Welcome to the journey!

Sabtu, 19 April 2014

Thank You, Sir

Selamat malam mingu, kawan Pemikir Muda! Malam yang indah sekaligus macet. Hehehehehe.

Malam ini, saya hanya akan membagi pengalaman dengan guru SMP saya dulu yang anti-mainstream.

Saya dulu sekolah di SMP Negeri 1 Manokwari. Yah, bisa dikata salah satu SMP favorit di Manokwari. Nah, menurut saya sih, guru-guru di Spensa (singkatannya) tu cukup asik. Lain cerita jika diajak ribut (ya iyalah).

One of them is Mr. Yudi.

Pak Yudi ini guru Matematika dan salah satu yang membuat Matematika menjadi mudah sekaligus suram kalo udah kasih ulangan. Susahnya gak ketulungan.

Mungkin salah satu yang bikin akrab sama guru yang satu ini adalah karena waktu itu saya ketua kelas sekaligus ketua OSIS (cielah).

Nah, masuk inti masalahnya. Hanya 1 hal yang buat dia jadi guru yang anti-mainstream, suka banget ngehina dan buat pesimis saya. Mulai dari kagak bisa sekolah di Jogja, gak bisa menangin lomba, menang lomba cuma karena keberuntungan dan hinaan-hinaan yang lain.

Yah, mungkin wajah yang saya miliki pantes buat di-bully.

But, saya ngambil positifnya aja dari kalimat pesimisnya itu terhadap saya. Saya pikir, gak mungkin kita terus-terusan disuapi optimisme. Kita butuh sesekali pesimisme. Tetapi, jika kita ahli dalam memahami pesimisme itu, pesimisme itu bisa menjadi lebih ampuh daripada sebuah optimisme. Ibaratnya, kuda gak mau jalan kalo cuma dielus, tapi juga dipukul.

Hanya post singkat dari saya malam ini. Dan untuk semuanya, santai aja jalani hidup :)

Good evening!

Kamis, 17 April 2014

Kita butuh perbedaan!

Selamat malam, kawan Pemikir Muda! Malam ini, saya bikin post lagi, nih. Sedang panas-panasnya semanagt buat post buat kawan Pemikir Muda!

Malam ini, saya membicarakan soal perbedaan yang seperti kita tau merupakan makanan bangsa Indonesia sehari-hari.

Sebenarnya, rencananya saya tadi ingin pergi les. Tetapi, tempat les saya berdekatan dengan gereja dan alhasil jalanan menuju gereja ditutup, termasuk ke tempat les saya. YEEEESSS!!! (IYKWIM).

Saya baru ingat bahwa besok merupakan hari raya Paaskah atau Kenaikan Isa Almasih.

Yap, inilah makanan kita sehari-hari: PERBEDAAN.

Saya hidup di lingkungan yang heterogen, walaupun cuma 2 agama yang dominan, Islam dan Prostetan. Saya lahir dan tinggal di Papua. Dan sekedar info, di Papua, Protestan merupakan mayoritas dan Islam merupakan minoritas.

Ya, tapi gak terlalu sedikit juga.

Jadi, saya sudah pernah merasakan yang namanya menjadi minoritas. Dan hal yang pernah saya rasakan yaitu: KETIDAKADILAN.

Ya, saya pernah merasakan itu. Suatu waktu, saya pernah mendengar ceramah gereja yang diberikan di sekolah. Ketidakadilan pernah saya rasakan. But, menurut saya sendiri, kehidupan beragama di Papua dalah yang paling kondusif di Indonesia. Tidak pernah kerusuhan yang membawa nama agama.

Ada salah satu tradisi di (mungkin) sekolah negeri di Manokwari. Setiap ada kegiatan upacara, pasti setiap minggunya akan bergantian pembaca doanya antara yang Islam dan Protestan. Dan jujur, saya merasa keadilan terlihat di situ. Orang Papua memang aak sinis jika berbicara soal "suku", tapi, mereka tidak pernah melarang kebebasan beragama.

Nah, itu pengalaman umat beragama di Papua. Bagaimana dengan di Jawa?

Seperti yang kita tau, mayoritas di Jawa merupakan agama Islam. Jujur, saya sendiri merasa keberadaan minoritas kurang dianggap. Itu pendapat saya pribadi. Disini, saya tidak sama sekali pro terhadap agama selain Islam, tetapi saya pro terhadap keadilan.

Saya pernah merasa sebagai minoritas. Saya tau perasaan mereka. Jujur saja, sekolah-sekolah negeri di Jawa, khususnya di Jogja, menurut saya, kurang menanggapi soal perbedaan agama. Dan, saya ingin tekankan bahwa ini pendapat saya.

Saya ingin mengambil contoh di sekolah saya. Saya mengerti, di sekolah saya mungkin 70% merupakan muslim. But, apakah itu membuat kita tidak bisa melihat perbedaan. Mungkin contoh kecil saat upacara. Ya, saya mngerti bahwa tidak bisa kita bergantian menbaca doa dengan doa agama lain. Tetapi, coba renungi lagi, apakah dengan begitu kita bisa melihat perbedaan?

Saya sekali lagi tidak memaksa untuk pembaca mengikuti argumen saya. Saya tekankan bahwa saya hanya menyampaikan argumen saya ini.

It's democracy country.

Mungkin juga saya ingin melihat dari kegiatan di sekolah. Banyak sekolah negeri yang mungkin hanya memperbanyak kegiatan dengan agama yang mayoritas. But, sekali lagi, apakah dengan begitu kita bisa melihat perbedaan agama yang ada di Indonesia?

Kita mungkin tidak perlu mempelajari agama lain, tetapi kita hanay perlu melhat sedikit perbedaan itu. Kita butuh mnelihat perbedaan. Jangan hanya kita disuapi dengan persamaan. Persamaan hanya membuat kita tidak bisa bersosialisasi.

Mungkin itu sekian dari saya malam ini. Saya mohon maaf jika post kali ini ada yang tersinggung. Saya sekali lagi mohon maaf. Ini sekedar pendapat saya tentang perbedaan agama di negeri ini. Selamat Malam!



Rabu, 16 April 2014

Hasil bukanlah segalanya!

Selamat siang, Pemikir Muda! Berjumpa lagi dengan saya (emang dengan siapa lagi >_<)! Akhirnya, saya ada waktu untuk meluangkan waktu membuat post baru umtuk teman-teman Pemikr Muda.

Siang ini, saya akan membicarakan soal pengalaman saya saat mengikuti UN SMP tahun lalu alias tahun 2013.

Jujur saja saya mengakui, saya bukan tipe orang yang ngotot belajar. Jadi, dalam UN SMP waktu itu, Bapak saya, Bapak Karyoto Sardi Amat, "menekan" saya dalam belajar. Dan (diawal) saya beretkad untuk belajar giat.

Memang, saya cukup belajar dengan keras (hehehehe sombong dikit). Setiap hari, saya usahakan untuk mengerjakan soal. Saya juga belajar dengan giat untuk mengejar impian saya untuk sekolah di Jogja. Banyakorang mengatakan pada saya bahwa persaingan NEM di Jogja itu ketat, apalagi dari luar kota. Maka dari itu, saya bertekad untuk mendapat hasil yang baik.

Sempat banyak rintangan yang menghambat saya, yaitu: KEMALASAN. Hal yang satu ini memang sudah menjadi musuh saya sejak dulu. Saya berani bayar mahal, deh kalau ada orang yang bisa membuat alat yang pembasmi KEMALASAN.

Setelah persiapan satu tahun yang (lumayan) matang, akhirnya UN SMP dimulai saat itu. Dan hal yang membuat unpredictible yaitu saat ada materi kisi-kisi yang tidak keluar di UN! Yap, saya terkena karma. Bapak saya, dulu sebelum UN sudah bilang: "Gir, kalo belajar, belajar semua. Jangan terlalu berharap sama kisi-kisi.". Saya agak tidak menggubris perkataan bapak saya saat itu. Dan hasilnya, saya terkena kualat.

Sempat depresi sehabis UN mata pelajaran IPA saat itu. Saya udah tebak hasil yang buruk untuk UN mapel IPA ini. But, saya sih tetap optimis.

Pada saat itu juga saya dipercaya menjadi ketua panitia perpisahan dan saya streesss selama sekitar 2 bulan mengurusi masalah itu. Disaat itu, saya agak kurang fokus terhadap hasil UN.

Lalu, kalo gak salah 3 atau 2 minggu hasil UN sudah keluar. Dan, alhamdulilah, semua lulus 100%. Tetapi, NEM saat itu belum keluar. Padahal, cuma NEM yang saya pengen tau (walaupun kelulusan juga perlu). Dan, Kepala Sekolah saya memberitahukan nilai UN mapel MTK saya. Saya mendapat 10! Seumur-umur, ujian MTK dapat 10!

Disitu, saya optimis bisa mendapat NEM tinggi. Bapak saya juga.

Pada saat acara perpisahan dimulai. saya datang pagi saat itu (biasa ketua panitia). Saya menyelinap masuk ke ruang tata usaha untuk mengambil sessuatu saat itu. Di atas meja tata usaha, tergeletak piagam untuk 10 besar peraih nilai tertinggi UN. Saya pun melihatnya. Di saat itu, sya kaget. Di luar perkiraan saya. Saya mendapat ranking 8. Saya tidak terlalu mempersalahka ranking, tetapi NEM. Dan NEM saya adalah 33,9. Saya syok saat itu. Dada saya terasa sesak. Padahal saya sudah opitmis mendapat nilai tinggi, tetapi takdir berkata lain.

