Senin, 07 April 2014

Hidup tidaklah datar, tetapi berkelok

Selamat malam, Pemikir Muda! Atau juga selamat malam, Panitia Kaca! Hehehehe. Maaf kalau saya mencantumkan Panitia Kaca karena sebenarnya pos kali ini adalah sebuah tugas artikel yang diberikan kepada para calon Kaca. Baiklah, malam ini saya ingin berbagi cerita saya terkait juga mengenai Kaca ini.

Kemarin, hari Sabtu tanggal 5 April 2014, saya dan para calon kaca yang lain diwajibkan berkumpul di aula atas kantor Kedaulatan Rakyat untuk mengikuti orientasi awal atau mungkin dalam bahasa yang lebih enak 'kumpul bareng'. Pada saat itu cuaca kurang bersahabat dan ada pawai salah satu partai yang berakhir bentrok, jadi awalnya saya kurang yakin untuk pergi. Tetapi, karena juga saya ingin tahu apa saja yang akan dilakukan, jadi saya pun memutuskan untuk pergi walaupun saya berangkat dari rumah jam 4.10 sore. Dan, bisa ditebak, saya terlambat hadir (maklum saya orangnya ngaret). Acara perkenalan pun (sepertinya) sudah terlewati. Saya agak merasa malu saat datang dan duduk (hehehehe). Beberapa saat setelah saya hadir, kakak-kakak Kaca menyuruh semua yang ada di dalam ruangan dan membuat sebuah lingkaran besar. Setelah itu, kami pun disuruh melakukan permainan (alasannya sih karena udara yang makin dingin). Cukup menyenangkan. Saya merasa hangat kembali setelah permainan itu (hehehehe). Nah, masuklah bagian acara yang menjadi pokok tulisan ini. Kakak-kakak Kaca akan membuat sebuah permainan lagi. Permainan ini dinamakan Line Game. Ya, memang permainan ini berhubungan dengan plakban yang dibentangkan sehingga membentuk garis panjang. Kami pun disuruh berdiri di depan garis tersebut sehingga kami berdiri saling berhadapan (fotonya dibawah). Peraturan permainannya cukup simpel. Setiap kalimat yang diberikan, jika berhubungan atau terkait dengan kita, kita maju selangkah mendekati garis. Awalnya, saya kira ini memang permainan buat senang-senang. Pada saat awal, kalimat yang diberikan masih berbau fun. Saya juga maju saat ditanya: Siapa yang masih ingat soundtrack kartun pas masih kecil?. Karena masa kecil saya bahagia (hehehe), saya pun maju. Saya juga disuruh untuk menyanyikannya. Hanya satu masalah saat itu, saya tidak terlalu fasih bahasa Jepang sehingga saya pun menyanyikan lagu opening Doraemon versi Indonesia. HAHAHA.

Pertanyaan pun mulai ke jenjang yang lebih serius. Soal masalah sekolah. Saya juga maju soal masalah sekolah ini. Saya maju saat ditanyakan siapa yang jadi korban bully di sekolah. Saya sih sering dibully dalam arti hanya bercanda (saya juga kurang yakin).Nah, sehabis masalah sekolah, masalah yang lebih serius pun ditanyakan. Persoalan narkoba. Saya melihat banyak yang maju ketika pertanyaan diajukan. Saya mulai merasa tertarik. Ada satu pertanyaan ini yang membuat saya tertarik: "Siapa yang mengenal pengedar narkoba?". Saya mengira, tak ada yang akan maju, tetapi ternyata ada yang maju. Disitu, saya mulai berpikir: "Hidup tidak sedatar yang saya kira bagi seorang remaja." (di ruangan itu semua umurnya masih remaja). Persoalan lain juga ditanyakan seperti miras, dugem, dan masalah free sex. Pertanyaan pun bergainti topik ke masalah yang lebih personal, tentang masalah keluarga. Beberapa pertanyaan awal masihlah pertanyaan klise tentang keluarga. Pertanyaan selanjutnya mungkin menurut saya agaknya sangat privasi: "Diantara kalian, adakah yang merasa keluarganya broken home?". Yap, betul saja, ada yang maju. Saya disitu juga berpikir ulang lagi bahwa hidup orang lain tidaklah sama seperti kita.

Dibagian pertanyaan selanjutnya yang membuat saya agak syok. Petanyaannya adalah "Siapa yang pernah berniat bunuh diri?". Disitu, saya berpikir pasti tidak ada yang maju, tetapi, perkiraan saya salah. Cukup banyak yang maju. Mereka pun memiliki berbagai alasan mengapa berniat bunuh diri. Tetapi, saya agak kurang simpati terhadap orang yang berniat bunuh diri. But, itu pilihan mereka. Asal mereka sudah mengetahui yang mereka akan lakukan adalah salah, it's okay.

Nah, di paragraf ini, saya hanya akan membahas terkait pertanyaan yang sangat berhubungan dengan saya saat ini. Dua pertanyaan itu adalah: "Apakah kamu merasa sendiri?" dan "Menurut kamu, dirimu yang sekarang bukanlah dirimu yang sebenarnya?". Dari dua pertanyaan itu, saya pun maju. Saya merasa dua pertanyaan itu adalah permasalahan yang sekarang saya hadapi.

Untuk pertanyaan pertama, jika ditanya seperti itu, saya pun bilang, yes. Mengapa? Sampai saat ini, saya belum menemukan seseorang yang mendukung saya yang bisa ada disamping saya, kecuali orang tua. Sekalipun itu saudara ataupun teman. Kadang juga, pendapat ataupun perkataan saya kadang tidak dihiraukan. So, secara tidak langsung juga menjawab pertanyaan kedua. Saya yang sekarang bukanlah saya yang sebenarnya. Tawa ataupun tindakan yang saya lakukan adalah tipuan semata. Saya berkata jujur. Saya belum bisa berekspresi secara bebas mengikuti diri saya yang sebenarnya. Mungkin, lingkungan yang berbeda dari lingkungan kelahiran saya sehingga menghasikan dua akibat: saya sendiri dan saya bukanlah diri saya yang sebenarnya.

Hidup tidaklah mudah. Hdup yang kita tahu mungkin hanya rekayasa semata, seprti yang dikatakan kakak-kakak Kaca. Dari permainan Line Game, kita bisa melihat sisi lain hidup orang yang berbeda. Mereka mungkin punya hal yang jauh bertolak belakang dengan kita. Kita semua mempunyai cerita yang berbeda. Kita di dunia ini, mempunyai masa lalu yang berbeda, kisah yang berbeda, takdir yang berbeda, cara yang berbeda, dan tentunya masa depan yang berbeda. Maka dari itu, hidup bukanlah seperti sebuah garis yang lurus, tetapi hidup seperti layaknya coretan yang berekelok.

Cukup sekian pengalaman saya kali ini. Semoga, pos kali ini bisa diambil pelajarannya. Selamat malam semua!

(Ini foto ketika bermain Line Game)




0 komentar:

Posting Komentar