Sekolah merupakan tempat orang-orang
untuk mendapatkan pendidikan secara formal. Di sekolah, kita mendapatkan
pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan apa saja yang bisa dipelajari di
sekitar kita, mulai dari lingkungan, manusia, teknologi, moral dan sebagainya.
Selain juga sebagai tempat menimba ilmu, sekolah juga merupakan salah satu
saksi atau juga tempat kejadian dimana seorang anak menjadi lebih berkembang
atau telah matang.
Namun, di zaman era globalisasi yang
semunya serba menggunakan teknologi ini, sekolah-sekolah di Indonesia telah
berubah juga menjadi sebuah komunitas sosial. Kenapa? Sekolah sekarang ini
tidak lagi berfungsi utama sebagai tempat mencari ilmu, tetapi juga tempat
ajang formalitas belaka para siswa, orang tua sisiwa, maupun guru. Orang di
zaman sekarang tidak lagi memandang semua sekolah itu sama. Kadang, anak-anak
yang akan masuk sekolah akan menimbang masuk sekolah dari ranking sekolah
tersebut. Jika memang anaknya pintar, mungkin saja beruntung bias masuk ke
negeri. Jika memang kemampuan akademiknya standar, orang tua mencarikan
sekolah-sekolah swasta yang bertaraf internasional untuk anaknya mengenyam
pendidikan. Nah, disini kita lihat bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mengenyam
pendidikan, tetapi juga sebagai tolak ukur sejauh mana baik dari sisi kemampuan
akademik maupun juga kemampuan harta.
Selain juga sebagai alat tolak ukur,
sekolah juga hanya menjadi alat gengsi. Mengapa? Sebagian dari kita pastinya
malu ataupun gengsi jika masuk ke sekolah yang istilahnya tidak favorit dan
juga tidak mempunyai prestasi yang banyak. Banyak dari kita akan berusaha
sebisa mungkin untuk masuk sekolah yang favorit dan unggul. Dengan masuk
sekolah yang favotit dan unggul, kita mungkin saja bisa merasa disegani dan
mempunyai cukup percaya diri di masyarakat karena kita masuk sekolah favorit.
Nah, disini terjadi kekeliruan yang
besar yang sedang terjadi di masyarakat. Sekolah sekarang ini mungkin saja
sudah berubah fungsi yang tadinya tempat mencari ilmu menjadi tempat mencari
gengsi. Orang tua sering berpikir bahwa
sekolah yang bagus bagi anaknya adalah sekolah yang terbilang favorit dan banyak
prestasinya. Persepsi soal sekolah yang bagus ini yang sering disalah artikan
oleh banyak orang tua. Merepa berpikir juga jika anaknya sekolah di sekolah
yang tidak favorit maka anaknya tidak bisa menjadi lebih pintar.
Sebenarnya, semua sekolah adalah
sama. Mereka semua mengajarkan mata pelajaran yang sama. Hampir semua sekolah
juga mempunyai kualitas guru yang sama baiknya. Kurikulum yang digunakan kan
juga tidak ada beda.
Mulai dari sini kita harus memandang sekolah
daris segi tempat mencari ilmu. Sebenarnya, sekolah yang baik merupakan sekolah
juga berawal dari para siswanya. Siwa yang dapat dengan rajin mencari ilmunya
di sekolah pasti juga akan meningkatkan nama sekolah. Namun sekekali lagi,
favorit ataupun tidak itu tidak penting. Ynag terpenting adalah bagaima orang
tua dapat membimbing anaknya dalam mencari ilmu di sekolah, mau itu di sekolah favorit
maupun di sekolah yang bisa dibilang tidak favorit. Semua itu sekali lagi
kembali masing-masing anak yang mencari ilmu. Jika memang anak tersebut serius
mencari ilmu, di sekolah yang tidak favorit sekalipun, tetap saja dia akan
berhasil karena pada dasarnya bukan sekolah yang mempengaruhi seorang anak
dalam keberhasilannya, namun seorang anak akan berhasil itu dilihat dari usaha
dan niat anak dalam mencari ilmu untuk masa depannya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus