Kamis, 17 April 2014

Kita butuh perbedaan!

Selamat malam, kawan Pemikir Muda! Malam ini, saya bikin post lagi, nih. Sedang panas-panasnya semanagt buat post buat kawan Pemikir Muda!

Malam ini, saya membicarakan soal perbedaan yang seperti kita tau merupakan makanan bangsa Indonesia sehari-hari.

Sebenarnya, rencananya saya tadi ingin pergi les. Tetapi, tempat les saya berdekatan dengan gereja dan alhasil jalanan menuju gereja ditutup, termasuk ke tempat les saya. YEEEESSS!!! (IYKWIM).

Saya baru ingat bahwa besok merupakan hari raya Paaskah atau Kenaikan Isa Almasih.

Yap, inilah makanan kita sehari-hari: PERBEDAAN.

Saya hidup di lingkungan yang heterogen, walaupun cuma 2 agama yang dominan, Islam dan Prostetan. Saya lahir dan tinggal di Papua. Dan sekedar info, di Papua, Protestan merupakan mayoritas dan Islam merupakan minoritas.

Ya, tapi gak terlalu sedikit juga.

Jadi, saya sudah pernah merasakan yang namanya menjadi minoritas. Dan hal yang pernah saya rasakan yaitu: KETIDAKADILAN.

Ya, saya pernah merasakan itu. Suatu waktu, saya pernah mendengar ceramah gereja yang diberikan di sekolah. Ketidakadilan pernah saya rasakan. But, menurut saya sendiri, kehidupan beragama di Papua dalah yang paling kondusif di Indonesia. Tidak pernah kerusuhan yang membawa nama agama.

Ada salah satu tradisi di (mungkin) sekolah negeri di Manokwari. Setiap ada kegiatan upacara, pasti setiap minggunya akan bergantian pembaca doanya antara yang Islam dan Protestan. Dan jujur, saya merasa keadilan terlihat di situ. Orang Papua memang aak sinis jika berbicara soal "suku", tapi, mereka tidak pernah melarang kebebasan beragama.

Nah, itu pengalaman umat beragama di Papua. Bagaimana dengan di Jawa?

Seperti yang kita tau, mayoritas di Jawa merupakan agama Islam. Jujur, saya sendiri merasa keberadaan minoritas kurang dianggap. Itu pendapat saya pribadi. Disini, saya tidak sama sekali pro terhadap agama selain Islam, tetapi saya pro terhadap keadilan.

Saya pernah merasa sebagai minoritas. Saya tau perasaan mereka. Jujur saja, sekolah-sekolah negeri di Jawa, khususnya di Jogja, menurut saya, kurang menanggapi soal perbedaan agama. Dan, saya ingin tekankan bahwa ini pendapat saya.

Saya ingin mengambil contoh di sekolah saya. Saya mengerti, di sekolah saya mungkin 70% merupakan muslim. But, apakah itu membuat kita tidak bisa melihat perbedaan. Mungkin contoh kecil saat upacara. Ya, saya mngerti bahwa tidak bisa kita bergantian menbaca doa dengan doa agama lain. Tetapi, coba renungi lagi, apakah dengan begitu kita bisa melihat perbedaan?

Saya sekali lagi tidak memaksa untuk pembaca mengikuti argumen saya. Saya tekankan bahwa saya hanya menyampaikan argumen saya ini.

It's democracy country.

Mungkin juga saya ingin melihat dari kegiatan di sekolah. Banyak sekolah negeri yang mungkin hanya memperbanyak kegiatan dengan agama yang mayoritas. But, sekali lagi, apakah dengan begitu kita bisa melihat perbedaan agama yang ada di Indonesia?

Kita mungkin tidak perlu mempelajari agama lain, tetapi kita hanay perlu melhat sedikit perbedaan itu. Kita butuh mnelihat perbedaan. Jangan hanya kita disuapi dengan persamaan. Persamaan hanya membuat kita tidak bisa bersosialisasi.

Mungkin itu sekian dari saya malam ini. Saya mohon maaf jika post kali ini ada yang tersinggung. Saya sekali lagi mohon maaf. Ini sekedar pendapat saya tentang perbedaan agama di negeri ini. Selamat Malam!



1 komentar:

  1. udah aku baca bung... btw yang kamu post kali ini sebagian besar sama seperti yang kakakku omong...

    BalasHapus