Welcome to the journey!

Jumat, 24 Oktober 2014

Puisi: Tanpa Batas

Tanpa Batas


Kami sama, tapi beda




Saling menyatukan tangan kami untuk doa, tapi tak persis sama


Kami sama, tapi beda




Ada sesuatu yang kami ingin dari Sang Pelukis Semesta
Hidayah-Nya yang ku damba. Mukjizat-Nya yang dia pinta


Kami sama, tapi beda


Kami menangis bersama Dia, dalam sujudku dan tunduknya


Tapi......
Sungguh, kami berbeda
Aku mengharap cinta tanpa batas, sedang ia tidak tahu....................... hati yang menahan kata sayang



Kamis, 16 Oktober 2014

Puisi: Goda Burung

Goda Burung

Suatu kisah, aku berdiri
Melihat kawanan burung 
Bertengger rapi
di pohon tinggi nan rindang 
Dua burung terduduk di puncak
dengan cantik dan lembut
Menyapaku lewat kicauan merdunya
Menatapku lewat mata sayunya
Dibawah
Banyak burung bertingkah bak ratu
Tak terhitung jumlahnya
Tanpa makna kicauannya
Namun, ada burung dibelakangku
yang pernah kulihat dulu
Sering aku menoleh ke belakang
Tapi dia sibuk berkicau
Ada juga burung disampingku
Terus berkicau dengan genit
untuk burung disebrang
Mengganggu keheningan semu
Tak bisa
Aku terus berdiri
Memikirkan langit diatas
Sambil tetap disekitar sayap-sayap putih...


Rabu, 20 Agustus 2014

I'm pro heterogen

Berbeda-beda tapi tetap satu, itulah Bhinneka Tunggal Ika! Semboyang yang sudah pasti selalu kalian lihat di bagian kaki lambang negara kita, burung Garuda. Bhinneka Tunggal Ika sendiri menggambarkan keadaan kehidupan masyarakat yang super heterogen. Tapi, dari gue sendiri lebih suka bilang ‘berbeda-beda tapi tetap (ber)satu’ daripada ‘berbeda-beda tapi tetap satu’, karena menurut gue sendiri jika menggunakan ‘satu’ berarti kita melebur menjadi satu, sedangkan kalau menggunakan ‘(ber)satu’ berarti maknanya kita menyatu tapi tak melebur.

Kembali ke Bhinneka Tunggal Ika. Kenapa gue nyebut Binneka Tunggal Ika menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang super heterogen? Gimana enggak, udah beribu-ribu suku dari Pulau Weh sampai Kota Merauke. Kalo misal kita lihat, ada gak negera lain yang punya suku sebanyak kita? Enggak! Belum lagi soal bahasa, udah gak kehitung berapa bahasa yang ada di Indonesia. And for your information, Papua adalah pulau dengan bahasa terbanyak di dunia. Bayangkan aja, setiap suku di Papua punya bahasanya masing-masing. Bicarain juga soal kepercayaan yang ada di Indonesia, pake Sensus juga mungkin susah dihitung. Dan masih banyak hal-hal yang membuat kita super duper heterogen.

Tapi, ada satu pertanyaan yang muncul dari keadaan heterogen negeri ini. Apakah rakyat Indonesia sudah menerima keadaan heterogen tersebut?

Kalo menurut saya pribadi, rasanya rakyat Indonesia masih belum bisa beradaptasi dengan keadaan ini.
“Kenapa lu berani bilang rakyat kita belum bisa menerima keadaan yang heterogen!?” Yaahhh, gue berani bilang gitu karena memang banyak buktinya. Banyak banget aksi-aksi yang secara tersirat meyampaikan bahwa mereka ‘anti-heterogen’.

Mau dijabarin buktinya? Ayo, gue kasih satu-satu ke kalian.

Kalian tentunya masih ingat dengan kasus GKI Yasmin, bukan? Yap, kasus ini seputar pembekuan IMB pembangunan GKI Yasmin. Akibatnya, umat Kristen GKI Yasmin melakukan ibadah di trotoar-trotoar jalan di Kota Bogor. Alasan pembekuan IMB pembangunan GKI Yasmin sih katanya karena ada pemalsuan tanda tangan. Tapi, kenapa mau bangun tempat ibadah saja harus dipersulit?

Satu lagi nih. Kalo kalian masih ingat, seorang Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifi, diprotes oleh warganya sendiri karena dirinya bukan penganut agama Islam. Alasannya sih macam, mulai dari gak bisa hadirin pengajian, tidak mengucapka assalamualaikum dan lain-lain.

Dari sisi etnis juga ada. Mungkin, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa sudah terjadi dari dulu. Bayangkan aja, sudah banyak aksi-aksi diskriminatif yang diterima, seperti prngucilan, tidak dianggap, sampai yang paling parah pembakaran rumah. Tapi, itu pas masih jamannya Orde Lama. Untungnya, saat pemerintahan Gus Dur, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Mau lagi buktinya? Kalian pasti tau OPM kan? Yap, Organisasi Papua Merdeka. Mereka menyerukan agar Papua memisahkan diri dari NKRI. Penyebabnya? Lagi-lagi karena masalah etnis. Orang Papua merasa bahwa mereka berkulit hitam, sedangkan orang ‘Indonesia’ berkulit putih, sehingga mereka sudah merasa berbeda dari ‘Indonesia’.

Dan masih banyak lagi hal-hal anti heterogen yang terjadi di sekitar kita. Jadi, setelah lihat kasus-kasus tersebut, apakah kita masih dibilang bisa menerima keadaan super heterogen? Jawabannya mungkin dari masing-masing dari kalian. Apakah kalian bisa menerima perbedaan itu atau gak. Itu semua tergantung dari diiri kalian.

“Banyak bacot lu! Emang tau apa soal heterogen? Emang lu pernah tinggal di daerah heterogen? Lu paling cuman omong doang!”

Gue tinggal di daerah yang sangat heterogen. Gimana gak, gue lahir di Papua, dimana ‘pendatang’ merupakan minoritas termasuk gue juga. Dan juga, Kristen merupakan agama mayoritas di Papua dan gue adalah Muslim. So, gue gak bakal ngomong kayak gini kalo misal gue gak alamin sebelumnya.

So, buat kata-kata penutup, harapan gue buat Indonesia kedepannya adalah bahwa tidak ada diskriminasi suku, ras dan etnis. Juga gue berharap bahwa semua pemeluk agama bisa menjalankan ibadahnya tanpa harus merasa was-was dan takut. Yang paling penting, gue berharap rakyat Indonesia bisa menerima ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang sudah mendarah daging di negeri ini.

Well, as a close statement, I’M PRO HETEROGEN!



Selasa, 01 Juli 2014

Edisi Spesial Ramadhan : Puisi

Selamat siang, kawan Pemikir Muda! Masih semangat kan puasanya? Udah pasti yang baca blog gue pasti semangat puasanya \^_^/

Kali ini, gue mau post suatu yang beda dari yang biasa gue post. Kalo misal biasanya gue post tentang curhatan gue atau pikiran gue, kali ini gue mau nge-post salah satu hasil hobi gue pas semester 1 ini. Yaitu......... Puisi

Gue memang pas semester 1 kelas X punya kebiasaan nulis puisi. Tapi, jangan salah sangka dulu. Gue gak pernah nulis puisi-puisi cinta. Sering gue nulis puisi-puisi soal sindiran-sindiran sosia.

Nah, silahkan baca puisi gue dengan menghayati dan mendalami. Selamat membaca!