Saya masih menyesal sepanjang acara waktu itu. Walau tetap mengurusi acar itu, saya tetap syok. Bagaimana tidak, untuk sekolah di Jogja diperlukan NEM tinggi dan saya tidak mendapatkan NEM yang tinggi. Saat itu, bapak saya mau ke WC. Saya pun mengantarkannya. Saya pun bilang pada bapak saya bahwa saya mendapat NEM 33,9. Dan saya tau bahwa bapak saya kecewa. Udah kelatan dari wajahnya. Tapi, bapak saya mnyembunyikannya dengan berkata: "Gak apa-apa. Ya udah itu hasilmu." Disitu saya masih menyesal.

10 besar peraih nilai tertinggi UN naik ke atas panggung acara bersama orang tua. Saat maju, saya berulang kali mengatakan hal yang sama pada bapak saya: "Maaf, Pak." Jujur, saat itu jika saya bisa nangis, saya nangis. But, bapak saya bilang suatu hal yang saya akan ingat seumur hidup: "Gir, bapak gak pentingin hasil. Bapak liat proses kamu buat UN. Kamu udah bagus. Gak apa-apa.". Di atas panggung saat itu, saya tersentak. Saya berusaha menjernihkan pikiran.

He's right. It's not about the result, it's about the prosces.

Itu adalah sebagian pengalaman saya yang ingin saya bagi kepada anda semua.

Nah, soal hasil akhir. Orang yang berpikir bahwa hasil akhir adalah segalanya akan melakukan cara apapun utnuk meraih hasil yang sempurna.

It's wrong.

Hasil bukanlah segalanya. Tetapi, proses yang menentukan kita berhasil atau tidak.

Jika kita hanya berpatok pada hasil, orang bisa saja berbuat curang cuman agar dapat hasil yang baik. But, keberhasilannya? Nol besar.

Mereka bisa saja mnedapat seratus diatas kertas ulangannya, tetapi untuk keberhasilannya hanya mendapat nol di dalam pikirannya.

Sistem ini yang salah. Terlalu mengagungkan hasil akhir. Tetapi, proses yang dijalani tidak pernah dilihat.

Hal ini yang membuat kecurangan terus terjadi. Proses dianggap hanya pengantar untuk sebuah hasil. Tetapi, lebih dari itu, proses adalah penentu keberhasilan suatu usaha, bkan hasil akhir.

Cukup sekian dari saya. Maaf jika ada kesalahan kata. Selamat siang dan beraktivitas, Pemikir Muda!

Senin, 07 April 2014

Hidup tidaklah datar, tetapi berkelok

Selamat malam, Pemikir Muda! Atau juga selamat malam, Panitia Kaca! Hehehehe. Maaf kalau saya mencantumkan Panitia Kaca karena sebenarnya pos kali ini adalah sebuah tugas artikel yang diberikan kepada para calon Kaca. Baiklah, malam ini saya ingin berbagi cerita saya terkait juga mengenai Kaca ini.

Kemarin, hari Sabtu tanggal 5 April 2014, saya dan para calon kaca yang lain diwajibkan berkumpul di aula atas kantor Kedaulatan Rakyat untuk mengikuti orientasi awal atau mungkin dalam bahasa yang lebih enak 'kumpul bareng'. Pada saat itu cuaca kurang bersahabat dan ada pawai salah satu partai yang berakhir bentrok, jadi awalnya saya kurang yakin untuk pergi. Tetapi, karena juga saya ingin tahu apa saja yang akan dilakukan, jadi saya pun memutuskan untuk pergi walaupun saya berangkat dari rumah jam 4.10 sore. Dan, bisa ditebak, saya terlambat hadir (maklum saya orangnya ngaret). Acara perkenalan pun (sepertinya) sudah terlewati. Saya agak merasa malu saat datang dan duduk (hehehehe). Beberapa saat setelah saya hadir, kakak-kakak Kaca menyuruh semua yang ada di dalam ruangan dan membuat sebuah lingkaran besar. Setelah itu, kami pun disuruh melakukan permainan (alasannya sih karena udara yang makin dingin). Cukup menyenangkan. Saya merasa hangat kembali setelah permainan itu (hehehehe). Nah, masuklah bagian acara yang menjadi pokok tulisan ini. Kakak-kakak Kaca akan membuat sebuah permainan lagi. Permainan ini dinamakan Line Game. Ya, memang permainan ini berhubungan dengan plakban yang dibentangkan sehingga membentuk garis panjang. Kami pun disuruh berdiri di depan garis tersebut sehingga kami berdiri saling berhadapan (fotonya dibawah). Peraturan permainannya cukup simpel. Setiap kalimat yang diberikan, jika berhubungan atau terkait dengan kita, kita maju selangkah mendekati garis. Awalnya, saya kira ini memang permainan buat senang-senang. Pada saat awal, kalimat yang diberikan masih berbau fun. Saya juga maju saat ditanya: Siapa yang masih ingat soundtrack kartun pas masih kecil?. Karena masa kecil saya bahagia (hehehe), saya pun maju. Saya juga disuruh untuk menyanyikannya. Hanya satu masalah saat itu, saya tidak terlalu fasih bahasa Jepang sehingga saya pun menyanyikan lagu opening Doraemon versi Indonesia. HAHAHA.

