Sabtu, 19 April 2014

Thank You, Sir

Selamat malam mingu, kawan Pemikir Muda! Malam yang indah sekaligus macet. Hehehehehe.

Malam ini, saya hanya akan membagi pengalaman dengan guru SMP saya dulu yang anti-mainstream.

Saya dulu sekolah di SMP Negeri 1 Manokwari. Yah, bisa dikata salah satu SMP favorit di Manokwari. Nah, menurut saya sih, guru-guru di Spensa (singkatannya) tu cukup asik. Lain cerita jika diajak ribut (ya iyalah).

One of them is Mr. Yudi.

Pak Yudi ini guru Matematika dan salah satu yang membuat Matematika menjadi mudah sekaligus suram kalo udah kasih ulangan. Susahnya gak ketulungan.

Mungkin salah satu yang bikin akrab sama guru yang satu ini adalah karena waktu itu saya ketua kelas sekaligus ketua OSIS (cielah).

Nah, masuk inti masalahnya. Hanya 1 hal yang buat dia jadi guru yang anti-mainstream, suka banget ngehina dan buat pesimis saya. Mulai dari kagak bisa sekolah di Jogja, gak bisa menangin lomba, menang lomba cuma karena keberuntungan dan hinaan-hinaan yang lain.

Yah, mungkin wajah yang saya miliki pantes buat di-bully.

But, saya ngambil positifnya aja dari kalimat pesimisnya itu terhadap saya. Saya pikir, gak mungkin kita terus-terusan disuapi optimisme. Kita butuh sesekali pesimisme. Tetapi, jika kita ahli dalam memahami pesimisme itu, pesimisme itu bisa menjadi lebih ampuh daripada sebuah optimisme. Ibaratnya, kuda gak mau jalan kalo cuma dielus, tapi juga dipukul.

Hanya post singkat dari saya malam ini. Dan untuk semuanya, santai aja jalani hidup :)

Good evening!

0 komentar:

Posting Komentar