Berbeda-beda tapi tetap satu, itulah Bhinneka Tunggal Ika!
Semboyang yang sudah pasti selalu kalian lihat di bagian kaki lambang negara
kita, burung Garuda. Bhinneka Tunggal Ika sendiri menggambarkan keadaan
kehidupan masyarakat yang super heterogen. Tapi, dari gue sendiri lebih suka
bilang ‘berbeda-beda tapi tetap (ber)satu’ daripada ‘berbeda-beda tapi tetap
satu’, karena menurut gue sendiri jika menggunakan ‘satu’ berarti kita melebur
menjadi satu, sedangkan kalau menggunakan ‘(ber)satu’ berarti maknanya kita
menyatu tapi tak melebur.
Kembali ke Bhinneka Tunggal Ika. Kenapa gue nyebut Binneka
Tunggal Ika menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang super heterogen?
Gimana enggak, udah beribu-ribu suku dari Pulau Weh sampai Kota Merauke. Kalo
misal kita lihat, ada gak negera lain yang punya suku sebanyak kita? Enggak!
Belum lagi soal bahasa, udah gak kehitung berapa bahasa yang ada di Indonesia.
And for your information, Papua adalah pulau dengan bahasa terbanyak di dunia.
Bayangkan aja, setiap suku di Papua punya bahasanya masing-masing. Bicarain
juga soal kepercayaan yang ada di Indonesia, pake Sensus juga mungkin susah
dihitung. Dan masih banyak hal-hal yang membuat kita super duper heterogen.
Tapi, ada satu pertanyaan yang muncul dari keadaan heterogen
negeri ini. Apakah rakyat Indonesia sudah menerima keadaan heterogen tersebut?
Kalo menurut saya pribadi, rasanya rakyat Indonesia masih
belum bisa beradaptasi dengan keadaan ini.
“Kenapa lu berani bilang rakyat kita belum bisa menerima
keadaan yang heterogen!?” Yaahhh, gue berani bilang gitu karena memang banyak
buktinya. Banyak banget aksi-aksi yang secara tersirat meyampaikan bahwa mereka
‘anti-heterogen’.
Mau dijabarin buktinya? Ayo, gue kasih satu-satu ke kalian.
Kalian tentunya masih ingat dengan kasus GKI Yasmin, bukan?
Yap, kasus ini seputar pembekuan IMB pembangunan GKI Yasmin. Akibatnya, umat
Kristen GKI Yasmin melakukan ibadah di trotoar-trotoar jalan di Kota Bogor.
Alasan pembekuan IMB pembangunan GKI Yasmin sih katanya karena ada pemalsuan
tanda tangan. Tapi, kenapa mau bangun tempat ibadah saja harus dipersulit?
Satu lagi nih. Kalo kalian masih ingat, seorang Lurah Lenteng
Agung, Susan Jasmine Zulkifi, diprotes oleh warganya sendiri karena dirinya
bukan penganut agama Islam. Alasannya sih macam, mulai dari gak bisa hadirin
pengajian, tidak mengucapka assalamualaikum dan lain-lain.
Dari sisi etnis juga ada. Mungkin, diskriminasi terhadap
etnis Tionghoa sudah terjadi dari dulu. Bayangkan aja, sudah banyak aksi-aksi
diskriminatif yang diterima, seperti prngucilan, tidak dianggap, sampai yang
paling parah pembakaran rumah. Tapi, itu pas masih jamannya Orde Lama.
Untungnya, saat pemerintahan Gus Dur, Imlek ditetapkan sebagai hari libur
nasional.
Mau lagi buktinya? Kalian pasti tau OPM kan? Yap, Organisasi
Papua Merdeka. Mereka menyerukan agar Papua memisahkan diri dari NKRI. Penyebabnya?
Lagi-lagi karena masalah etnis. Orang Papua merasa bahwa mereka berkulit hitam,
sedangkan orang ‘Indonesia’ berkulit putih, sehingga mereka sudah merasa
berbeda dari ‘Indonesia’.
Dan masih banyak lagi hal-hal anti heterogen yang terjadi di
sekitar kita. Jadi, setelah lihat kasus-kasus tersebut, apakah kita masih
dibilang bisa menerima keadaan super heterogen? Jawabannya mungkin dari
masing-masing dari kalian. Apakah kalian bisa menerima perbedaan itu atau gak.
Itu semua tergantung dari diiri kalian.
“Banyak bacot lu! Emang tau apa soal heterogen? Emang lu
pernah tinggal di daerah heterogen? Lu paling cuman omong doang!”
Gue tinggal di daerah yang sangat heterogen. Gimana gak, gue
lahir di Papua, dimana ‘pendatang’ merupakan minoritas termasuk gue juga. Dan
juga, Kristen merupakan agama mayoritas di Papua dan gue adalah Muslim. So, gue
gak bakal ngomong kayak gini kalo misal gue gak alamin sebelumnya.
So, buat kata-kata penutup, harapan gue buat Indonesia
kedepannya adalah bahwa tidak ada diskriminasi suku, ras dan etnis. Juga gue
berharap bahwa semua pemeluk agama bisa menjalankan ibadahnya tanpa harus
merasa was-was dan takut. Yang paling penting, gue berharap rakyat Indonesia
bisa menerima ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang sudah mendarah daging di negeri ini.
Well, as a close statement, I’M PRO HETEROGEN!
0 komentar:
Posting Komentar