Balada Negeri Lembah
(Karya: Giras Refindasasti)
Cerita-cerita serigala busuk
Di antara lembah gunung-gunung subur
Memiliki tanah tanpa rasa syukur
Semena dalam menginjak

                                                Terlihat domba-domba
                                                kocar-kacir memberi darah
                                                Tak satupun nyaman di lembah
                                                Walau rumput tumbuh meluas
                                                Tetap sengsara di tubuh

Serigala-serigala busuk
Seperti raja tanpa dosa
Memimpin dengan kepala
Tidak dengan rasa

                                                Hanya satu harap para domba
                                                Muncul serigala bulu domba
                                                Pemimpin tanpa sikap serigala

                                                Adil bagi negeri lembah

Kebiasaan baru, Nulis

Selamat siang, Pemikir Muda! Udah lama rasanya gue gak nge-post. Yah, karena banyaknya urusan sekolah + urusan pribadi, jadinya blog gue agak tidak terurus.

Nah, daripada puasa gak jelas dan gak lagi lakuin apa-apa, mending baca aja curhatan gue sekaligus permulaan baru buat blog dan diri gue sendiri

Hobi bagi banyak orang itu jadi bahan pelampiasan perasaan ataupun pikiran kita. Bisa jadi itu nyanyi, main game, gambar dan lain-lain. Hobi juga jadi bahan pelarian dari rutinitas yang biasa kita lakuin. Memang, kalo udah yang namanya berkutat dengan hobi itu rasanya gak boleh ada yang ganggu kita. Selain itu juga, hobi sering kali merupakan presentatif diri kita, kalo kita hobi gambar mungkin kita itu orangnya kalem. Atau, kalo hobinya cari ribut berarti kita sifatnya kasar (XD). Hobi juga bisa jadi saat paling-paling menyenangkan kalo udah ketemu sama yang punya hobi sama dengan kita. Itu rasanya berkumpul sama spesies sendiri.

Nah, sejak masuk SMA, gue punya hobi baru, atau lebih enak disebut kebiasaan baru. Kebiasaan baru gue yaitu nulis atau kalo lebih dinalar sih ‘ngetik’, yah karena memang gue gak nulis pake pulpen dan kertas tapi pake keyboard dan monitor alias laptop. Gue tertarik nulis sejak liat banyak yang bikin blog. Karena ngerasa pingin cari pelampiasan baru selain nonton anime, akhirnya gue juga ikutan juga bikin blog. Dengan modal ingatan pas SMP pernah diajarin bikin blog, jadilah my first blog, Pemikir Muda judul blognya. Sama juga waktunya pas puasa, gue bikin post pertama gue. Masih agak culun dan baku, judul post pertama gue bisa kalian lihat di daftar isi blog gue.
            
Sejak post pertama gue terbit, sekitar 3 bulan vakum, gue nulis lagi di blog gue. Lagi ada mood + baru nonton film The Lady, jadinya punya bahan buat nulis lagi di blog gue. Oh ya, gue gak bakal bisa bikin blog dan nulis blog kalo gak berkat bantuan dari kakak gue, yaitu Wi-Fi. Karena benda itulah gue bisa internetan gratis tanpa bayar. Lanjutin yang tadi. Dan lagi-lagi, gue vakum lagi.
            
Akhirnya, awal semester 2, gue berkutit lagi dengan dunia blog gue. Kali ini, gue seriusin. Dimulai dengan awal baru, post tentang diri gue, gue lanjutin dengan post-post yang lain. Berhubung juga dengan seleksi Kaca yang membuat blog gue makin rame karena pengumpulan tugasnya harus lewat blog.
            
Akhir-akhir ini, gue jarang ngepost. Yah, karena sibk urusan sekolah juga sibuk urusan pribadi jadinya blog agak terbengkalai. Paling gue cuma ngeliat udah berapa yang nge-view post gue. Kan banggalah ada nge-view tulisan gue.
            
Dan di awal ramadhan yang penuh berkah ini, gue membuat suatu permulaan baru lagi. Karena baru instal Windows 8 dan Office 2013, plus dapat tempat nongkrong baru yaitu di Perpustakaan Kota, jadinya gue sering banget nulis sekarang. Kalo dulu gue nulis langsung di blog gue, sekarang gue nulis dulu di Word terus gue kopi ke blog gue. Sering sekarang malah gue gak bisa tidur cuma karena ada banyak ide buat nulis. Alhasil, jam tidur gue jadi kacau balau karena gak tidur cuma buat nulis.
            
So, sebenarnya, gue dari SMP punya sebuah mimpi. Mimpi gue yaitu nerbitin sebuah buku. Terserah buku itu apa, mau itu novel, pengetahuan, atau apalah yang penting ada sebuah buku yang tercantum pengarangnya gue. Nah, gue punya niat dari blog gue ini, gue bisa bikin buku. Yah, sejenis Raditya Dika lah yang buat bukunya dari post-postnya di blog. Dan insyaallah, gue mau beneran niat garap buku gue di kelas 11 ini. Gue gak mau bikin buku cuma jadi mimpi gue. Udah saatnya gue ada aksi buat itu jadi nyata. Masih bingung mau bikin buku apaan, tapi berharapnya sih buku yang bisa ngejangkau segala golongan.

            
Sekian dari curhat panjang gue kali ini. Kalo kalian bosen baca post gue yang gitu-gitu aja, kalian bisa kok kritik. Gue siap nerima kritik dan cacian dari kalian.

Selamat puasa dan Fighting! :D

Minggu, 11 Mei 2014

Selalu Bersemangat, Kakak-Kakak Padakacarma!

Kolom Kaca merupakan salah satu rubric di Koran Kedaulatan Rakyat dimana para reporternya adalah remaja. Para reporter remaja ini berkisar umur  15-17 tahun. Dalam Kaca juga, ada system angkatan. Setiap 6 bulan sekali akan ada pemilihan anggota Kaca yang baru. Dan pada tahun 2014 ini, Kaca telah sampai angkatan ke-24.
Dalam penyeleksian anggota Kaca #24 ini, alumni Kaca atau yang disingkat dengan nama Padakacarma (Persaudaraan Alumni Kaca dan Reporter Remaja) berperan sebagai panitia penyeleksian anggota Kaca #24. Mereka berperan dari awal penyeleksian seperti wawancara, orientasi awal dan sekarang, Sekolah Kaca. Tetapi, siapa saja kakak-kakak Padakacarma yang sering ikut aktif dalam penyeleksian Kaca #24 kali ini? Yuk, kita review satu-satu
Ada yang namanya Kak Desti. Kak Desti ini termasuk salah satu kakak panitia yang paling aktif. Dia paling sering membuat suasana menjadi sennag karena bercandanya. Namun, di sisi lain, Kak Desti juga bias menjadi seorang yang memberikan masukan . Kak Desti sering memeberikan masukan terhadap para calon anggota Kaca #24 untuk lebih mengevaluasi dan memperbaiki tulisannya. Kak Desti juga termasuk kakak Padakacarma yang paling dekat dengan calon Kaca #24.
Selanjutnya ada Kak Anas. Kalau yang satu ini termasuk yang jarang bicara. Tetapi, dia adalah ketua panitia seleksi Kaca#24. Kak Anas juga terlihat paling sibuk diantara yang lain, mungkin karena dia adalah ketua panitia seleksi Kaca #24. Dia termasuk juga memberi banyak masukan terhadap calon Kaca #24. Kak Anas juga sering terlihat sebagai yang mendokumentasikan acara.
Ada juga Kak Niken. Kakak Padakacarma yang satu ini juga termasuk yang membuat suasana menjadi riang. Tetapi selain riang, Kak Niken juga seorang yang tegas. Kak Niken selalu mengingatkan kepada para calon Kaca #24 tentang tugas-tugas yang harus dikumpulkan tepat waktu. Walaupun begitu, banyak masukan yang diberikan kepada calon Kaca #24 untuk lebih baik kedepannya.
Berikutnya ada Kak Arnindhita. Walau terlihat agak tua, tetapi Kak Arnindhita ini termasuk alumni Kaca #1. Kak Arnindhita ini memberikan materi kepada calon Kaca #24 tentang bagaimana menjadi repoter yang baik saat bertugas. Kak Arnindhita juga termasuk sangat peduli terhadap para calon Kaca #24. Dengan sifatnya yang lembut, Kak Arnindhita berusaha untuk membuat para calon Kaca #24 memahami tentang materi-materi yang diberikan.
Ada juga Kak Amalia. Kakak yang satu ini termasuk yang selalu membuat suasana menjadi riang. Dia juga sering bercanda dengan para alumni Padakacarma juga dengan para calon #24. Ada juga hal-hal lucu yang dibuat oleh Kak Amalia ini. Namun, Kak Amalia juga selalu member masukan terhadapa paar calon Kaca #24.
                Dan yang terakhir ada Kak Nurhayati. Lulusan MAN 3 Yogyakarta ini termasuk salah satu alumni Padakacarma. Kak Nurhayati memang tidak selalu hadir dalam pertemuan, tetapi dia berusaha untuk selalu mendukung calon Kaca #24. Kak Nurhayati termasuk orang yang periang dan ramah. Kak Nurhayati juga terlihat berusaha akrab dengan para calon Kaca #24 agar lebih dekat.
                Sebenarnya, masih banyak lagi kakak-kakak Padakacarma yang sering terlibat dalam seleksi calon Kaca #24 kali ini. Mereka termasuk yang mengurus, mengawasi dan member masukan juga kepada calon Kaca#24 untuk selalu lebih baik kedepannya.

