Selamat siang, Pemikir Muda! Berjumpa lagi dengan saya (emang dengan siapa lagi >_<)! Akhirnya, saya ada waktu untuk meluangkan waktu membuat post baru umtuk teman-teman Pemikr Muda.
Siang ini, saya akan membicarakan soal pengalaman saya saat mengikuti UN SMP tahun lalu alias tahun 2013.
Jujur saja saya mengakui, saya bukan tipe orang yang ngotot belajar. Jadi, dalam UN SMP waktu itu, Bapak saya, Bapak Karyoto Sardi Amat, "menekan" saya dalam belajar. Dan (diawal) saya beretkad untuk belajar giat.
Memang, saya cukup belajar dengan keras (hehehehe sombong dikit). Setiap hari, saya usahakan untuk mengerjakan soal. Saya juga belajar dengan giat untuk mengejar impian saya untuk sekolah di Jogja. Banyakorang mengatakan pada saya bahwa persaingan NEM di Jogja itu ketat, apalagi dari luar kota. Maka dari itu, saya bertekad untuk mendapat hasil yang baik.
Sempat banyak rintangan yang menghambat saya, yaitu: KEMALASAN. Hal yang satu ini memang sudah menjadi musuh saya sejak dulu. Saya berani bayar mahal, deh kalau ada orang yang bisa membuat alat yang pembasmi KEMALASAN.
Setelah persiapan satu tahun yang (lumayan) matang, akhirnya UN SMP dimulai saat itu. Dan hal yang membuat unpredictible yaitu saat ada materi kisi-kisi yang tidak keluar di UN! Yap, saya terkena karma. Bapak saya, dulu sebelum UN sudah bilang: "Gir, kalo belajar, belajar semua. Jangan terlalu berharap sama kisi-kisi.". Saya agak tidak menggubris perkataan bapak saya saat itu. Dan hasilnya, saya terkena kualat.
Sempat depresi sehabis UN mata pelajaran IPA saat itu. Saya udah tebak hasil yang buruk untuk UN mapel IPA ini. But, saya sih tetap optimis.
Pada saat itu juga saya dipercaya menjadi ketua panitia perpisahan dan saya streesss selama sekitar 2 bulan mengurusi masalah itu. Disaat itu, saya agak kurang fokus terhadap hasil UN.
Lalu, kalo gak salah 3 atau 2 minggu hasil UN sudah keluar. Dan, alhamdulilah, semua lulus 100%. Tetapi, NEM saat itu belum keluar. Padahal, cuma NEM yang saya pengen tau (walaupun kelulusan juga perlu). Dan, Kepala Sekolah saya memberitahukan nilai UN mapel MTK saya. Saya mendapat 10! Seumur-umur, ujian MTK dapat 10!
Disitu, saya optimis bisa mendapat NEM tinggi. Bapak saya juga.
Pada saat acara perpisahan dimulai. saya datang pagi saat itu (biasa ketua panitia). Saya menyelinap masuk ke ruang tata usaha untuk mengambil sessuatu saat itu. Di atas meja tata usaha, tergeletak piagam untuk 10 besar peraih nilai tertinggi UN. Saya pun melihatnya. Di saat itu, sya kaget. Di luar perkiraan saya. Saya mendapat ranking 8. Saya tidak terlalu mempersalahka ranking, tetapi NEM. Dan NEM saya adalah 33,9. Saya syok saat itu. Dada saya terasa sesak. Padahal saya sudah opitmis mendapat nilai tinggi, tetapi takdir berkata lain.
Saya masih menyesal sepanjang acara waktu itu. Walau tetap mengurusi acar itu, saya tetap syok. Bagaimana tidak, untuk sekolah di Jogja diperlukan NEM tinggi dan saya tidak mendapatkan NEM yang tinggi. Saat itu, bapak saya mau ke WC. Saya pun mengantarkannya. Saya pun bilang pada bapak saya bahwa saya mendapat NEM 33,9. Dan saya tau bahwa bapak saya kecewa. Udah kelatan dari wajahnya. Tapi, bapak saya mnyembunyikannya dengan berkata: "Gak apa-apa. Ya udah itu hasilmu." Disitu saya masih menyesal.
