Selasa, 08 Maret 2016

Sekelumit Al-Kafirun dalam Realita

Welcome back! Di hari-hari setelah masa vakum saya, sepertinya ada semangat baru untuk kembali menyiarkan kembali tulisan-tulisan saya melalui blog ini. Dan, tampilan blog saya pun berevolusi menjadi lebih enak dipandang daripada sebelumnya. Singkat cerita saya agak minder kermarin setelah melihat pembaca yang masih sedikit, lalu dengan dorongan ingin dibaca lebih banyak, saya mencari tahu di internet (re: bertanya mbah Google) dan akhirnya tampilan blog saya tampak lebih baru. Jadi, tidak usah berlama-lama, silahkan menikmati!

Jujur saja, saya agak malas membicarakan topik yang satu ini. Selain juga saya memang bukan orang yang terlalu tahu tentang agama, saya juga malas ribut hanya karena ini. Namun, saya melihat harus mengungkapkan isi pikiran saya tentang topik yang satu ini. Bagi yang menganut agama Islam sendiri, Al-Kafirun merupakan salah satu surah dalam kitab suci Al-Qur’an. Isi surah Al-Kafirun adalah kompromi kaum kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka membuat perjanjian, jika Muhammad menyembah Tuhan mereka, maka mereka pun akan menyembah Allah SWT. Maka, diturunkanlah surah Al-Kafirun.

Mungkin agak kurang “srek” bagi saya jika membicarakan satu agama saja dalam konteks yang universal. Jadi, intinya bahwa yang ingin saya bahas disini adalah ayat ke-6 dari surah Al-Kafirun yang bunyinya seperti ini:
“Lakum diinukum waliya diini”

Atau terjemahan dalam bahasa Indonesia menjadi seperti ini:

“Bagimu agamu dan bagiku agamaku”

Well, ayat ke-6 tersebutlah jawaban Allah SWT terhadap kaum kaum kafir Quraisy. Agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku. Tak perlu saling melengkapi. Dan hal inilah yang saya lihat di kehidupan sehari-hari. Banyak orang kadang di sekitar saya sering menggunakan agama lain dalam candaannya, jadi ini jawaban atas tindakan kebanyakan orang. Tidak perlu kita saling menggubris satu sama lain. Tidak perlu juga kita saling bergesekan satu sama lain.

Bagi pribadi saya, membenarkan satu agama adalah hal yang privasi. Kebenaran tak perlu dipaksakan. Jika kita benar, ya laksanakan kebenaran kita. Jika mereka benar, ya biarkan mereka menikmati kebenaran mereka. Menjadikan kita homolog hanya akan berujung pada ketidakseimbangan. Hasilnya, terjadilah hal-hal yang tak dinginkan bagi sang pembela homolog.

Selama ini, banyak persepsi orang menyatakan bahwa kedamaian hadir dalam bentuk kebenaran yang absolut. Tetapi, bagi saya pribadi, kedamaian hadir dalam bentuk diam. Ya, hanya dengan kita tidak saling membenturkan demi mencari kebenaran pun akan menghasilkan tentram yang mendamaikan. Bukan tempat kita sebagai hakim bahwa sesuatu salah atau benar. Hanya Sang Pencipta yang punya hak prerogatif itu. Jadi, jalankan saja kebenaranmu dan nikmati kebenaranmu


Sekian dulu dari tulisan saya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya jika saya mempaut-pautkan salah satu agama dalam tulisan saya. Murni tulisan saya hanya untuk tempat menyalurkan ide saya. Terima kasih atas waktunya dan sampai jumpa! 

0 komentar:

Posting Komentar