                Mungkin, mereka sering kelelahan dan juga letih dalam proses seleksi calon Kaca #24 ini. Namun, mereka senang jika kelelahan mereka untuk sebuah hal yang bermanfaat. Mereka juga punya harapan bahwa calon Kaca #24 dapat bekerja dengan baik sebagai reporter remaja.

Jumat, 09 Mei 2014

Sekolah Kaca, Ajang Bermain, Belajar dan Berbagi



Sekolah Kaca merupakan kegiatan pelatihan jurnalistik bagi para calon reporter remaja rubrik Kaca di koran Kedaulatan Rakyat. Sekolah Kaca diadakan untuk setiap calon angkatan reporter remaja rubrik Kaca. Untuk calon reporter remaja rubrik Kaca angkatan 24 kali ini, Sekolah Kaca diadakan dari hari Kamis (9/5/14) sampai hari Minggu (11/5/14). Sekolah Kaca diadakan di kantor Kedaulatan Rakyat, lebih tepanya di pendopo kantor Keadulatan Rakyat. Dalam Sekolah Kaca ini juga, para angkatan sebelumnya ikut membimbing para calon reporter remaja ini dalam mengikuti Sekolah Kaca. Dalam Sekolah Kaca kali ini, banyak kegiatan-kegiatan bermanfaat yang dilakukan para calon reporter remaja rubrik Kaca dan para anggota angkatan sebelumnya yang dimulai dari pukul 16.00 sampai pukul 18.00.
            Sekolah Kaca dimulai dengan acara perkenalan. Masing-masing calon reporter remaja Kaca memperkenalkan namanya dan asal sekolah. Selanjutnya, para calon reporter remaja Kaca diminta untuk membuat sebuah tanda pengenal agar para senior bisa mengetahui masing-masing nama dari calon reporter remaja Kaca. Selain itu, calon reporter remaja Kaca juga di diingatkan soal tugas yang akan diberikan kepada mereka.
            Kegiatan Sekolah Kaca pun segera dimulai. Ada beberapa permainan yang diberikan oleh para senior kepada calon reporter remaja Kaca. Salah satunya adalah sambung kata. Di situ, mereka diminta untuk menyebutkan satu kata dari akhiran kata yang sebelumnya sudah diucapkan teman disebelahnya. Ada hukuman yang diberikan yaitu untuk bercerita dengan tema yang telah ditentukan. Kegiatan tersebut cukup menyenangkan bagi para calon reporter remaja Kaca karena disamping permainan, kegiatan tersebut juga dapat mempererat ikatan antar mereka.
            Acara pun berlanjut ke sesi yang lebih formal. Para calon reporter remaja Kaca diminta untuk menuliskan ide-ide untuk menjadi dasar sebuah tulisan. Mereka juga diminta membacakannya kepada teman-temannya. Di situ, mereka saling berbagi pikiran mereka tentang ide-ide yang telah dibacakan tadi. Ide yang tadinya hanya terbatas dapat berkembang menjadi luas karena mereka saling bertukar pikiran.
            Pelajaran pertama yang diberikan di Sekolah Kaca adalah tentang ide. Ide merupakan gagasan awal sebuah tulisan. Diajarkan juga bahwa ide tidak hanya sebatas satu pemikiran. Ide dapat juga kita kembangkan. Namun, tidak semua hasil pengembangan itu dapat kita ambil sebagai bahan penulisan. Dapat kita ambil pengembangan yang sekiranya dapat kita kembangkan menjadi tulisan. Contohnya, jika kita berbicara soal hijab. Pasti banyak hal yang bisa dikembangkan dari ide itu seperti tentang mode, agama, syariah, niat dan sebagainya. Mungkin kita bisa mengambil beberapa pengembangan seperti misalnya mode, agama dan niat. Dari situ, bisa kita kembangkan tulisan kita menjadi lebih menarik untuk dibaca.
            Banyak sekali hal-hal yang dapat dijadikan pelajaran dalam Sekolah Kaca ini. Para calon reporter remaja Kaca saling berbagi pemikirannya di Sekolah Kaca. Secara tidak langsung, mereka telah menambah pengetahuan dan pengalaman karena saling bertukar pikiran ini. Hal-hal seperti ini kelak yang diperlukan dalam penyusunan sebuah berita. Dalam penyusunan suatu berita, banyak ide dan pemikiran diantara sebuah tim. Jika ide-ide dan pemikiran-pemikiran itu tidak dapat dibagi secara baik, maka hasilnya pun percuma dalam penyusunan berita. Di. sini, mereka dilatih bagaimana sebuah ide dan pemikiran dapat dikembangkan dan juga dapat ditukar sesama kelompok.
            Selain juga tentang pelatihan, para calon reporter remaja Kaca juga diajak untuk membentuk suatu ikatan dengan teman-teman yang lain. Mereka secara tidak langsung juga diajarkan tentang kekeluargaan dan persahabtan yang erat. Hal seperti ini sangat mendukung dalam penyusunan berita kelak.
            Sekolah Kaca memang bukan sekedar pelatihan jurnalistik bagi remaja, tetapi juga sebagai ajang untuk para calon reporter remaja Kaca untuk bermain, belajar, dan berbagi dengan sekitar.

(Feature)

Sekolah Kaca, Pelatihan Jurnalistik bagi Reporter Remaja



Di pendopo kantor Kedaulatan Rakyat, Jum’at (9/5/14), diadakan pelatihan jurnalistik atau disebut Sekolah Kaca bagi para calon reporter remaja untuk rubrik Kaca di Kedaulatan Rakyat. Dalam Sekolah Kaca, para calon reporter remaja ini diajari untuk bagaimana terlibat dalam pembuatan sebah berita, termasuk yang berkaitan tentang tema, ide, wawancara dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik. Sekolah Kaca ini rencananya akan berlangsung selama 4 hari dimulai dari hari Kamis (8/5/14) sampai hari Minggu (11/5/14).
            Sekolah Kaca tidak hanya berlaku untuk calon reporter remaja yang sekarang, tetapi Sekolah Kaca juga merupakan tradisi yang dilakukan sebagai ajang belajar dan berbagi untuk para reporter remaja Kaca angkatan sebelumnya. Desti, salah satu reporter di rubric Kaca mengaku senang terhadap kegiatan seperti ini. Walaupun sering mengalami kelelahan dalam kegiatan ini, tetapi Desti mengatakan bahwa senang jika kegiatan ini dapat bermanfaat untuk semua. Desti juga meminta bagi para calon reporter remaja rubrik Kaca ke depannya untuk dapat bekerja secara professional dalam mencari dan membuat berita untuk rubrik Kaca nantinya.

(Straigh News)


Sekolah, Tempat Mencari Ilmu atau Tempat Mencari Gengsi?



Sekolah merupakan tempat orang-orang untuk mendapatkan pendidikan secara formal. Di sekolah, kita mendapatkan pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan apa saja yang bisa dipelajari di sekitar kita, mulai dari lingkungan, manusia, teknologi, moral dan sebagainya. Selain juga sebagai tempat menimba ilmu, sekolah juga merupakan salah satu saksi atau juga tempat kejadian dimana seorang anak menjadi lebih berkembang atau telah matang.
Namun, di zaman era globalisasi yang semunya serba menggunakan teknologi ini, sekolah-sekolah di Indonesia telah berubah juga menjadi sebuah komunitas sosial. Kenapa? Sekolah sekarang ini tidak lagi berfungsi utama sebagai tempat mencari ilmu, tetapi juga tempat ajang formalitas belaka para siswa, orang tua sisiwa, maupun guru. Orang di zaman sekarang tidak lagi memandang semua sekolah itu sama. Kadang, anak-anak yang akan masuk sekolah akan menimbang masuk sekolah dari ranking sekolah tersebut. Jika memang anaknya pintar, mungkin saja beruntung bias masuk ke negeri. Jika memang kemampuan akademiknya standar, orang tua mencarikan sekolah-sekolah swasta yang bertaraf internasional untuk anaknya mengenyam pendidikan. Nah, disini kita lihat bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mengenyam pendidikan, tetapi juga sebagai tolak ukur sejauh mana baik dari sisi kemampuan akademik maupun juga kemampuan harta.
Selain juga sebagai alat tolak ukur, sekolah juga hanya menjadi alat gengsi. Mengapa? Sebagian dari kita pastinya malu ataupun gengsi jika masuk ke sekolah yang istilahnya tidak favorit dan juga tidak mempunyai prestasi yang banyak. Banyak dari kita akan berusaha sebisa mungkin untuk masuk sekolah yang favorit dan unggul. Dengan masuk sekolah yang favotit dan unggul, kita mungkin saja bisa merasa disegani dan mempunyai cukup percaya diri di masyarakat karena kita masuk sekolah favorit.
Nah, disini terjadi kekeliruan yang besar yang sedang terjadi di masyarakat. Sekolah sekarang ini mungkin saja sudah berubah fungsi yang tadinya tempat mencari ilmu menjadi tempat mencari gengsi.  Orang tua sering berpikir bahwa sekolah yang bagus bagi anaknya adalah sekolah yang terbilang favorit dan banyak prestasinya. Persepsi soal sekolah yang bagus ini yang sering disalah artikan oleh banyak orang tua. Merepa berpikir juga jika anaknya sekolah di sekolah yang tidak favorit maka anaknya tidak bisa menjadi lebih pintar.
Sebenarnya, semua sekolah adalah sama. Mereka semua mengajarkan mata pelajaran yang sama. Hampir semua sekolah juga mempunyai kualitas guru yang sama baiknya. Kurikulum yang digunakan kan juga tidak ada beda.
Mulai dari sini kita harus memandang sekolah daris segi tempat mencari ilmu. Sebenarnya, sekolah yang baik merupakan sekolah juga berawal dari para siswanya. Siwa yang dapat dengan rajin mencari ilmunya di sekolah pasti juga akan meningkatkan nama sekolah. Namun sekekali lagi, favorit ataupun tidak itu tidak penting. Ynag terpenting adalah bagaima orang tua dapat membimbing anaknya dalam mencari ilmu di sekolah, mau itu di sekolah favorit maupun di sekolah yang bisa dibilang tidak favorit. Semua itu sekali lagi kembali masing-masing anak yang mencari ilmu. Jika memang anak tersebut serius mencari ilmu, di sekolah yang tidak favorit sekalipun, tetap saja dia akan berhasil karena pada dasarnya bukan sekolah yang mempengaruhi seorang anak dalam keberhasilannya, namun seorang anak akan berhasil itu dilihat dari usaha dan niat anak dalam mencari ilmu untuk masa depannya.