Welcome back! Setelah dua tahun vakum dari dunia persilatan
bloging, saya kembali lagi. Sempat saat awal kelas 11 kemarin saya ingin serius
menulis lagi di blog, tapi hanya menjadi mimpi manis. Seperti tulisan-tulisan
saya sebelumnya, tulisan ini pun hadir untuk menjawab gundah akibat berbagai
ide yang menyerang. Saya bukan tipe orang yang langsung update di sosmed jika
mendapat ide, jadi mungkin banyak sampah ide yang menumpuk. Kegiatan saya
lanjutkan kembali juga karena mendapat waktu luang (sebenarnya lagi malas) dari
belajar karena tahun ini adalah tahun terakhir saya di SMA. Tidak
membuang-buang waktu lagi, silakan menikmati tulisan saya!
Sebagai permulaan, saya menduga 70% orang akan menduga bahwa
Supernova yang dimaksud disini adalah peristiwa alam. Bagi sebagian besar anak
IPA pasti tahu (anak IPS juga ada lah yang tahu). You’re not wrong, dude. Tapi,
saya bukan membicarakan fenomena Supernova, walaupun mempunyai efek yang
sama-sama “meledakkan”. Bagi yang sering baca novel pasti tahu tentang
Supernova. Yap, novel karya Dewi “Dee” Lestari, Supernova! The best novel I
ever read! Untuk kalian yang tidak tahu novel ini, biarkan saya menjelaskannya
pada kalian semua. Jadi, Supernova adalah karya pertama Dewi Lestari atau nama
kerennya Dee. Supernova bagian pertama berjudul Kesatria, Putri & Bintang
Jatuh. Dilanjutkan Akar, Petir, Partikel, Gelombang dan yang segera terbit
sekaligus bagian terakhir adalah Intelegensi Embun Pagi. Saya tidak akan
berlama-lama menjelaskan panjang lebar tentang Supernova.
Awal pertemuan saya dengan Supernova adalah pada tahun 2014.
Jujur saja, saya adalah orang yang sering membeli buku tetapi jarang
menyelesaikannya. Beberapa buku ringan karangan Pandji ataupun Wahyu Aditya
bisa saya selesaikan, tapi untuk novel lain cerita. Hanya segelintir novel yang
mampu saya selesaikan, sisanya hanya menumpuk di rak tanpa tahu dijamah. Saat
itu di twitter, sedang gencar-gencarnya tentang PO buku terbaru Dee yaitu
Supernova bagian kelima, Gelombang. Saya pikir sepertinya bukunya menarik, jadi
saya pertama-tama membeli Supernova bagian pertama yaitu Kesatria, Putri &
Bintang Jatuh. Bagian bab pertama saat membaca Supernova sudah membuat saya
pusing untuk membacanya. Bagaimana tidak, terlalu banyak kalimat-kalimat
“njelimet” yang perlu dicerna. Sesudah bab pertama rampung, saya dibuat pusing
lagi saat membaca bab kedua. Memang, membaca Supernova membutuhkan konsentrasi
super agar kita bisa sekedar mengerti. Setelah rampung membaca, saya jadi
tergila-gila dengan Supernova. Segera saya meluncur ke Togamas dan langsung
membeli Supernova bagian kedua dan ketiga, Akar dan Petir. I’ve addicted with
it!
Saat membaca ketiga seri pertama Supernova, sekilas saya
kagum. Namun begitu membaca Partikel, saya terpukau. Jujur saja, bagi saya
diantara seri-seri Supernova, Partikel yang paling berpengaruh untuk saya. Ibu
Suri seperti memaksa saya untuk kembali melihat bahwa kita sebagai manusia
adalah bagian dari alam. Butuh waktu juga untuk merenungi kembali
tulisan-tulisan Ibu Suri.
Supernova tidak saya maknai hanya sebagai novel belaka, juga
Supernova saya maknai sebagai salah satu yang berhasil mengubah pikiran saya.
Bukan sekedar cerita yang saya bisa ambil dari Supernova, tetapi juga bagaimana
kita untuk kembali mempertanyakan eksistensi kita sebagai manusia. Mungkin
bahasa saya agak berlebihan, namun begitulah apa yang terjadi. Menyadari lagi
berbagai pertanyaan dasar yang akhirnya juga terjawab oleh kita sendiri.
Seperti kata Ibu Suri, dia menulis Supernova untuk bertanya juga sekaligus
menjawab berbagai pertanyaan yang ada.
Saat menulis tulisan ini, saya sudah menamatkan seri
Supernova yang terakhir, Inteligensi Embun Pagi. Saya dan banyak pembaca
Supernova juga sulit untuk berpisah dengan Supernova. Namun, berbagai
tulisan-tulisan Ibu Suri berhasil membuat saya menamatkan Supernova dalam
ketenangan. Alangkah indahnya perpisahan yang diakhiri dengan kedamaian,
layaknya perpisahan Sarah dan Zarah ataupun Alfa dan kawan-kawannya.
Mungkin saya agak dramatis dalam menggambarkan bagaimana
Supernova berhasil “meledakkan” saya. Namun, itulah berbagai ide yang terus
sliweran di kepala. Kadang ada saatnya kita tidak bisa lagi menyimpan berbagai
ide yang menumpuk.
Sekian tulisan saya yang agak panjang ini. Insyaallah, saya
akan lebih produktif lagi dalam menulis blog. Terima kasih!
0 komentar:
Posting Komentar