10 besar peraih nilai tertinggi UN naik ke atas panggung acara bersama orang tua. Saat maju, saya berulang kali mengatakan hal yang sama pada bapak saya: "Maaf, Pak." Jujur, saat itu jika saya bisa nangis, saya nangis. But, bapak saya bilang suatu hal yang saya akan ingat seumur hidup: "Gir, bapak gak pentingin hasil. Bapak liat proses kamu buat UN. Kamu udah bagus. Gak apa-apa.". Di atas panggung saat itu, saya tersentak. Saya berusaha menjernihkan pikiran.
He's right. It's not about the result, it's about the prosces.
Itu adalah sebagian pengalaman saya yang ingin saya bagi kepada anda semua.
Nah, soal hasil akhir. Orang yang berpikir bahwa hasil akhir adalah segalanya akan melakukan cara apapun utnuk meraih hasil yang sempurna.
It's wrong.
Hasil bukanlah segalanya. Tetapi, proses yang menentukan kita berhasil atau tidak.
Jika kita hanya berpatok pada hasil, orang bisa saja berbuat curang cuman agar dapat hasil yang baik. But, keberhasilannya? Nol besar.
Mereka bisa saja mnedapat seratus diatas kertas ulangannya, tetapi untuk keberhasilannya hanya mendapat nol di dalam pikirannya.
Sistem ini yang salah. Terlalu mengagungkan hasil akhir. Tetapi, proses yang dijalani tidak pernah dilihat.
Hal ini yang membuat kecurangan terus terjadi. Proses dianggap hanya pengantar untuk sebuah hasil. Tetapi, lebih dari itu, proses adalah penentu keberhasilan suatu usaha, bkan hasil akhir.
Cukup sekian dari saya. Maaf jika ada kesalahan kata. Selamat siang dan beraktivitas, Pemikir Muda!
Search
Popular Posts
-
Dalam pos kali ini, saya akan perkenalkan tentang diri saya. Mungkin agak telat, tapi apa salahnya. Nama saya Giras Refindasasti. Saya lahir...
-
Selamat malam, pemikir muda! Malam ini, saya ingin membicarakan tentang masalah pemilu yang akan segera dilangsukan di Indonesia. Pemilu di ...
-
Welcome back! Saya kembali lagi dengan menghadirkan posting terbaru. Tetapi, posting saya kali ini berbeda dari biasanya. Jika biasanya say...
-
Kembali berjumpa, Pemikir Muda! Memasuki fase menjadi “anak kuliahan” memberikan banyak sisi positif maupun negatif. Sisi positifnya makin...
-
Selamat pagi, Pemikir Muda! Rasanya sudah lama sekali tidak menerbitkan tulisan baru lagi di blog ini. Sekedar info saja, saya sekarang sud...
-
Goda Burung Suatu kisah, aku berdiri Melihat kawanan burung Bertengger rapi di pohon tinggi nan rindang Dua burung terduduk di...
-
Selamat malam, Pemikir Muda! Atau juga selamat malam, Panitia Kaca! Hehehehe. Maaf kalau saya mencantumkan Panitia Kaca karena sebenarnya po...
-
Kita ketemu lagi! Setelah lama vakum (lagi) akibat sibuknya dunia perkuliahan, saya sempatkan lagi untuk menulis blog lagi. Hitung-hitung u...
-
Selamat siang, Pemikir Muda! Udah lama rasanya gue gak nge-post. Yah, karena banyaknya urusan sekolah + urusan pribadi, jadinya blog gue aga...
-
Di pendopo kantor Kedaulatan Rakyat, Jum’at (9/5/14), diadakan pelatihan jurnalistik atau disebut Sekolah Kaca bagi para calon reporter...
Blogger templates
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar