Welcome to the journey!

Selasa, 12 April 2016

Cerita pendek seorang pegawai

Welcome back! Saya kembali lagi dengan menghadirkan posting terbaru. Tetapi, posting saya kali ini berbeda dari biasanya. Jika biasanya saya menulis tentang artikel, tetapi hari ini saya menulis sebuah cerita pendek atau cerpen. Kadang, sekali waktu kita butuh keluar sebentar agar tidak monoton. Oke, selamat membaca!

Alkisah, di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang pegawai. Sebut saja namanya Badrun. Dia bekerja di suatu perusahan biasa dengan gaji yang biasa pula. Dia mempunyai seorang istri dan seorang anak. Dari luar, Badrun  terlihat seperti pegawai seperti umumnya. Namun, orang-orang di sekitarnya menilai dia sebagai orang yang kritis. Badrun sering mengomentari berbagai hal yang dirasanya tidak sesuai dengan pemikirannya.

Suatu hari, Badrun bertemu dengan seorang juru parkir. Ia pun berujar kepada sang juru parkir, “ Wahai juru parkir, seharusnya kamu lebih cekatan dalam bekerja. Motor dan mobil yang menjadi amanahmu harus kamu jaga sebaik-baiknya. Jangan cuma bermalas-malasan. Bekerjalah yang giat agar kamu menjadi sukses.”.

Suatu hari pula, Badrun sedang berkumpul bersama kawan-kawan kantornya. Mereka membicarakan gaji yang tidak naik-naik. Sekali lagi, Badrun pun mengungkapkan pikirannya pada kawan-kawannya. “Wahai kawan-kawanku, bukankah kita telah bekerja keras untuk kantor ini? Seharusnya kita mendapatkan gaji yang lebih. Seharusnya perusahaan harus lebih menghargai kita sebagai pegawai. Pemimpin perusahaan ini harusnya malu karena telah mensia-siakan kita.”.

Berakhirnya rutinitasnya di kantor membuat Badrun lelah. Di meja makan, hanya tersedia sedikit lauk. Selain itu, keadaan rumah pun berantakan. Mengeluhlah Badrun pada istrinya. “Wahai istriku, aku lelah telah seharian di kantor. Cobalah lebih mengerti aku. Sediakanlah aku makanan yang pantas. Perut ini kosong untuk mencari uang. Dan juga istriku, aku ingin melihat rumah ini bersih, tidak seperti ini. Bersihkanlah agar indah dilihat.”.

Akhirnya, Badrun bisa bersantai di depan televisi bersama anaknya. Ia menonton berita tentang kebijakan baru pemerintah negerinya. Badrun pun berkata pada anaknya. “Wahai anakku, lihatlah pemerintah negeri ini. Seharusnya mereka lebih bisa membuat kebijakan yang lebih baik. Kebijakan yang berpihak pada rakyatnya. Seharusnya mereka lebih peduli terhadap rakyatnya ketimbang dengan urusan yang lain. Alangkah aku kecewa kepada pemerintah negeri ini.”. Lantas, anaknya pun bertanya, “Wahai ayahku, bukankah seharusnya kita menghargai kerja pemerintah negeri ini? Sesungguhnya mereka telah bekerja keras untuk rakyat.”. Badrun dengan sigapnya menjawab, “Wahai anakku, tugas kitalah sebagai rakyat untuk mengkritisi hasil kerja pemerintah negeri ini. Jangan mau kau terperdaya dengan kebijakan pemerintah. Kita itu rakyat kecil yang selalu dibodohi.”.

Begitulah kehidupan Badrun, selalu mempunyai pikiran kritis terhadap apapun di depan matanya. Hingga akhir hayatnya, Badrun pun hanya meninggalkan nama sebagai Badrun si Pegawai Biasa dengan Gaji Biasa. Ya, dia hanya orang biasa. Setidaknya, tidak lagi yang perlu dikomentari. Tamat.



Sekian dulu postingan saya kali ini. Dari cerpen itu, terserah kalian untuk menafsirkannya. Pemikiran kalian dibebaskan untuk mengartikannya. Sampai jumpa lagi dipostingan berikutnya!