Welcome back! Saya kembali lagi dengan menghadirkan posting
terbaru. Tetapi, posting saya kali ini berbeda dari biasanya. Jika biasanya
saya menulis tentang artikel, tetapi hari ini saya menulis sebuah cerita pendek
atau cerpen. Kadang, sekali waktu kita butuh keluar sebentar agar tidak
monoton. Oke, selamat membaca!
Alkisah, di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang
pegawai. Sebut saja namanya Badrun. Dia bekerja di suatu perusahan biasa dengan
gaji yang biasa pula. Dia mempunyai seorang istri dan seorang anak. Dari luar,
Badrun terlihat seperti pegawai seperti
umumnya. Namun, orang-orang di sekitarnya menilai dia sebagai orang yang
kritis. Badrun sering mengomentari berbagai hal yang dirasanya tidak sesuai
dengan pemikirannya.
Suatu hari, Badrun bertemu dengan seorang juru parkir. Ia pun
berujar kepada sang juru parkir, “ Wahai juru parkir, seharusnya kamu lebih
cekatan dalam bekerja. Motor dan mobil yang menjadi amanahmu harus kamu jaga
sebaik-baiknya. Jangan cuma bermalas-malasan. Bekerjalah yang giat agar kamu
menjadi sukses.”.
Suatu hari pula, Badrun sedang berkumpul bersama kawan-kawan
kantornya. Mereka membicarakan gaji yang tidak naik-naik. Sekali lagi, Badrun
pun mengungkapkan pikirannya pada kawan-kawannya. “Wahai kawan-kawanku,
bukankah kita telah bekerja keras untuk kantor ini? Seharusnya kita mendapatkan
gaji yang lebih. Seharusnya perusahaan harus lebih menghargai kita sebagai
pegawai. Pemimpin perusahaan ini harusnya malu karena telah mensia-siakan kita.”.
Berakhirnya rutinitasnya di kantor membuat Badrun lelah. Di
meja makan, hanya tersedia sedikit lauk. Selain itu, keadaan rumah pun
berantakan. Mengeluhlah Badrun pada istrinya. “Wahai istriku, aku lelah telah
seharian di kantor. Cobalah lebih mengerti aku. Sediakanlah aku makanan yang
pantas. Perut ini kosong untuk mencari uang. Dan juga istriku, aku ingin
melihat rumah ini bersih, tidak seperti ini. Bersihkanlah agar indah dilihat.”.
Akhirnya, Badrun bisa bersantai di depan televisi bersama
anaknya. Ia menonton berita tentang kebijakan baru pemerintah negerinya. Badrun
pun berkata pada anaknya. “Wahai anakku, lihatlah pemerintah negeri ini.
Seharusnya mereka lebih bisa membuat kebijakan yang lebih baik. Kebijakan yang
berpihak pada rakyatnya. Seharusnya mereka lebih peduli terhadap rakyatnya
ketimbang dengan urusan yang lain. Alangkah aku kecewa kepada pemerintah negeri
ini.”. Lantas, anaknya pun bertanya, “Wahai ayahku, bukankah seharusnya kita
menghargai kerja pemerintah negeri ini? Sesungguhnya mereka telah bekerja keras
untuk rakyat.”. Badrun dengan sigapnya menjawab, “Wahai anakku, tugas kitalah
sebagai rakyat untuk mengkritisi hasil kerja pemerintah negeri ini. Jangan mau
kau terperdaya dengan kebijakan pemerintah. Kita itu rakyat kecil yang selalu
dibodohi.”.
Begitulah kehidupan Badrun, selalu mempunyai pikiran kritis
terhadap apapun di depan matanya. Hingga akhir hayatnya, Badrun pun hanya
meninggalkan nama sebagai Badrun si Pegawai Biasa dengan Gaji Biasa. Ya, dia
hanya orang biasa. Setidaknya, tidak lagi yang perlu dikomentari. Tamat.
Sekian dulu postingan saya kali ini. Dari cerpen itu,
terserah kalian untuk menafsirkannya. Pemikiran kalian dibebaskan untuk
mengartikannya. Sampai jumpa lagi dipostingan berikutnya!
0 komentar:
Posting Komentar