova membutuhkan konsentrasi super agar kita bisa sekedar mengerti. Setelah rampung membaca, saya jadi tergila-gila dengan Supernova. Segera saya meluncur ke Togamas dan langsung membeli Supernova bagian kedua dan ketiga, Akar dan Petir. I’ve addicted with it!

Saat membaca ketiga seri pertama Supernova, sekilas saya kagum. Namun begitu membaca Partikel, saya terpukau. Jujur saja, bagi saya diantara seri-seri Supernova, Partikel yang paling berpengaruh untuk saya. Ibu Suri seperti memaksa saya untuk kembali melihat bahwa kita sebagai manusia adalah bagian dari alam. Butuh waktu juga untuk merenungi kembali tulisan-tulisan Ibu Suri.

Supernova tidak saya maknai hanya sebagai novel belaka, juga Supernova saya maknai sebagai salah satu yang berhasil mengubah pikiran saya. Bukan sekedar cerita yang saya bisa ambil dari Supernova, tetapi juga bagaimana kita untuk kembali mempertanyakan eksistensi kita sebagai manusia. Mungkin bahasa saya agak berlebihan, namun begitulah apa yang terjadi. Menyadari lagi berbagai pertanyaan dasar yang akhirnya juga terjawab oleh kita sendiri. Seperti kata Ibu Suri, dia menulis Supernova untuk bertanya juga sekaligus menjawab berbagai pertanyaan yang ada.

Saat menulis tulisan ini, saya sudah menamatkan seri Supernova yang terakhir, Inteligensi Embun Pagi. Saya dan banyak pembaca Supernova juga sulit untuk berpisah dengan Supernova. Namun, berbagai tulisan-tulisan Ibu Suri berhasil membuat saya menamatkan Supernova dalam ketenangan. Alangkah indahnya perpisahan yang diakhiri dengan kedamaian, layaknya perpisahan Sarah dan Zarah ataupun Alfa dan kawan-kawannya.

Mungkin saya agak dramatis dalam menggambarkan bagaimana Supernova berhasil “meledakkan” saya. Namun, itulah berbagai ide yang terus sliweran di kepala. Kadang ada saatnya kita tidak bisa lagi menyimpan berbagai ide yang menumpuk.


Sekian tulisan saya yang agak panjang ini. Insyaallah, saya akan lebih produktif lagi dalam menulis blog. Terima kasih!

0 komentar:

Posting Komentar