Pertanyaan pun mulai ke jenjang yang lebih serius. Soal masalah sekolah. Saya juga maju soal masalah sekolah ini. Saya maju saat ditanyakan siapa yang jadi korban bully di sekolah. Saya sih sering dibully dalam arti hanya bercanda (saya juga kurang yakin).Nah, sehabis masalah sekolah, masalah yang lebih serius pun ditanyakan. Persoalan narkoba. Saya melihat banyak yang maju ketika pertanyaan diajukan. Saya mulai merasa tertarik. Ada satu pertanyaan ini yang membuat saya tertarik: "Siapa yang mengenal pengedar narkoba?". Saya mengira, tak ada yang akan maju, tetapi ternyata ada yang maju. Disitu, saya mulai berpikir: "Hidup tidak sedatar yang saya kira bagi seorang remaja." (di ruangan itu semua umurnya masih remaja). Persoalan lain juga ditanyakan seperti miras, dugem, dan masalah free sex. Pertanyaan pun bergainti topik ke masalah yang lebih personal, tentang masalah keluarga. Beberapa pertanyaan awal masihlah pertanyaan klise tentang keluarga. Pertanyaan selanjutnya mungkin menurut saya agaknya sangat privasi: "Diantara kalian, adakah yang merasa keluarganya broken home?". Yap, betul saja, ada yang maju. Saya disitu juga berpikir ulang lagi bahwa hidup orang lain tidaklah sama seperti kita.

Dibagian pertanyaan selanjutnya yang membuat saya agak syok. Petanyaannya adalah "Siapa yang pernah berniat bunuh diri?". Disitu, saya berpikir pasti tidak ada yang maju, tetapi, perkiraan saya salah. Cukup banyak yang maju. Mereka pun memiliki berbagai alasan mengapa berniat bunuh diri. Tetapi, saya agak kurang simpati terhadap orang yang berniat bunuh diri. But, itu pilihan mereka. Asal mereka sudah mengetahui yang mereka akan lakukan adalah salah, it's okay.

Nah, di paragraf ini, saya hanya akan membahas terkait pertanyaan yang sangat berhubungan dengan saya saat ini. Dua pertanyaan itu adalah: "Apakah kamu merasa sendiri?" dan "Menurut kamu, dirimu yang sekarang bukanlah dirimu yang sebenarnya?". Dari dua pertanyaan itu, saya pun maju. Saya merasa dua pertanyaan itu adalah permasalahan yang sekarang saya hadapi.

Untuk pertanyaan pertama, jika ditanya seperti itu, saya pun bilang, yes. Mengapa? Sampai saat ini, saya belum menemukan seseorang yang mendukung saya yang bisa ada disamping saya, kecuali orang tua. Sekalipun itu saudara ataupun teman. Kadang juga, pendapat ataupun perkataan saya kadang tidak dihiraukan. So, secara tidak langsung juga menjawab pertanyaan kedua. Saya yang sekarang bukanlah saya yang sebenarnya. Tawa ataupun tindakan yang saya lakukan adalah tipuan semata. Saya berkata jujur. Saya belum bisa berekspresi secara bebas mengikuti diri saya yang sebenarnya. Mungkin, lingkungan yang berbeda dari lingkungan kelahiran saya sehingga menghasikan dua akibat: saya sendiri dan saya bukanlah diri saya yang sebenarnya.

Hidup tidaklah mudah. Hdup yang kita tahu mungkin hanya rekayasa semata, seprti yang dikatakan kakak-kakak Kaca. Dari permainan Line Game, kita bisa melihat sisi lain hidup orang yang berbeda. Mereka mungkin punya hal yang jauh bertolak belakang dengan kita. Kita semua mempunyai cerita yang berbeda. Kita di dunia ini, mempunyai masa lalu yang berbeda, kisah yang berbeda, takdir yang berbeda, cara yang berbeda, dan tentunya masa depan yang berbeda. Maka dari itu, hidup bukanlah seperti sebuah garis yang lurus, tetapi hidup seperti layaknya coretan yang berekelok.

Cukup sekian pengalaman saya kali ini. Semoga, pos kali ini bisa diambil pelajarannya. Selamat malam semua!

(Ini foto ketika bermain Line Game)