Minggu, 29 Desember 2013

Jadi anti-mainstream? Siapa takut!

Anak-anak zaman seringkali menggunakan istilah "mainstream". Bagi mereka "mainstream" sama dengan hal yang sudah menjadi kebiasaan. Seringkali kita dengar ucapan seperti "Itu udah mainstream banget." atau "Udah terlalu mainstream.". Tetapi, apakah mengerti maksud sebenarnya dari kata "mainstream" itu? Menurut saya, "mainstream" itu seperti rutinitas yang monoton. Sudah terlalu sering kita melakukan hal tersebut sehingga telah menjadi kebiasaan. Mungkin bagi kebanyakan orang, "mainstream" sama saja jalan aman. Dengan kita memasuki jalan aman, kita tak perlu lagi merasa khawatir. Tetapi, ada satu pertanyaan yang akan muncul di pikiran, "apa dengan mengambil "jalan aman" saya bisa maju?". Berpikir "mainstream" hanya akan membuat kita melakukan sesuatu dengan aturan yang sudah ada. Dengan aturan yang sudah ada itu, kita merasa bahwa kita akan aman, tetapi sebagai konsekuensinya, kita tak akan bisa bergerak maju ke depan. Jika kita akan sesuatu hal yang baru dengan tetap berpikir "mainstream", tentu saja kita akan merasa hal yang baru itu akan membahayakan kita. Kita akan selalu merasa was-was dengan berbagai konsekuensi yang akan terjadi akibat hal baru tersebut. Kalau begitu, bagaimana mengatasi pikiran "mainstream" tersebut? Mudah saja, kalau kita mau berpikir "anti-mainstream". Dengan berpikir "anti-mainstream", kita tidak usah repot-repot memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi jika kita melakukan hal yang baru. Kita hanya perlu fokus terhadap hal baru yang akan kita lakukan. Dan dengan begitu, kita bisa bergerak maju ke depan. Sebagai contoh orang yang menganut pikiran "anti-mainstream", Raditya Dika. Raditya Dika merupakan seorang entertainer dan penulis. Dia memulai debut sebagai penulis dengan meluncurkan novel Kambing Jantan. Lalu, apa hal yang membuatnya "anti-mainstream"? Biasanya, novel berisi tentang cerita percintaan atau perjalanan hidup dengan bahasa yang sangat baku. Tetapi, Raditya Dika menyangkan bahwa novel tidak harus tentang percintaan dan harus menggunakan bahasa yang baku melalui bukunya. Isi buku karya Raditya Dika tersebut berisi tentang kehidupan sehari-hari Raditya Dika dan menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak terlalu menyusahkan pembaca. Mungkin orang yang berpikir "mainstream" akan mengatakan "apakah mungkin buku seperti itu akan laku di pasaran?". Tetapi, buktinya Raditya Dika bisa sampai menerbitkan 6 bukunya. Jadi, kesimpulan yang bisa diambil adalah orang yang berani berpikir "anti-mainstream" berarti dia berani untuk mendapatkan kesuksesan. Sekian dari saya hari ini, Konnichiwa minna-san ! :) 

0 komentar:

Posting Komentar